
"Bisakah besok dan seterusnya aku datang lagi?" tanya Daren membuat Lucy mendongak dan menatapnya penuh tanya.
"Maksud anda dok?"
"Aku ingin menemui Zoro lagi dan bermain dengannya. Apa boleh?"
"Tidak perlu dok." Lucy menggeleng. "Anda tidak perlu lagi repot-repot kemari."
"Kenapa tidak boleh? bagaimana kalau Zoro mencariku?" tanya Daren mendesak.
"Tidak akan, kalaupun mencari aku akan berusaha memberinya pengertian."
"Tapi kenapa, bagaimana kalau aku yang ingin bertemu dengannya?" Masih kekeuh.
"Tidak boleh! Cukup sampi disini saja dok. Tolong mengertilah, jangan lagi memberinya harapan dengan memberinya perhatian ataupun yang lain." Lucy mere-mas jari-jarinya, terlalu tega dan berat memang tapi dia harus melakukan itu.
Daren bangun dari duduknya, saat ini mereka sedang duduk di teras berdua setelah tadi Daren meletakan Zoro di kamarnya. Lucy pikir pria itu pasti akan pergi, baguslah ini yang terbaik untuk semuanya. Meskipun sejujurnya dari kemarin dia sempat berharap tapi dia segera menepis pikiran dan perasaannya yang mulai nyaman dengan kehadiran Daren.
"Apa yang anda lakukan dok?!" Lucy terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Daren berlutut di depannya. "Dok, bangunlah. Jangan seperti ini," pinta Lucy yang merasa tidak nyaman karena Daren saat ini begitu dekat dengannya. Apa lagi kalau sampai ada tetangga yang melihatnya.
Cup.
__ADS_1
Belum cukup pria itu membuatnya terkejut, sekarang hampir saja membuatnya serangan jantung. Bagaimana tidak kalau tiba-tiba saja pria itu membenamkan bibirnya pada bibir Lucy. Meski hanya sebentar tapi bisa mampu membuat gadis itu syok.
"Bisakah aku menjadi ayah untuk Zoro?"
Lucy yang sedang mamaku seketika membelalak mendengar pertanyaan konyol itu. Apa dia tidak salah dengar atau telinganya memang bermasalah.
"Anda bercanda? Sebaiknya anda pulang dok, sudah malam dan jangan pernah lagi anda bertindak seperti tadi," tegas Lucy.
"Tunggu Lucy." Daren meraih kedua tangan Lucy. " Aku sedang tidak bercanda, aku serius dan kau juga tidak salah dengar. Aku tulus menyayangi Zoro dan ingin menjadi ayahnya agar aku bisa bertemu dengannya setiap hari." Tidak ada kebohongan memang, wajah Daren juga tampak serius tidak seperti biasanya yang suka bercanda atau menggoda wanita.
Namun Lucy tidak bisa percaya begitu saja, apalagi pria seperti pada Daren yang suka menggoda dan mamainkan wanita. "Saya rasa anda salah dok, pulanglah dan anda pasti akan menyadari kesalahan anda dan menyesal setelah berkata seperti itu." Lucy menarik tangannya hingga terlepas, lalu bergegas membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana. Tapi sayang dia harus berbalik kembali karena Daren manarik tangannya hingga tubunya terjatuh di pelukan pria itu.
"Aku serius dengan ucapanku, tidak bisakah kau melihatnya," ujar Daren penuh penekanan, menatap manik mata Lucy begitu dalam. "Menikahlah denganku, karena aku juga mencintaimu."
Deg.
Bibir Lucy terkatup, tubuhnya membeku mendengar kalimat itu. Matanya melihat pria itu dalam, entah apa yang saat ini dia rasakan. Sampai tanpa ia sadari bibir itu lagi-lagi menempel bahkan lebih lama dari yang tadi.
Perasaan Daren pun sama, ia begitu berdebar saat ini. Padahal ia sudah biasa berdekatan dengan wanita, jangannya mencium bibir, mencium yang lain pun sudah. Tapi saat merasakan bibirnya menempel pada bibir wanita yang ada di hadapannya saat ini sungguh berbeda dari wanita yang pernah ia pacari. Ia pun mencoba melakukan lebih jauh dengan merasakan lebih dalam bibir itu, mulai menye-sap atas bawah bergantian, me-lu-mat sepuasnya. Baru pernah ia merasakan ciuman yang seperti itu, meski Lucy hanya diam saja tapi bisa membuat Daren merasakan perasaan yang luar biasa. Inikah rasanya berciuman dengan wanita yang ia cintai.
Daren tidak ingin mengakhiri itu, sungguh baru saja dia merasaknnya dia sudah kecanduan. Dia terus saja menikmati bi-bir Lucy. Dia yang sudah pandai tentu saja bisa mengatur nafasnya hingga lama, berbeda dengan Lucy yang merasa sesak. Wanita itu pun sedikit mendorong tubuh Daren dan menjauhkan kepalanya sehingga ciuman mereka terlepas.
__ADS_1
"Haa haa... cukup, aku tidak bisa bernafas." Lucy menunduk malu sambil mengatur nafasnya.
"Maaf... aku tidak bisa menahan diri, bibirmu sangat manis. Membuatku tak ingin melepaskannya," ujar Daren. Ibu jarinya mengusap bibir Lucy yang basah oleh cairan ludahnya. Dia ingin sekali kembali merasaknnya tapi dia harus menahan diri atau wanita itu akan takut padanya dan malah menolaknya. "Jadi kau mau kan?" tanya Daren.
"Lepaskan aku dulu, tidak enak kalau ada yang melihat." Pipi Lucy sudah semerah tomat, dia hanya menunduk tanpa berani bersitatap dengan Daren.
"Jawab dulu, baru ku lepaskan."
"Jangan seperti ini dok, mereka akan menggosipkanku lagi," lirih Lucy.
"Jadi kau mendengar semua ucapan mereka? kenapa diam saja?" Daren mengangkat dagu Lucy agar ia bisa melihat wajah cantik yang selalu membayanginya. "Kenapa kau tidak melawan mereka," ujar Daren lagi.
"Untuk apa? Melawan pun percuma, mereka akan kembali berbicara seperti itu."
Daren menarik Lucy ke dalam pelukannya, "Sekarang ada aku, jangan pikul semuanya sendiri. Aku juga akan membuat mereka tidak bisa berkata seperti itu lagi kalau kita sudah menikah nanti."
"Memang siapa yang mau menikah dengan anda dok? saya belum bilang mau, kenapa anda mengambil kesimpulan sendiri."
"Oh ya, tapi kenapa kau diam saja saat aku menciummu. Itu sudah cukup sebagai jawaban untukku." Daren tersenyum, sebahagia itu hanya baru saja diterima cintanya. Dia jadi merasa jadi anak remaja saja. "Oh iya, jangan panggil aku anda lagi. Panggil saja sayang atau apalah yang lebih romantis."
Mereka pun tertawa bersama
__ADS_1