Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
77. Memikirkan Mantan


__ADS_3

°°°


Mereka sudah kembali ke kamar masing-masing yang sudah dad Alex siapkan.


Mia senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya. Kejadian di balkon tadi membuatnya terus mengingat.


Ya ampun kenapa aku jadi mengingat hal itu lagi. Tadi itu sangat memalukan, bagaimana aku bisa menikmatinya. Aaahhh... Mia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kak kau kenapa?" Felice yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, menatap heran pada kakaknya.


"Hah... tidak. Memangnya kenapa, apa kau sudah selesai? Kakak juga mau membersihkan diri."


"Jangan kira tadi aku tidak melihat apa yang kalian lakukan ya." Felice melipat kedua tangannya sambil menyipitkan mata.


"Memangnya apa yang kamu lihat?" tanya Mia, karena dia tidak tau kalau adiknya tadi melihat mereka.


"Aahhh sudahlah, kalian ini selalu saja membuat ku iri." Felice berlalu ke arah ranjang sambil mengibaskan tangannya.


Kenapa dengan anak itu. Tak mau ambil pusing, Mia pun segera masuk dalam kamar mandi.


,,,


Sementara mamah Emma tidur di kamarnya sendiri, ditemani oleh perawat yang selalu ada disampingnya. Tapi perasaannya tidak tenang saat mengingat mantan suaminya yang tadi sempat menenggak minuman beralkohol. Emma takut terjadi sesuatu pada Willy.


Apa aku cek saja ke kamarnya. Tapi bagaimana kalau anak-anak lihat, aku malu kalau mereka melihat.


"Nyonya, apa anda ingin beristirahat sekarang? Biar saya bantu anda," ujar si perawat.


"Tidak Lucy, aku masih ingin disini. Nanti aku bisa sendiri kalau sudah mengantuk, kau istirahat saja lebih dulu. Kau pasti lelah." Mamah Emma berada di dekat jendela, masih ingin di sana sampai pikirannya tenang.


"Tidak nyonya, sudah tugas saya untuk menemani anda. Saya akan duduk di sana, panggil saya kalau anda butuh sesuatu."


"Terimakasih Lucy."


Wanita yang bernama Lucy itu memilih untuk duduk di sofa sambil memperhatikan majikannya. Dia bisa saja tidur lebih dulu tapi dia digaji besar untuk pekerjaan ini, Lucy tidak ingin mengecewakan tuan Alex yang sudah berbaik hati memberikan pekerjaan ini, Sehingga ia bisa melunasi hutang-hutang ibunya dan menyekolahkan anak-anaknya karena ia seorang janda yang ditinggal suami tanpa kabar.

__ADS_1


Emma masih mencemaskan mantan suaminya dan ia mulai memikirkan cara agar bisa melihat keadaan pria itu. Dia pun melihat Lucy yang masih belum tidur, mungkin dia bisa meminta bantuan padanya.


"Emm... Lucy. Bisakah aku minta tolong?"


"Iya Nyonya, katakan saja." Lucy berdiri menghampiri Emma.


"Bisakah kau mengantarkan ku ke suatu tempat," ujar mamah Emma dengan ragu.


"Kemana Nyonya? Apa anda mau ke kamar putrimu?" tebak Lucy.


"Tidak Lucy, aku mau ke tempat lain. Bisakah kau mengantar kan?" mamah Emma menatap perawatnya penuh harap. Dirinya belum bisa tenang kalau tidak melihat sendiri bagaimana keadaan Willy.


Seperti dulu saat masih bersama, Emma selalu merawat suaminya walaupun pria itu seringkali bertindak kasar padanya. Apalagi sekarang saat laki-laki itu sudah berubah. Hati Emma yang lembut dengan mudahnya kembali bersimpati padanya.


"Maaf Nyonya, kalau anda mau ke tempat lain saya harus meminta ijin dulu pada nona Mia atau tuan Daniel. Saya tidak bisa pergi begitu saja Nyonya, kalau terjadi apa-apa pada anda saya tidak akan bisa menanggung resikonya." Lucy tertunduk, dia hanya takut aturan yang sudah ditetapkan sebelum ia mulai bekerja. Banyak pesan dari Mia dan Daniel yang tidak bisa ia abaikan.


