Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
151. Saat Bencana Terjadi


__ADS_3

Daniel, bagaimana keadaan pria itu saat ini dan dimana ia berada saat terjadi gempa berkekuatan dahsyat itu?


Tepat tiga hari yang lalu.


Flashback


Daniel bersama rekan-rekannya sudah selesai berkemas dan siap pulang karena keadaan di sana sudah sangat kondusif dan sudah bisa ditinggal. Nantinya masih ada petugas medis memang berasal dari sana.


"Bagaimana ? Apa semuanya sudah siap?" tanya seorang relawan asli penduduk kota itu. Dia yang akan mengangkut para relawan dengan mobil yang cukup besar lalu diantarkan ke bandara.


"Siap!" teriak merela bersamaan, mereka sangat bahagia akhirnya bisa pulang juga.


"OK, kalian bisa memasukan barang bawaan kalian lebih dulu ke dalam mobil." Cukup muat karena hanya barang-barang pribadi yang dibawa pulang, sementara alat-alat medis tetap disana untuk dipakai petugas medis yang masih bertahan di sana.


Pria itu kemudian menghampiri Daniel dan Daren yang ada di luar tenda.


"Tuan," sapanya pada Daniel, tentu saja dia tau siapa Daniel itu.


"Hmm..."


"Terimakasih, saya sangat bersyukur atas bantuan yang terus berdatangan pada kami semua dari perusahaan Starles. Semoga tuhan membalas semua kebaikan yang dilakukan tuan Starles dan para relawan yang sudah bersedia membantu kami," ucapnya tulus, bahkan matanya berkaca-kaca.


"Sama-sama, memang sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling membantu, iya kan, Ren?" tepuk Daniel pada pundak sepupunya yang wajahnya tampak suram tidak seperti yang lainnya.


"Haah...!! Iya iya betul itu." Cukup tersentak.

__ADS_1


"Baiklah apa kita sudah bisa berangkat sekarang?" tanya Daniel tentunya, bukan Daren yang sepertinya masih betah di sana.


"Tentu tuan, kita bisa berangkat sekarang."


Baru saja mereka mau berangkat, sebagian orang pun sudah masuk ke kendaraan tapi tiba-tiba langit menggelap. Petir pun menyambar bersahutan, sangat memekikan terdengar di telinga. Disusul hujan badai yang juga turun, angin kencang pun siap menerbangkan apa saja yang dilewatinya. Padahal saat itu siang hari tapi langit tampak seperti malam hari. Guncangan gempa yang begitu dahsyat pun menyusul.


"Astaghfirullah hal'adzim..." ujar pemuda tadi yang ternyata bergama islam. Dilihat dari pakaian dan kopiah yang ia pakai juga sudah terlihat.


"Ada apa ini?" panik Daren.


"Sepertinya akan terjadi sesuatu yang besar, kita harus segera mencari tempat perlindungan dari amukan Yang Maha Pencipta alam semesta bumi berserta isinya."


Daren sama sekali tidak paham dengan ucapan pemuda itu tapi entah kenapa kakinya mengikuti langkah pemuda itu. Kalau Daniel hanya diam, dia terlihat amat sangat tenang.


Tidak lama kemudian. Suara bergemuruh terdengar sangat keras. Bersahutan dengan suara dentuman yang juga terdengar begitu jelas. Semua orang diminta berdoa menurut kepercayaan masing-masing dan berserah diri apapun yang terjadi nanti. Mereka semua pun memejamkan mata sambil merapalkan doa yang mereka bisa, sambil bibir bergetar menahan takut dan air mata yang juga ikut menetes.


Suara-suara itu semakin mendekat. Yang penasaran pun membuka mata, dilihatnya gulungan tanah seperti tsunami setinggi beberapa kaki tapi berupa gumpalan tanah berlumpur bercampur dengan batu-batu besar dan pohon-pohon tumbang. Gulungan itu semakin mendekat dan menyapu apa saja yang dilewatinya. Kini gulungan itu pun bercampur dengan tubuh manusia yang terombang-ambing menghantam apa saja yang ada di sana.


"Aaaa..... apa itu?!"


"Lari... kita harus lari bukan berdiam diri disini menunggu ajal!!" teriak salah satu dari mereka.


"Tidak ada seorang pun yang keluar dari sini!" lantang Daniel tidak ingin  dibantah.


"Tapi kita akan mati tergulung seperti mereka." Masih bersikekeuh ingin keluar.

__ADS_1


"Sudah ku katakan kalian berdoalah, jangan hiraukan apapun di luar sana. Mereka bukan urusan kita lagi. Tugas kita di sini sudah selesai. Diam di tempat kalian kalau mau selamat."


Baru pernah mereka melihat sisi Daniel yang begitu tegas dan cukup menakutkan.


Tidak butuh waktu lama, gulungan lumpur itu sampai di tenda pengungsian. Mereka melihat sendiri tenda-tenda itu terbawa begitupun orang-orang dan semua yang ada di dalamnya. Anehnya ada satu tenda yang tidak terbawa dan itu justru yang kosong. Belum selesai mereka keheranan, ombak itu mendekat ke arah mereka. Tentu saja mereka panik, saling menggenggam tangan rekan mereka dan berdoa.


Wusshhh... Jedarrrr...


Ombak lumpur itu menabrak mobil itu, membawanya terombang-ambing. Anehnya lagi mereka tidak tertelan didalam ombak itu tapi justru berada di atas seperti sedang melayang. Hanya saja karena goyangannya terlalu keras jadi mereka terbentur bagian-bagian mobil, ada juga kaca yang pecah dan mengenai mereka tapi tidak ada yang terpental keluar karena mereka saling berpegangan dengan kuat, tentu itu adalah ide dari Daniel.


Sekitar lima belas menit fenomena itu terjadi, seperti yang dikatakan dalam berita, kota itu rata dengan tanah seperti lapangan.


"Sudah berakhir... ombak itu sudah berakhir..."


Mereka yang ada di mobil pun saling berpelukan, menangis haru dan tidak menyangka kalau biasa selamat dari hal yang sangat mengerikan itu. Semua orang berterimakasih pada Daniel dan pemuda itu. Kalau saja tadi mereka nekat keluar pasti tidak akan selamat. Meski luka-luka tapi lebih baik dari pada mati tergulung ombak itu.


Itulah mengapa mereka selamat, termasuk Daniel yang ikut berjasa. Korban yang meninggal sepertinya semuanya penduduk kota itu. Ada yang masih selamat dan mereka yang luka nya tidak parah pun mencoba menyelamatkan.


Naasnya korban yang ditolong itulah yang rakus dan menghabiskan sisa makanan yang tersisa dari bencana dahsyat itu. Tapi anehnya mereka seperti tidak pernah kenyang, saat memakan dedaunan pun mereka rakus seperti kambing. Itu sebabnya banyak dari mereka yang pada akhirnya mati juga karena tak kuat menahan lapar. Padahal sudah makan yang paling banyak.


Anehnya lagi, bagi para relawan tadi hanya memakan sepucuk daun muda saja sudah membuat mereka kenyang.


Inikah yang namanya, manusia akan mati karena keserakahannya.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2