
Tiga hari kemudian.
"Kabar terkini. Telah terjadi gempa besar di kota A, dengan kekuatan 8,0 skala richter. Jauh lebih besar dari yang pertama terjadi. Kabarnya juga bukit yang ada di sekitar kota A longsor sebagian dan menimpa sebagian tenda pengungsian. Belum diketahui bagaimana keadaan para pengungsi dan para relawan yang ada di sana. Karena jalan satu-satunya menuju kota itu telah terputus oleh longsoran bukit."
"Demikian yang bisa saya sampaikan, kita tunggu perkembangan beritanya nanti setelah ada kabar dari reporter kita di sana...."
Prangggg!!!! Seketika Mia langsung berdiri lalu gelas yang ia pegang pun ia jatuhkan begitu saja dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan di televisi.
"Tidak mungkin!! Ini pasti bohong kan?"
Semua orang yang kebetulan juga melihat berita itu pun langsung menuju kamar Mia. Felice dan yang lainnya bahkan berlari menuju lantai atas, kecuali mamah Emma yang menggunakan lift.
"Kak Mia..." Felice melihat keadaan kakaknya sudah berantakan, air matanya sudah membasahi wajahnya. Dia pun segera menghampiri kakaknya. Dengan hati-hati Felice melangkah karena ada pecahan gelas di bawah kaki kakaknya. "Kak..." Direngkuhnya tubuh yang sudah bergetar itu.
"Itu bohong kan? Itu semua bohong kan? Katakan Fel!!"
"Kak... sabar dulu kak. Kakak ipar pasti baik-baik saja," lirih Felice yang juga tidak bisa menahan air matanya. Melihat sang kakak seperti itu tentu membuat Felice iba.
Mia masih saja terus menangis dalam pelukan adiknya.
Mamah Emma baru saja sampai di kamar Mia. Untunglah para pelayan dengan sigap membersihkan pecahan gelas itu sehingga tidak ada yang terluka karenanya.
"Nak..." Mamah Emma juga sama sedih nya melihat putrinya yang begitu terpukul dengan berita itu.
Mia melepaskan pelukannya lalu menatap mamahnya dengan berderai air mata dia pun menghambur ke pelukan wanita yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Daniel, Mah... Daniel baik-baik saja kan?" Mia terisak, tubuhnya bergetar hebat bukan karena pelepasan tapi karena begitu bersedih.
Mamah Emma pun sama bahkan hampir semua orang pun merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Mia.
"Mamah yakin suamimu baik-baik saja nak. Kita harus tenang untuk mencari tau apa yang terjadi, ingat di dalam perutmu sekarang ada calon anak kalian. Kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran nak." Mamah Emma mengusap punggung putrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang mah. Kalau berita di tv tadi seperti itu," ujar Mia yang masih terisak.
"Apa kau sudah mencoba menghubungi suamimu?" tanya mamah Emma.
"Baiklah sekarang kau duduk dulu, kita coba hubungi Daniel atau bertanya pada daddymu."
Mia pun melepaskan pelukannya, tapi tiba-tiba saja kepalanya berdenyut.
Tiba-tiba saja tubuh Mia terhuyung ke belakang, semua orang pun panik. Felice juga langsung berusaha memegang tubuh kakaknya, dibantu beberapa pelayan. Tubuh Mia pun benar-benar ambruk.Bersamaan dengan pandangan matanya yang mulai menggelap.
"Kak Mia!!" teriak Felice panik.
Beberapa saat kemudian.
Tubuh Mia yang pingsan sudah dibaringkan di ranjangnya. Dokter juga sudah memeriksanya, katanya Mia hanya syok dan terpukul makanya dia pingsan. Tubuhnya yang sedang mengandung membuatnya mudah sekali lemas.
Dad Alex dan juga mom Tania juga sudah ada di sana. Sebenarnya saat mendengar berita itu juga mereka langsung ke sana, tentu saja mereka mengkhawatirkan Mia yang mereka tebak pasti menantunya sangat terpukul.
Benar saja saat mereka sampai, Mia sudah pingsan.
__ADS_1
"Dad, bagaimana ? Apa kau sudah bisa menghubungi putra kita?" tanya mom Tania yang juga sangat mengkhawatirkan putranya.
Dad Alex menggeleng lemah. "Belum ada kabar Mom, orang suruhan kita yang ada di sana juga tidak bisa dihubungi. Tapi daddy sudah mengirimkan orang ke sana, tapi mungkin butuh waktu karena akses yang sangat sulit sekarang." Sebagai ayah dad Alex juga sama terpukulnya mendengar kabar itu.
"Pokoknya kau harus berusaha menemukan putra kita dad. Kasihan menantu kita juga, lihatlah dalam tidurnya pun terlihat sangat gelisah."
Beberapa saat kemudian, Mia mulai sadar dari pingsannya. Tubuhnya masih begitu lemas, matanya perlahan membuka.
"Daniel..." lirihnya.
"Sayang kau sudah sadar," ujar mom Tania yang ada di samping Mia.
"Mom...' Mia langsung menghambur memeluk mertuanya. "Daniel, mom... dia ..."
"Sabar sayang, kita tunggu kabar dari orang suruhan daddy ya..."
Hingga malam menjelang, belum ada kabar sama sekali dari kota A. Jalan ke kota itu benar-benar tidak bisa di akses oleh kendaraan darat. Dad Alex pun sudah mengirimkan bantuan lagi. Mengirimkan beberapa helikopter ke sana.
Mia sudah lebih baik dengan berkumpulnya semua orang membuatnya lebih tenang tapi sejak siang sama sekali belum mau makan. Hanya susu saja yang mau ia minum.
Tiba-tiba ponsel milik daddy Alex pun berdering. Semua orang pun tegang.
Dad Alex mengangkat panggilan itu.
"Hallo.. bagaimana? Apa kalian sudah menemukan putraku?"
__ADS_1