
Paman Sam terduduk sendiri di kursi kebesarannya yang selalu ia banggakan dan selalu tak ingin ia lepaskan. Butuh proses dan perjuangan yang panjang serta usaha keras untuk berada di titik ini. Waktu, masa muda dan keluarga telah ia korbankan demi sebuah hidup yang lebih layak untuk keturunannya kelak.
Namun, saat semua itu sudah ada di genggamannya kenapa justru ia tak merasa bahagia? Bukankah ini yang ia mau dan berusaha ia pertahankan mati-matian, tapi sekali lagi kenapa ia sama sekali tidak merasa bahagia atas apa yang ia miliki saat ini.
"Sunny... aku sudah berhasil meraih impian ku. Kau pasti bangga padaku kan, lihatlah aku sudah berhasil Sunny. Kita sudah menjadi keluarga kaya, kita bukan orang yang tidak berguna lagi. Hahaha..." Mulutnya bisa saja tertawa tapi wajah dan hatinya tidak bisa menyembunyikan kepedihannya.
Setetes air mata tiba-tiba mengalir begitu saja, melewati kulit wajahnya yang telah keriput. Dia memandang foto mendiang istrinya lamat-lamat, wajah cantik yang dulu selalu mendukung apapun yang ia lakukan. Tapi sayangnya di sisa-sisa hidupnya, paman Sam malah sibuk dengan pekerjaannya tanpa peduli dengan nya.
Paman Sam mengingat kenangannya dulu saat mereka masih bersama, Daren masih kecil. Dulu mereka hidup serba kekurangan, makan seadanya kadang setiap hari hanya makan ikan dari hasil tangkapan paman Sam yang dulu bekerja sebagai nelayan.
"Ayah, Daren hari ini dapat nilai 10 di sekolah. Guru bilang Daren anak yang pintar, kalau sudah besar nanti Daren ingin menjadi pengusaha sukses agar ayah dan ibu bisa duduk di rumah saja." Daren kecil begitu patuh saat itu, di rumah maupun di sekolah selalu membuat kedua orangtuanya bangga.
"Hebat sekali anak ayah, nanti kalau ayah punya uang. Ayah akan belikan Daren mainan yang bagus." Paman Sam mengusap lembut kepala putranya, kebanggaan nya dan sang istri.
"Tidak ayah, Daren tidak ingin mainan apapun. Daren hanya ingin ayah dan ibu selalu jaga kesehatan agar bisa menemani Daren terus sampai besar nanti."
"Ya ampun, anak ibu baik sekali. Ibu pasti sudah banyak melakukan hal baik di kehidupan sebelumnya sampai mempunyai anak sebaik ini di kehidupan ini yang sekarang." Sunny, ibu dari Daren. Sangat baik dan pengertian pada suaminya. Tidak pernah meminta atau menuntut apapun pada suaminya.
Sampai suatu hari, Daren jatuh sakit dan mereka sama sekali tidak punya biaya untuk berobat. Paman Sam pun mendatangi keluarga nya yang telah mengusirnya dari rumah karena nekat menikahi wanita yang tidak sesuai dengan keinginan ayahnya, kakeknya Daren.
"Pergi kamu dari rumah ini, gara-gara kau rumah ini jadi bau amis seperti ini." Sang adik pun ikut membencinya.
"Aku ingin bertemu dengan ayah, kakak mohon. Daren sakit parah, dia butuh berobat. Tolong ijinkan aku masuk." Paman Sam mengiba dan memohon untuk memasuki rumah yang selama ini ia tinggali.
__ADS_1
"Mau apa, palingan juga minta uang. Salah kakak sendiri tidak mau mendengarkan kami. Sekarang hidup kakak menderita kan, itu karena kakak melawan perintah orang tua." Paman Sam malah hanya mendapatkan hinaan. Dia harus kembali dengan tangan kosong karena tak sempat bertemu ayahnya.
Minta tolong pada tetangga dan teman pun tidak ada yang mau memberikan pinjaman. Sampai akhirnya Daren semakin parah dan paman Sam pun nekat membawa nya ke rumah sakit.
"Tapi bagaimana dengan biayanya?" sang istri cemas. Mau menggadaikan barang pun tidak punya, rumah pun hanya menyewa.
"Tenang saja, yang penting sekarang Daren selamat."
