
Mereka sudah duduk di ruangan ibu panti. Daren, Lucy beserta anak-anak mereka. Zoro terlihat sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan papinya lagi. Apa dia marah? Tidak, anak itu sama sekali tidak marah pada Daren. Mungkin dulu ia belum mengerti tapi seiring berjalannya waktu dia cukup memahami apa yang terjadi dengan mami dan papi nya.
"Jadi tuan ini ayahnya Zoro dan Carol?" tanya ibu panti.
"Iya nyonya, saya Daren. Maaf karena saya baru bisa datang kemari dan terimakasih karena anda sudah memberikan tempat tinggal dan kasih sayang untuk anak dan istri ku," ujar Daren sopan.
"Panggil saya Brenda, Saya dan anak-anak yang lain justru senang akan kehadiran Lucy, Zoro dan Carol disini. Kami sama sekali pernah merasa terbebani, adanya Lucy disini justru sangat membantu panti. Apalagi Zoro yang cerdas juga sudah pintar mengajari adik-adiknya di panti."
Daren merasa sangat bahagia mengetahui selama ini anak dan istrinya berada di lingkungan yang tepat dan dipenuhi cinta.
Namun, ada satu hal yang jadi masalah. Sejak tadi si kecil Carol belum mau menyapa papi kandungnya. Dia terus saja bersembunyi di balik punggung ibu panti. Lucy sudah berusaha membujuknya tadi gadis kecil itu belum juga mau keluar.
"Sayang, lihat itu. Bukankah Carol sangat ingin bertemu Papi. Lalu kenapa sekarang kamu malah bersembunyi." Ibu panti membantu Daren.
Carol menggeleng, "Carol sudah tidak mau papi, Carol hanya ingin mami. Papi selalu membuat mami menangis setiap malam," ujarnya lirih, rupanya selama ini diam-diam dia selalu mengintip saat ibunya menangis sendiri di tengah malam.
Daren yang mendengar nya pun langsung merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa dirinya telah membuat putrinya sendiri berpikir demikian. Artinya di hati sang putri kini hanya ada kebencian untuknya.
"Tidak sayang, Mami bukan menangis karena papi nakal, Tapi mami sama seperti kalian, mami juga merindukan papi sampai mami tak sengaja menangis." Ini salahnya yang terlalu ceroboh hingga membiarkan sang putri melihatnya menangis.
Daren menggenggam tangan Lucy, menenangkan sang istri agar dia tak merasa bersalah lagi. Meski dirinya sangat sedih karena sang putri tidak mau melihatnya.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menangis dihadapan anak-anak." Lucy tertunduk.
"Hussttt, tidak sayang. Kau tidak bersalah. Disini akulah yang bersalah karena tidak bisa menemukan kalian dengan cepat sehingga putriku berpikir demikian." "Tidak apa-apa, kita tidak boleh memaksanya. Aku akan membujuknya perlahan," ujar Daren. Membawa sang istri dalam pelukannya. "Jangan menangis lagi sayang, jangan sampai putri kita berpikir kau menangis karenaku saat ini."
"Zo, akan bantu membujuk adik mi, Pi... Adik pasti akan mengerti."
"Terimakasih Sayang, kau sangat baik. Terimakasih selama ini sudah menjaga mami dan adik selama papi tidak ada." Daren juga membawa Zoro dalam pelukannya dan itu tak luput dari perhatian Carol yang mengintip bagaimana kakaknya terlihat sangat dekat dengan laki-laki yang katanya papinya itu.
Beberapa saat kemudian. Dua truk besar sudah terparkir di halaman panti. Semua itu karena Daren yang memesan mainan dan banyak perlengkapan alat tulis serta lainnya untuk anak-anak panti.
"Semoga bisa bermanfaat untuk anak-anak, saya tidak bisa membalas kebaikan kalian tapi saya akan berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaik untuk panti ini." Rencananya Daren juga mau membangun panti yang baru yang lebih besar dan dekat dengan kota. Mungkin akan butuh waktu sampai bangunan yang baru selesai.
"Terimakasih Sayang, kau sudah membuat anak-anak tersenyum. Dan tidak ada yang lebih indah selain melihat senyuman mereka."
Lucy begitu bangga karena suaminya tak langsung membawa mereka pergi begitu saja.
"Terimakasih tuan Daren, sudah lama sekali saya tidak melihat mereka begitu bahagia." Mungkin karena letak panti yang terpencil sehingga sangat jarang mendapat perhatian dan bantuan. Sehingga kehidupan sehari-hari mereka cukup kesulitan.
__ADS_1
Carol dan Zoro pun dengan bahagia membagikan mainan yang papi mereka belikan. Kakak beradik itu sangat senang bisa melihat teman-temannya bahagia.
"Terimakasih Carol, kau sangat beruntung mempunyai papi tampan dan baik."
"Iya, kami sangat iri padamu."
Carol tersipu saat semua anak memuji papinya. Dia juga bangga pada sang papi diam-diam. Sebenarnya dia sangat bahagia, hanya saja ia terlalu malu untuk mengakui nya.
