
°°°
Setelah sarapan pagi, ya sarapan benar-benar sarapan setelah pergulatan panas mereka di pagi hari tadi. Karena kedua kelelahan akhirnya Daniel memesan makanan dari luar untuk sarapan.
Saat ini keduanya sedang bersantai di depan televisi, duduk di sofa dengan beberapa cemilan di atas meja. Tidak menonton drama, keduanya lebih suka acara televisi seperti berita bisnis atau acara talk show.
Mia menyenderkan kepalanya pada da-da suaminya, sambil memakan cemilan yang Daniel pegang untuknya. Jangan lupa juga tadi setelah bercin-taaahh Mia enggan memakai lingerie lagi dan bersikeras memakai gaun yang biasanya ia pakai. Rasanya tubuhnya terlalu lemas kalau tiba-tiba mendapat serangan mendadak dari suaminya lagi. Meski ia juga menikmatinya tapi tubuhnya butuh beristirahat sebentar.
Daniel, pria itu akhirnya pun mengalah karena jujur ia pasti tidak akan tahan lagi kalau Mia kembali menggunakan lingerie.
"Kau mau minum lagi? Mau aku buatkan jus?" tanya Daniel yang melihat gelas berisi minuman milik istrinya yang sudah kosong.
"Hmmm boleh, tapi jangan pakai gula. Biarkan manis dari buahnya saja," ujar Mia.
"Tentu, itu akan lebih sehat. Nanti aku buatkan jus yang enak menggunakan resepku. Kau tunggu disini." Daniel mencolek hidung istrinya yang sedang mendongak menghadapnya. Ingin colek yang lain si, tapi takut kelepasan. Nanti malam lagi saja pikirnya, biar tenaga mereka pulih dulu.
Beberapa saat kemudian, Daniel kembali dengan dua gelas jus buah yang ia campur dengan yogurt. Diletakkannya jus itu di atas meja. Lalu pandangannya beralih pada sang istri yang terlihat begitu serius menonton televisi.
"Ada sayang, kenapa kau serius sekali melihatnya." Daniel menggodanya.
"Niel, lihatlah," tunjuk Mia pada layar televisi. "Barusan ada gempa bumi di sebelah daratan Utara Niel," lanjutnya.
__ADS_1
Daniel ikut melihat televisi yang sedang menayangkan berita bencana alam yang barusan terjadi. Dimana dalam tayangan itu memperlihatkan banyak bangunan yang porak-poranda dan roboh rata dengan tanah. Lalu banyak orang berlarian sambil menangis mencari keluarganya.
"Gempa bumi sebesar 7,4 skala richter baru saja terjadi di kota A. Gempa berpusat di daratan jadi tidak berpotensi tsunami tapi banyak sekali bangunan yang roboh akibat gempa itu. Banyak korban jiwa berjatuhan dan tertimbun bangunan yang roboh..." Seorang pembaca berita sedang meliput langsung keadaan di sana pasca gempa.
"Gempa susulan juga masih terjadi meski tidak sebesar tadi. Tapi para warga dihimbau agar segera mengungsi, mencari tempat yang lebih aman karena masih ada gempa susulan. Sekian laporan dari saya..."
Daniel masih terpaku, tentu saja sebagai dokter melihat begitu banyak orang terluka membuatnya terpanggil akan jiwa kemanusiaannya.
"Niel, kasihan sekali mereka. Semoga saja mereka bisa selamat dan segera di temukan." Mia yang orang awam pun bisa merasakan betapa menderitanya para korban itu.
Daniel masih diam, bergeming di tempat. Sampai suara dering ponselnya mengalihkan perhatian nya. Ternyata panggilan dari rumah sakit, segera ia mengangkatnya. Pasti sesuatu yang penting karena dia sudah berpesan agar tak ada yang mengganggunya saat weekend tapi ini ada panggilan tiba-tiba, pasti itu hal penting.
"Aku angkat telepon dulu," ujar Daniel pada istrinya. Mia mengangguk mengerti.
"Baiklah aku akan segera ke rumah sakit sekarang." Setelah itu dia mematikan sambungan teleponnya.
Daniel beralih pada istrinya, ia takut membuat wanita itu kecewa karena sudah merusak liburan mereka dengan pekerjaan. Padahal dia sendiri yang sudah berjanji kalau akan bersamanya saat Weekend.
"Sayang... tadi ada panggilan dari rumah sakit..."
"Pergilah Niel," ujar Mia memotong ucapan suaminya. "Mereka membutuhkanmu, kau harus pergi sekarang." Meski tidak tau apa yang terjadi di rumah sakit tapi Mia tidak mau menjadi egois dengan menahan suaminya yang dibutuhkan banyak orang. Bagaimana kalau itu terjadi pada ibunya saat sedang kritis seperti dulu.
__ADS_1
"Mia... terimakasih dan maaf kalau aku mengacaukan hari kita." Daniel tidak bisa pergi begitu saja sebelum memastikan istrinya baik-baik saja.
"Kau sama sekali tidak mengacau, Niel. Kenapa kau bicara seperti itu. Kita masih bisa menginap disini lain waktu."
Daniel memeluk istrinya tiba-tiba, entah kenapa rasanya berat sekali meninggalkan sang istri. Tapi panggilan dari rumah sakit tidak bisa ia abaikan.
"Pergilah sayang, ada yang membutuhkanmu sekarang kau harus segera ke sana."
Daniel melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah sang istri dan membenamkan bi-birnya pada bi-bir sang istri. Lu-ma-tan kali ini begitu dalam dan penuh perasaan.
"Terimakasih atas pengertian mu..." Ujar Daniel.
Daniel segera bersiap, mengganti kaos yang ia pakai dengan kemeja yang tersedia di sana. Mia juga ikut mempersiapkan keperluan suaminya.
"Sayang, kau juga siap-siap. Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu." Daniel tidak akan tega membiarkan istrinya sendirian di sana.
"Tidak Niel, kau pergi saja. Kau sudah di tunggu. Aku bisa pulang sendiri nanti."
"Tapi sayang..."
"Pergilah Niel..."
__ADS_1
°°°