Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 20. Gejolak Bumil


__ADS_3

Mia datang ke ruangan suaminya dengan kesal karena mendapat tanggapan seperti itu dari Daren. Langsung saja dia masuk ke ruangan itu yang kebetulan memang tidak dikunci oleh Daniel.


Brak!! Mia membanting pintu dengan keras saat menutupnya lalu melipat tangannya di depan da-da.


"Dasar pria tidak peka, nanti kalau sudah pergi baru menyesal!" sungutnya yang masih saja emosi.


Sementara Daniel, tentu saja terkejut saat tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruangannya begitu saja tanpa mengetuk pintu. Karena kebetulan dia sedang mengganti kemejanya, sedang ber-te-lan-jang da-da saat ini. Baru saja dia mau marah karena mengira itu adalah sepupunya yang suka keluar masuk sesukanya.


"Sayang... ternyata kau, aku pikir siapa?" lega Daniel saat melihat sang istri tercintalah yang datang.


"Siapa? Memang kau sedang menuggu siapa? Apa ada wanita lain yang suka masuk kesini juga?" Ehh kenapa Mia jadi kesal pada suaminya.


Daniel yang sudah paham dengan mood wanita yang sedang hamil pun mengalah, kalau sudah dalam mode begini Mia pasti tidak ingin dibantah. "Sayang... apa yang membuatmu kesal seperti ini?" Mendekat lalu mengusap pipi sang istri, tak lupa membubuhkan ciuman di keningnya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku Dad, siapa yang suka datang kemari selain aku?"


"Tentu saja tidak ada, tadi aku kira itu Daren yang suka tiba-tiba masuk saat aku sedang ganti," ujar Daniel.

__ADS_1


"Kau tidak bohong kan, Dad?" tanya Mia, dia mengalungkan tangannya pada leher sang suami.


"Tentu saja, mana mungkin aku berbohong padamu dan anak kita." Mengusap perut buncit istrinya lalu kemudian tangannya mulai merayap ke belakang dan mengangkat tubuh sang istri.


"Dad! Kau nakal!" pekik Mia yang lalu semakin kencang berpegangan karena tidak ingin terjatuh dan membahayakan bayinya. "Aku berat Dad, biarkan aku jalan saja," ujar Mia yang tidak tega melihat suaminya harus menggendongnya.


"Apa kau mau mengomel di depan pintu sampai besok kalau aku biarkan. Kita duduk dulu dan ceritakan ada apa." Berjalan ke sofa tanpa merasa terbebani oleh tubuh istrinya yang menurutnya tidak berubah banyak. Hanya bagian tertentu saja yang tampak membesar yaitu perut sudah pasti dan dua bagian lainnya yang menjadi bagian favoritnya saat sedang ber-cin-ta.


Mereka sudah duduk di sofa saat ini tapi Daniel tidak membiarkan sang istri turun dari pangkuannya. Sementara bagian tubuhnya dibiarkan terbuka begitu saja membuat Mia harus meneguk salivanya sesekali karena otot-oto liat yang menggoda itu. Apalagi karena hormon kehamilannya membuatnya sering kali tak kuasa untuk menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.


"Mmm... bisakah kau lebih dulu memakai pakaianmu Dad. Setelah ini aku mau mengantarkan Lucy dan Zoro pulang, aku tidak ingin membuat mereka menunggu." Mia malu sendiri, pipinya memerah tapi mau bagaimana lagi memang bukan keinginannya sendiri jadi agresif seperti itu.


Daniel hanya tersenyum, memang itu tujuannya kan. Dia suka istrinya yang seperti ini, tidak malu-malu lagi. Kalau memang ingin ya bilang saja, dia akan dengan senang hati memberinya apa yang sang istri inginkan.


"Dad, kenapa kau malah senyum-senyum seperti itu. Aku serius Dad, pakailah kemeja mu lebih dulu sebelum aku lepas kendali." Mia memukuli dada suaminya pelan.


"Nanti saja, aku sedikit gerah. Kau bisa bercerita sekarang," ujar Daniel alasan saja.

__ADS_1


Ya ampun pria ini selalu saja membuatku seperti tersengat listrik, gumam Mia dalam hatinya saat tangan Daniel mulai merayapi di pipi dan lehernya. Mia pun mencoba mengalihkan perhatiannya dengan bercerita tentang Lucy, Zoro dan Daren yang menurutnya pria itu sudah mulai merasa nyaman dengan Lucy dan menyayangi Zoro tapi tidak mau mengakuinya.


"Kita tidak tau apa yang sebenarnya mereka inginkan sayang. Kita melihatnya seperti itu tapi kalau kenyataannya mungkin Daren tidak punya perasaan pada Lucy dan sebaliknya mau bagaimana. Kita juga tidak bisa memaksa mereka, biarlah mereka memutuskan apa yang menurut mereka baik." Daniel mencoba memberikan pendapat.


"Tapi Zoro itu sudah sangat cocok dengan Daren dan menyayanginya, apa selama ini Daren sama sekali tidak memiliki perasaan itu?"


"Mungkin saja Daren melakukan hal itu karena kasihan, atau hal lain. Dia itu tidak pernah serius pada sesuatu," ujar Daniel.


"Tapi Dad... aku rasa kita itu harus membantunya menyadari perasaannya." Mia memainkan jarinya di dada sang suami sambil memohon.


"Mereka sudah besar, pasti tau apa yang harus mereka lakukan. Kalau Daren memang menyukai Lucy, dia akan mengejarnya sampai ke rumahnya." Daniel menangkap tangan istrinya yang mulai nakal. "Sekarang kita selesaikan urusan kita lebih dulu," ujar Daniel menyeringai.


Mia sangat tau apa maksud suaminya tap dia tidak enak kalau harus membuat orang-orang harus menunggunya. "Dad, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sepertinya Lucy sudah selesai berkemas." Mia mencoba turun dari pangkuan suaminya tapi apalah daya kekuatan suaminya jauh lebih besar dan malah merengkuhnya semakin erat.


"Kalau sudah masuk kesini jangan harap bisa pergi begitu saja..." bisik Daniel di telinga Mia sambil tangan satunya bergerak menurunkan lengan dress yang bumil itu pakai. Dalam sekejap pun benda yang semakin besar dan menantang itu sudah ada di depan wajahnya. Membuat Mia merona malu karena sang suami terus memandangi ke dua da-danya dengan pu-*** yang juga sudah mengeras.


"Daadd... aakkhhh..."

__ADS_1


__ADS_2