Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 54. Gadis Kecil itu


__ADS_3

Lucy sudah menceritakan apa saja yang terjadi padanya dan anak-anak pada Daren. Dia juga menjelaskan mengapa waktu itu ia pergi tanpa pamit.


Sepanjang perjalanan Daren memeluk istrinya, dia merasa sangat bersalah. Karena dirinya yang melupakan keberadaan istri dan anaknya lah semuanya jadi runyam. Seharusnya dulu ia terus menggenggam tangan istrinya dan bersama-sama menemui ayahnya. Dia juga minta maaf karena dulu Daren sempat menyesali keputusannya menikahi Lucy.


Sampai saat ayahnya mengatakan Lucy adalah wanita yang baik dan dia tidak mau di operasi karena sudah lega melihat Daren bersama orang yang tepat. Sang ayah juga berkata ingin segera berkumpul dengan almarhum ibunya. Jadi semua bukan karena Lucy maupun Daren.


"Maafkan aku sayang. Kalian pasti menjalani hari-hari yang berat. Maafkan aku karena tidak bisa menemukan kalian." Anehnya selama ini Daren sama sekali tidak bisa menemukan Lucy dan anak-anak padahal mereka berada tidak jauh darinya.


"Aku yang minta maaf karena meninggalkan mu di saat terberat mu," ujar Lucy yang tidak menyangka kalau ayah mertuanya ternyata telah tiada. Ia kira setelah ia pergi ayah mertuanya akan melakukan operasi tapi ternyata tidak. Dan Daren selama ini ternyata masih menunggunya. "Maafkan aku juga karena aku kira kau sudah melakukan kami dan memiliki keluarga baru." Ya yang tadi ia kira putri Daren ternyata salah. Dia ternyata putri kedua Mia dan Daniel.


"Tidak apa sayang, yang penting sekarang kau sudah tau kalau aku masih mencari dan menunggu kalian kembali." Daren mengecupi punggung tangan istrinya. "Oh iya sayang, kau belum menceritakan tentang putriku. Dia pasti cantik seperti mu kan? Apa dia cengeng, pasti Zoro menjaga adiknya kan? Aahh iya, sebaiknya kita berhenti di toko mainan." Daren tentu sangat antusias ingin bertemu dengan anak-anaknya.


"Tidak perlu sayang, kehadiran mu lebih mereka butuhkan dari pada mainan-mainan itu. Aku sudah tidak pulang semalam, mereka pasti cemas. Aku ingin segera sampai panti."


"Baiklah, kalau begitu kita langsung pergi ke sana," ujar Daren lalu memerintahkan pak supir agar mempercepat mobilnya.


Ya selama ini Lucy bersama ke dua anaknya tinggal di panti asuhan. Dulu mereka sempat Luntang lanting tidak punya tempat tinggal dan hanya bisa tidur di masjid atau teras-teras toko. Sampai pada waktunya Lucy akan melahirkan anak keduanya. Seseorang menolongnya dan ternyata dia adalah ibu pengurus panti.

__ADS_1


Lucy yang tidak punya tempat tinggal pun ditawari untuk tinggal di panti untuk sementara sambil membatu mengurus anak-anak panti. Beruntung ibu panti sangat baik dan membiarkan nya tinggal sampai sekarang, saat Lucy akan membawa anak-anaknya pindah pun tidak diperbolehkan. Katanya biar disana saja banyak teman dan sekalian ada yang jaga, Lucy jadi bisa sambil kerja.


"Sayang, maaf... aku tidak ada disaat-saat tersulit kamu. Maaf aku tidak ada di saat anak kita lahir ke dunia." Daren mengusap pipi istrinya yang terlelap di pundaknya. Lucy sepertinya kelelahan karena malam panjangnya dengan Daren.


Beberapa saat kemudian. Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan sebuah panti asuhan yang letaknya cukup terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota. Pantas saja Daren tidak menemukan istri dan anak-anaknya.


"Sayang... kita sudah sampai, lihatlah. Apa benar ini tempatnya?" Dengan hati-hati Daren membangun Lucy, mengecupi pipinya jahil. "Ayo sayang, aku sudah tidak sabar ingin bertemu anak-anak kita," ujar Daren lagi.


"Eeuughhh... apa kita sudah sampai?" Lucy mengucek matanya yang masih terasa lengket. Dia masih ingin sekali tertidur.


"Aa... Daren... turunkan aku. Nanti anak-anak lihat." Lucy memekik saat Daren tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan ia bawa ke atas pangkuannya.


"Tidak apa-apa, kalau kau masih mengantuk aku bisa menggendong mu." Ledek Daren sambil meremat pinggang istrinya.


"Kau masih seperti dulu. Menyebalkan..." Satu pukulan melayang ke dada bidang Daren. "Ayo turun, anak-anak pasti sudah menunggu."


Daren dengan erat menggenggam tangan istrinya, seakan tidak ingin kehilangan nya lagi. Sudah cukup lima tahun ini mereka terpisah. Sekarang tidak akan ia biarkan satu detikpun mereka terpisah.

__ADS_1


"Mami..." Panggil seorang gadis kecil, lalu dia berlari sambil menggendong bonekanya ke arah sang mami yang semalam tak pulang.


"Sayang..." Lucy pun langsung menyambut sang putri dengan merentangkan kedua tangannya.


"Mami dari mana? kenapa tinggal tinggal Carol..."


Gadis kecil itu mengadu, seakan telah sangat lama ditinggal sang ibunya.


"Hai sayangnya mami, Carol kan anak pintar tidak boleh menangis sayang. Mami tidak tinggalin Carol, mami hanya pergi bekerja." Lucy menyeka air mana nakal yang membasahi pipi putri kecilnya.


"Itu siapa mi? Apa paman ini ganggu ganggu mami lagi?" Carol langsung berdiri di depan maminya, seakan menjadi tameng agar Daren yang ia pikir pengganggu itu tidak bisa menyentuh maminya. "Paman siapa? Jangan ganggu ganggu mami. Mami itu sudah punya papi."


"Sayang, dia bukan pengganggu. Dia..."


"Papi..."


Semuanya pun menoleh pada seorang anak yang sudah sangat besar sekarang.

__ADS_1


__ADS_2