Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
52. Jadi Calon


__ADS_3

°°°


Sudah hampir lima jam Emma berada di ruang operasi, tapi belum ada tanda-tanda selesai.


Dua wanita cantik masih menunggu di kursi tunggu dengan cemas. Keduanya tidak beranjak sedikitpun dari sana, tidak peduli perut yang belum diisi sejak pagi. Rasa cemas lebih mendominasi dari pada rasa lapar.


Saling menggenggam dan saling menguatkan, entah apa jadinya kalau mereka menghadapi ini sendiri.


"Kenapa belum selesai juga kak, apa masih lama? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mamah saat operasi. Ya ampun, membayangkan saja aku tidak sanggup," celoteh Felice.


"Huuussss... kau tidak boleh bicara seperti itu. Ingat kalau ucapan bisa jadi doa, apa kau mau terjadi sesuatu pada mamah seperti yang kau katakan tadi." Mia jelas lebih dewasa, bukan hanya umurnya tapi dari pemikiran dan sikapnya juga. Dia lebih tenang dan tidak mau menunjukkan kecemasannya pada sang adik.


"Tidak Kak, aku tarik kembali ucapan ku. Semoga mamah bisa sembuh seperti sedia kala." Felice langsung menepuk mulutnya yang sudah berbicara buruk.


Beberapa saat kemudian.


Pintu ruangan operasi terbuka, Daniel keluar masih menggunakan pakaian khas untuknya berperang di ruang operasi, pakaian dengan berwarna biru. Dia membuka maskernya dan berjalan ke arah Mia dan Felice yang kini juga tengah berdiri.


Dua wanita nampak tegang menunggu dokter membuka suara. Ingin rasanya bertanya duluan atau langsung masuk melihat keadaan mamahnya tapi mereka menahan diri mati-matian. Takutnya malah perbuatan mereka beresiko untuk mamahnya.


Daniel pun sama, wajahnya cukup sulit untuk ditebak. Sama seperti tidak ada lengkungan di bibirnya membuat suasana semakin menegangkan.


"Operasi nya berjalan lancar." Daniel baru menarik sedikit sudut bibirnya.


Dan satu kalimat itu sudah cukup membuat dua bersaudara itu lega, menghela nafas bersama-sama. Mengeratkan pelukan dan tersenyum haru. Hanya itu yang mampu menggambarkan perasaan mereka saat ini.


"Kamu dengar kan, operasi nya berjalan lancar," ujar Mia mengulangi perkataan Daniel, calon suaminya. Ya calon suami, setelah ia berhasil menyembuhkan mamahnya bukankah kini status nya resmi menjadi calon suami.

__ADS_1


"Iya Kak, aku bersyukur karena Tuhan tidak mendengarkan ucapanku yang buruk dan hanya mendengarkan ucapan ku yang baik-baik saja." Bagaimanapun dia masih kepikiran tentang ucapan kakaknya yang mengatakan ucapan adalah doa. Selama menunggu tadi tentu dia terus merapalkan doa apapun yang ia bisa untuk menarik kembali ucapannya.


Mia melepaskan pelukannya dan melonggarkan tubuh mereka. Diusapnya pipi sang adik yang sudah berderai air mata. Adik polosnya yang kadang menyebalkan tapi juga menggemaskan. Bagaimana tidak kalau ternyata sejak tadi sang adik justru sibuk memikirkan ucapan ucapan nya.


"Jangan menangis lagi, bukannya sekarang sudah lega. Operasi nya juga sudah selesai," ujar Mia. Aneh memang, adiknya itu masih saja menangis tersedu-sedu.


"A... aku me... nangis ba... hagia Kak," jawab Felice tergugu.


Lucu sekali anak itu, ahh iya dia adikku. Adik yang aku tau jarang menangis dan tidak begitu peka. Tapi hari ini, dia terlihat amat rapuh dari saat mamah mau melakukan operasi. Aku tau dia sebenarnya peduli, tapi tak begitu menunjukkannya.


Daniel pun membisu saat melihat bagaimana calon istri dan calon adik iparnya itu begitu senang padahal dia belum menceritakan apapun tentang operasi tadi. Tapi untungnya memang tidak ada masalah dan semuanya berjalan lancar, dan Emma punya harapan sembuh meski tidak seratus persen karena ada kemungkinan mungkin bisa kambuh.