"Sebentar saja Lucy, tidak lama. Setelah itu kita kembali lagi ke kamar ini. Apa kau mau Lucy?"


"Nyonya saya... saya sungguh tidak berani," lirih Lucy, dia merasa bersalah pada wanita tua seumuran ibunya. Tapi kemana sebenarnya dia ingin pergi kalau bukan untuk bertemu putri-putrinya, bagaimana Lucy bisa menolongnya dan mengorbankan pekerjaannya. Benak Lucy bertanya-tanya.


"Maafkan saya nyonya." Mata wanita itu sudah berkaca-kaca, salahkah dia yang begitu menjaga pekerjaannya. Ibu dan anak-anaknya butuh uang untuk makan dan keperluan lainnya tapi dia merasa sudah jadi manusia yang egois.


Maafkan saya Nyonya, saya harap anda mengerti. Saya sangat butuh pekerjaan ini.


Emma kembali memandang keluar jendela, dan memikirkan perasaan Lucy. Apa ia harus meminta ijin pada putrinya dan berbicara jujur kalau ia ingin menemui Willy. Bukankah putrinya sudah memaafkan papah mereka dan sepertinya tidak masalah kalau Emma mau kembali pada Willy. Tapi Emma tidak ingin melakukan hal itu, dia tau bagaimana perjuangan Mia dan dia tidak ingin dengan mudah memaafkan mantan suaminya.


Pintu kamar mereka tiba-tiba saja di Ketuk. Sementara Emma masih saja bergeming dengan pikirannya sendiri.


Lucy pun berinisiatif untuk membukakan pintu.


"Tuan... ?" cukup terkejut Lucy saat melihat pria yang ia ketahui adalah ayah dari nona Mia dan Felice yang artinya mantan suami nyonya Emma karena setau dia nyonya nya seorang janda.


"Apa Emma ada di dalam?" tanya Willy. Dia datang ditemani penjaganya.


"Nyonya ada di dalam tuan," ujar Lucy.

__ADS_1


"Bisakah aku masuk dan berbicara padanya?"


"Ini..." Lucy tampak berpikir, jika mengijinkan mantan suami nyonya Emma untuk menemui sang nyonya ada dalam aturan atau tidak.


"Siapa itu Lucy?" Mendengar seseorang datang tapi tak juga masuk membuat Emma penasaran, karena jika itu putrinya pasti akan langsung masuk.


Lucy terkesiap mendengar pertanyaan nyonya Emma. Kemudian menjawabnya ,"Ada tuan...?"


"Bilang saja Willy yang datang."


"Ada Tuan Willy Nyonya," ujar Lucy yang baru saja tau nama pria itu.


Emma terkejut saat mendengar mantan suaminya yang tadi ia pikirkan sudah ada di depan pintu kamarnya.


"Ijinkan dia masuk Lucy, aku tidak perlu pergi jadi kalau mengijinkan aku menerima tamu bukankah boleh."


Lucy, tak punya alasan lagi untuk menolak. Dia pun membuka pintu lebih lebar dan mengijinkan pria itu masuk ke dalam kamar. Setelah itu dia keluar dan memberikan ruang pada mereka. Sekarang ia tau kemana tujuan nyonya Emma tadi. Dia pun tersenyum, mungkin pilihannya tidak salah. Kalau mereka bersatu bukanlah nona Mia dan Felice akan senang.


Di dalam kamar.


Willy berjalan lebih dekat pada mantan istrinya yang selama ini ia rindukan.


"Kenapa kau kesini?" ketus Emma yang justru mendapatkan kekehan dari Willy.


"Kau sama sekali tidak pantas bersikap dingin seperti itu Emma." Masih terkekeh.


"Tentu saja bisa, putriku saja bisa bersikap sangat dingin pada orang asing. Aku ibunya, sifatnya pasti menurun dariku." Masih berpaling ke arah lain. Padahal hatinya berbunga-bunga saat ini. Mereka seperti sedang mengulang saat-saat pertama kali mereka bertemu. Memang benar kalau dulu Emma sangat dingin, sampai akhirnya Willy berhasil menaklukkannya dan membuat wanita itu penuh dengan kelembutan.


to be continue...


°°°


Siapa yang nungguin hari H 🤭🤭


Sabar ya... nanti tamat dong ceritanya kalau cepet-cepet. 😁

__ADS_1


__ADS_2