Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 27. Takut dan Gugup


__ADS_3

"Sayang, sepertinya aku tidak bisa pergii," gugup Lucy, sejak tadi duduknya tidak tenang dan tangannya bahkan berkeringat.


"Kenapa? Apa kau takut? Tenang saja ayahku tidak menggigit." Daren berusaha membuat kekasihnya merasa rileks. "Jangan takut, aku tidak akan melepaskan tanganmu meskipun pak tua itu sekalipun yang menyuruhnya." Daren menggenggam tangan Lucy yang terasa dingin, diusapnya lembut menggunakan ibu jarinya.


Lucy melengkungkan bibirnya, perasaannya memang jauh lebih tenang saat tangan Daren menggenggamnya. Walaupun masih ada ketakutan di dalam hatinya. Bayangannya sudah begitu buruk, bagaimana kalau nanti ayahnya Daren melemparkan uang atau cek padanya agar Lucy mau meninggalkan Daren. Atau mengancamnya akan mencelakai keluarganya, pada saat seperti itu apa yang akan ia pilih. Sulit bukan, kalau hanya uang tentu ia akan menolak tapi kalau mengancam nyawa putra dan mamahnya dengan berat hati mungkin dia akan memilih meninggalkan Daren.


"Kalau tersenyum seperti itu kan cantik. Kita berangkat sekarang, ada aku tenang saja. Ayah tidak akan melakukan hal buruk."


Mobil Daren mulai melaju meninggalkan basement apartemen yang ditinggali Mia dan keluarga. Malam ini mereka akan menemui Paman Sam di salah satu restoran. Akhirnya pria tua itu meminta mereka bertemu. Itulah yang membuat Lucy takut akan hal-hal seperti tadi yang sering ia lihat di dalam drama yang jika si pria jatuh cinta pada wanita miskin pasti orang tua si pria tidak akan setuju dan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka bahkan tak segan mencelakai orang terdekat si wanita.


Semoga saja segala pikiran buruk Lucy itu tidak benar, mungkin saja itu karena efek terlalu sering menonton drama jadi pikirannya aneh-aneh.


Sampailah mereka di rerstoran mewah. sungguh memang aseperti selara ayahnya.


Jantung Lucy kembali berdebar saat mobil sudah terparkir. Bisakah ia pulang saja dan membatalkan pertemuan itu tapi bukankan itu malah membuatnya terlihat sangat tidak sopan.

__ADS_1


"Kau gugup? percaya padaku, apapun yang terjadi nanti aku akan tetap menikah denganmu," ujar Daren sambil mengusap pipi Lucy, malam ini kekasihnya tampil sangat cantik menggunakan dress pilihannya. Wajahnya juga sedikit bermakeup membuat Lucy yang biasanya terlihat polos dan manis menjadi tampak menggoda. Kalau saja tidak ada acara bertemu pria tua itu pasti Daren sudah sejak tadi me-lu-mat bibir itu dan seluruh wajah cantiknya.


Sedikit saja mungkin ya, aku sungguh tidak tahan menunggu  sampai pulang nanti, batin Daren yang sejak tadi tertarik pada bibir itu.


Cup. Kecupan singkat mendarat juga di atas bibir manis Lucy.


"Apa masih gugup sekarang? Sepertinya harus sedikit lebih lama agar tidak gugup lagi," modus Daren, bilang saja dia yang ingin.


"Cukup-cukup, nanti riasan ku rusak." Lucy segera memundurkan bibirnya saat Daren mau menciumnya lagi. Tidak bisa dibiarkan, bisa-bisa dia tampil berangtakan saat bertemu dengan calon mertuanya. Sebab apa... sekarang pria itu sudah mulai berani, tidak hanya bibir yang ia tuju tapi yang lain juga, meski tak pernah sampai melakukan hal itu.


Ya bukan hal yang sulit menikah di negara itu, mereka bisa datang langsung ke kantor yang melayani surat pernikahan dan langsung mendapatkan akta nikah. Tapi Lucy tidak mau seperti itu, dia sudah sekali gagal dan tidak ingin gagal lagi. Jadi dia ingin sebelum menikah tidak ada masalah apapun termasuk restu orang tua yang mungkin kedepannya bisa jadi masalah untuk mereka.


Daren melihat ekspresi Lucy saat mendengar perkataannya, wanita itu tampak tidak setuju dengan hal itu.


"Aku bercanda sayang, hehehe..." Semoga saja ayah tidak membuat masalah malam itu agar aku bisa langsung menikah besok.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke restoran itu, menuju ruangan privite yang sudah di pesan sebelumnya. Mereka memilih datang lebih awal dan menunggu Paman Sam dari pada membuat orang tua yang menunggu.


Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Sosok yang mereka tunggu pun tiba tepat waktu.


"Kalian sudah datang rupanya," ujar paman Sam datar.


Lucy dan Daren pun berdiri untuk menunjukan kesopan, Daren pria itu melirik malas pada ayahnya.


"Selamat malam paman," ujar Lucy.


"Hmm duduklah," perintah paman Sam saat ia sendiri sudah duduk.


Lucy tentu saja sangat merasa guguk, kakinya saja sampai gemetaran sementara tangannya langsun memegang ujung dress nya dan me-rem-mas nya. Untunglah Daren menyadari hal itu dan langsung menarik salah satu tangan Lucy dan menggenggamnya seperti janjinya tadi.


Hai pak tua kau menakuti Lucy ku. Daren melototkan matanya pada sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2