Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 46. Maafkan Papi


__ADS_3

Lima tahun berlalu.


Daren dan Daniel berhasil mengembangkan rumah sakit hingga menjadi rumah sakit terbesar dan terbaik di Asia tenggara. Dua pria itu seperti pasangan yang tidak bisa terpisahkan. Yang satu dokter dengan segala keahlian dan kepintarannya yang juga berhasil menemukan berbagai metode pengobatan baru.


Dan Daren yang terkenal dengan kepempimpinan nya yang bijaksana dan tegas.


Saat ini Daniel juga membimbing banyak calon dokter muda yang berbakat. Memberikan mereka lebih banyak ilmu dan pengetahuan, serta memberikan fasilitas untuk mereka belajar langsung di rumah sakitnya. Ya di rumah sakit itu banyak sekali dokter magang yang belajar dari seniornya.


Sementara Daren, jika dulu dia selalu saja banyak ulah dan tengil. Saat ini dia lebih banyak diam dan bersikap dingin. Kalau tidak ada pekerjaan dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya, berdiam diri sambil memandangi bingkai foto yang ada di atas meja kerjanya.


Tepatnya setelah sang ayah meninggal dan juga istri beserta anaknya yang juga menghilang. Dia baru saja menyadari kesalahannya saat mereka tidak ada. Daren terlalu menyia-nyiakan apa yang sudah ada dalam genggaman nya. Tapi semuanya sudah terlambat, saat ia berlari mengejar. Mereka sudah tidak terlihat lagi, atau mungkin sengaja bersembunyi darinya.


Tidak ada yang tau bagaimana hancurnya Daren saat itu. Seharusnya dia selalu menggenggam tangan sang istri tapi dia malah melepaskan nya. Pikirannya terlalu kacau karena memikirkan keadaan sang ayah. Dan saat itu dia sadar kalau sang istri juga jauh lebih hancur karena pasti merasa apa yang terjadi karena dirinya.


Tes.

__ADS_1


Tak sanggup rasanya membendung air matanya saat mengingat hal itu. Dia sudah berusaha mencari bahkan Daniel dan ayahnya juga membantu tapi sama sekali tidak ada jejaknya.


"Kalian dimana sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa menemukan kalian. Maafkan papi, Zo. Semoga kamu tidak membenci papi."


Diusapnya foto itu, sudah lima tahun rasa sakitnya masih sama. Tidak ada kebahagiaan yang ada hanya rasa kehilangan, kerinduan dan penyesalan. Daren sama sekali tidak bisa melupakan istri dan anaknya. yang ada justru semakin merindukannya. Mungkin baru berapa bulan terakhir dia baru berhenti mencari karena mereka sedang membuka cabang rumah sakit baru.


Kalau ditanya, apakah tidak ada wanita yang berusaha mendekatinya? Tentu saja ada dan banyak tapi sama sekali tidak membuat Daren melihat mereka. Dia tidak pernah menanggapi mereka.


Klek.


"Kau sudah siap, ayo kita pergi sekarang." Daniel baru saja masuk dan seperti biasa pasti mendapati sepupunya sedang menangis sendiri. Dia sudah berusaha membantu mencari tapi belum juga ketemu.


"Itu salahmu yang selalu memanjakan putriku."


"Itu karena putrimu terlalu cantik seperti ibunya. Hahaha..."

__ADS_1


"Haii... jangan berani-berani melihat istriku."


Mereka bercanda sepanjang jalan. Daniel tenun tua kalau tawa itu hanya untuk menutupi luka yang Daren rasakan.


Daniel sudah punya dua anak, yang kedua seorang putri yang cantik seperti ibunya. Baru berumur dua tahun, dia sangat manja karena semua orang sangat perhatian padanya. Ya Daniel yang tidak punya banyak waktu dengan putra pertama nya karena di sabotase Daddy dan mommynya kini sangat memanjakan putrinya sampai kadang membuat Mia kesal.


Daren juga, untuk mengobati rasa kesepian dan rindunya. Dia ikut-ikutan memanjangkan putri Daniel. Jangan lupa dengan Felice dan mamah Emma. Putri kecil Daniel sudah seperti tuan putri, berbeda sekali dengan kakaknya yang sangat mandiri dan bijaksana di usianya yang sekarang.


"Ungkell... " Gadis kecil nan cantik itu berlarian di antara banyak nya orang.


"Ya ampun stop sayang... nanti kau jatuh." Mia memekik saat melihat putri kecilnya lepas dari genggamannya dan berlari tanpa tau keadaan.


"Hai keponakan cantik uncle." Daren dengan sigap menangkap tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam gendongannya.


"angkel Len, Jessii linddu angkel..."

__ADS_1


"Uncle juga merindukan mu sayang. Ayo kita masuk, uncle mau bertemu dengan aunty Felice dulu."


Daniel melongo, putri kecilnya sama sekali tidak meliriknya sedikitpun. "Lagi-lagi anakku disabotase. Sayang... sepertinya kita harus membuat satu lagi."


__ADS_2