"Adik, apa kau tidak ingin memeluk papi? Kalau begitu biar kakak saja yang minta gendong papi," ujar Zoro pada adiknya.
"Kakak Zo sudah besar, papi tidak akan kuat menggendong kakak."
"Papi itu sangat kuat, papi pasti bisa menggendong kakak."
"No kak, kasihan papi. Biar Carol saja yang minta gendong." Tiba-tiba saja gadis itu berlari ke arah Daren. Dan memeluk nya posesif.
Tentu saja Daren terkejut, terlebih Lucy dan ibu panti. "Sayang... kau ..."
"Carol mau digendong papi, apa papi mau?" tanya gadis itu malu-malu.
"Ohh tentu saja sayang, sini..." Daren pun mengangkat tubuh putrinya dan sekarang berada dalam gendongannya. Tak hanya itu Daren juga memeluknya erat.
"Papi bahagia sayang. Sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan kalian. Kau anak gadis papi, kau sangat cantik seperti mami."
Ayah, lihatlah cucumu sangat cantik. Dia seperti ibu saat muda. Ya aku sudah berhasil menemukan istri dan anak-anak ku. Sekarang kau juga sudah bisa tenang di sana ayah.
Lucy dan Zoro pun ikut memeluk mereka, semuanya larut dalam kebahagiaan. Meski sempat hilang tapi waktu telah membuat semuanya jadi lebih baik sekarang.
Daren pun memboyong keluarga kecilnya ke kota, ke rumah yang sudah ia persiapkan.
"Apa Carol boleh membeli boneka Barbie yang banyak, papi?"
"Tentu sayang, beli apapun yang kamu mau."
"Adik, kau tidak boleh boros. Apa kau tidak ingat pesan mami." Zoro si bijak.
"Biarin... weeee...." Gadis itu berlarian mencari maminya.
"Sayang, hati-hati jangan terlalu keras memeluk mami. Nanti adik bayi sakit bagaimana," pekik Daren cemas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sayang." Lucy mengusap perut nya yang sudah kembali buncit. Ya dia saat ini sedang mengandung anak ketiga. Sudah Tujuh bulan tepatnya.
"Mi, adik bayi bergerak mi..."
"Mana Carol, papi juga mau pegang."
"Kakak juga mau..."
Lucy geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anak dan suaminya yang selalu saja heboh kalau menyangkut anak ketiga mereka. Tapi tentu saja bersyukur atas kebahagiaan yang mereka miliki setelah melewati perjalanan yang tidak mudah tentunya.
"Sayang, pokoknya anak ketiga kita harus lahir lebih dulu dari anak Daniel. Pokoknya aku tidak mau kalah lagi kali ini."
"Bagaimana bisa aku menyuruh anak kita lahir lebih dulu. Kenapa kalian masih saja tidak ada yang mau mengalah."
Dan hari ini di ruang bersalin pun di isi oleh dua pasangan yang sedang berjuang agar anak mereka lahir lebih dulu. Ya karena Daniel pun sedang menanti anak ketiga mereka.
"Ayo sayang... kau pasti bisa... ayo sayang... sedikit lagi anak kita keluar..." Daniel terus menyemangati istrinya. Meski harus rela menjadi pelampiasan kesakitan sang istri, cakaran dan jambakan sudah biasa Daniel terima karena ini kali ketiga dia menemani sang istri melahirkan.
Berbeda dengan Daren yang tampak kewalahan dan tidak menyangka kalau istri yang sedang melahirkan itu begitu menyeramkan. Wanita yang biasa nya lemah lembut itu hari itu mengamuk membabi buta pada Daren untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Aawww... sayang kenapa kau menjambakku... awww... rambutku bisa habis kalau kau tarik terus."
"Kalau begitu berikan tanganmu ..."
Daren pun menurut dan sedetik kemudian dia kembali menjerit. "Awwww..... aaa.... kau menggigit ku sayang ... aaaaa...."
"Oek... oek... oek..." Tangis ke dua bayi pun menggema di dalam ruangan. Tidak ada yang tau bayi siapa yang lebih dulu lahir ke dunia ini. Yang ada keduanya sibuk menangis haru begitu mendengar tangisan anaknya.
...The end...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih sobat-sobat othor yang masih mengikuti cerita ini sampai sejauh ini. Tanpa kalian othor nggak mungkin sampai sepanjang ini meneruskan cerita Daniel dan Mia beserta jajaran keluarga nya.
Terimakasih sekali lagi, semoga cerita othor membekas di hati kalian. 🙏🙏🙏
Sampai jumpa di cerita othor yang lainnya. Sampai ketemu di sana. Othor tunggu ya..😘😘😘
Ada Belaian Tante Jelita yang masih ongoing.
__ADS_1
Dan ada Bersabar Dalam Luka (Perjodohan) yang sudah tamat. Yuk cari di pencarian atau klik profil othor.