Sampai di rumah sakit, Daren langsung ditangani. Untunglah tidak terlambat karena kalau sampai terlambat mungkin nyawanya tidak tertolong lagi.
"Kamu Sam kan? Anaknya Frans?" tanya seorang dokter pada paman Sam waktu itu.
"Iya pak, apa anda mengenal ayah saya?"
Itulah awal pertemuan paman Sam dengan kakeknya Daniel. Paman Sam pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan penyebab ayahnya tak pernah hadir itu karena dirinya. Ayahnya malu karena Sam satu-satunya harapannya malah menikah dengan wanita miskin. Pada saat itu status dan kedudukan sangatlah penting.
"Tenang lah nak, anakmu pasti baik-baik saja. Tidak usah memikirkan biaya, aku yang akan menanggung nya karena dia juga cucuku. Mulai sekarang bekerjalah di rumah sakit ini, kebetulan paman sedang membutuhkan banyak pegawai."
Mulai saat ini paman Sam mulai bekerja di rumah sakit itu, apa saja ia kerjakan tanpa pandang bulu. Para dokter dan perawat pun sangat senang dengan kinerja paman Sam. Sampai suatu ketika salah satu cabang rumah sakit kakeknya Daniel yang di kota lain menangani wabah yang ada di sana.
Paman Sam dengan suka rela mendampingi kakeknya Daniel dimana pun ia berada. Dia tidak takut dan selalu membantu kakeknya Daniel dalam hal apapun.
Dari saat itu juga waktu untuk keluarga paman Sam mulai sangat berkurang. Tapi sang istri dan Daren masih mengerti karena paman Sam sedang bekerja demi mereka. Walaupun terkadang Daren kecil sering menanyakan ayahnya.
__ADS_1
"Selamat nak, kau di angkat menjadi manager." Kakeknya Daniel tak segan mengangkat jabatan paman Sam. Di lihat dari kerjanya dan paman Sam juga seorang sarjana.
Kehormatan dan sanjungan pun mulai paman Sam dapatkan, keluarga nya pun mulai menerimanya. Tapi hal itu membuat nya lupa diri. Dia tidak lagi perhatian pada keluarga nya. Hanya pekerjaan yang ada di hatinya. Daren kecil dan ibunya sering hanya tinggal berdua di rumah yang bagus dan besar yang berhasil paman Sam beli. Tapi bagi mereka rumah itu seperti sunyi dan dingin tak seperti rumah sewa yang dulu mereka tempati.
Sang istri mulai banyak melamun karena sang suami jarang pulang dan terkadang terlihat di televisi bersama wanita yang katanya rekan kerjanya. Keluar suaminya juga masih menekannya agar meninggalkan putra mereka.
Karena hal itu lah akhirnya jadi pikiran yang membuatnya jatuh sakit. Daren kecil menyaksikan bagaimana ibunya sendiri meregang nyawa.
"Ayah jahat... ibu terus menangis setiap hari karena ayah. Ibu kesakitan karena ayah... ayah jahat..."
Dari saat itulah Daren berubah menjadi pemberontak, bukan anak yang dulu penurut dan berprestasi lagi. Dia lebih suka membuat masalah di sekolah.
Paman Sam menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya saat teringat masa lalunya bersama sang istri dan anaknya. Masa dari mereka masih sangat bahagia sampai saat mereka tak mengenal lagi satu sama lain.
"Sunny, apa yang aku lakukan ini salah? Aku hanya ingin kita tidak dianggap sebelah mata lagi oleh orang-orang. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku hanya bekerja keras agar kita bisa hidup lebih baik, tapi kenapa kau dan Daren jadi menderita."
"Kau berlebihan, sudah aku bilang kalau kamu tidak butuh demi itu. Kami butuh dirimu... aku sudah pergi jauh, jangan sampai kau juga kehilangan putranya, Sam."
Tiba-tiba bayangan sang istri muncul di depannya dan mengatakan hal itu.
"Sunny, kau kah itu...? sayang akhirnya kau datang... jangan tinggalkan aku lagi istriku."
"Terlambat suamiku, kau sudah terlambat menyesali semuanya. Aku harap kau tidak terlambat kali ini. Daren putraku sudah bahagia bersama keluarga kecilnya, aku bangga padanya sudah tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang keluarga."
__ADS_1