"Terimakasih Tuan," ujar Mia yang masih memanggil dengan panggilan hormat pada Daniel.


"Kok Tuan sih Kak, kan sebentar lagi kalian akan menikah jadi ganti panggilannya gitu biar terdengar mesra," komen Felice, entah kemana perginya air mata tadi. Kini wajahnya sudah kembali cerah meski matanya masih sembab.


"Sssttt... cepatlah berterimakasih." Mia menyenggol lengan adiknya yang komentar sembarangan.


"Terimakasih kakak ipar," ujar Felice dengan senyum manisnya. Gadis bermata coklat sama seperti Mia itu menunjukkan sisi keimutannya.


Mia jengah melihat tingkah adiknya, baru tadi ia puji sekarang sudah bertingkah lagi. Ingin rasanya Mia menelan ludahnya sendiri, tak jadi memuji.


"Sama-sama, ini sudah tugasku. Kalian bisa menemui nyonya Emma nanti, saat sudah dipindahkan ruangan." Daniel senang, dia tidak memungkiri itu. Panggilan yang baru saja tersematkan untuknya membuat hatinya tiba-tiba ditumbuhi bunga.


Sekarang ia yakin kalau keputusannya untuk menikahi Mia itu benar, bukan hanya karena bentuk tanggung jawab saja tapi mungkin karena ada rasa yang sebenarnya sudah saling terpaut sejak malam itu. Malam itu bukan sekedar cinta satu malam tanpa sengaja memang takdir mempertemukan mereka dengan cara seperti itu.


Tah entah sejak kapan juga rasa ingin melindung dan membuatnya tersenyum itu tumbuh.

__ADS_1


Mia, wanita yang sama sekali tidak pernah Daniel bayangkan akan masuk dalam kehidupannya. Bukankah jodoh itu aneh, dia datang saat kita tidak mengharapkan dan pada waktu yang tidak kita sangka.


"Ya ampun tubuhku sakit semua," keluh seseorang yang tiba-tiba datang sambil memijat lengannya sendiri. Daren, pria dengan segudang prestasinya. Prestasi dalam mendapatkan wanita.


Sayangnya tidak ada yang menanggapi kedatangan dan keluhan pria itu. Pria yang kini redup pesonanya.


Astaga... apa kalian tidak melihat ku, pria tampan seperti ku kenapa tidak terlihat.


Bagaimana mau melihat Daren sedangkan Daniel sibuk memperhatikan calon istrinya, sementara kedua saudara itu masih saling memeluk erat.


"Hai... bro apa kau tidak lelah?" tanya Daren pada sepupunya dan hanya gelengan kepala ia dapat.


Daren pun curiga pada apa yang membuat sepupunya tak mau memalingkan wajahnya.


What!! Jangan bilang kalau Daniel juga suka dengan gadis yang ia suka. Bisa gawat, jangan sampai tali persaudaraan mereka putus hanya karena perempuan. Ehh tapi tunggu, tidakkah Daren melihat satu wanita lagi. Kenapa hanya Felice yang menurutnya sedang Daniel lihat.


Mungkin tidak ada yang akan menyangka kalau seorang Daniel dokter hebat yang pernah tinggal di luar negeri, incaran para gadis cantik itu akan melihat Mia. Tentu di luar ekspektasi Daren yang pikirannya dipenuhi oleh gadis-gadis cantik saja.


"Sini ikut aku, kita selesaikan ini Sekarang juga!" Daren menggeret lengan Daniel yang masih betah berada di sana.


"Ada apa, hal penting apa yang membuat mu mengganggu ku?" Kesal Daniel setelah mengibaskan tangan Daren dari lengannya.


"Ini sangat penting, menyangkut hubungan persaudaraan kita. Dan juga masa depanku." Daren memanas. Tidak bisa dibiarkan kalau sepupunya mendapatkan gadis yang ia suka. Selama ini ia sudah cukup mengalah saat ayahnya selalu membandingkan dirinya dengan Daniel. Tapi kali ini ia tidak mau mengalah lagi. Ia akan memperjuangkan gadis itu, gadis yang perlahan menyusupi relung hatinya.


to be continue...


°°°

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍😍


Gomawo 🤗🤗


__ADS_2