
°°°
Mia masuk ke dalam kamar rawat mamahnya menyusul Kenan yang sudah lebih dulu berlari masuk.
Kenapa harus bertemu dengannya lagi. Keluhnya.
Terang saja mau tidak mau Mia akan sering berhubungan dengan Daniel karena laki-laki itu yang akan menangani mamahnya.
"Ya ampun... aunty Felice kangen sekali pada mu." Felice yang melihat Kenan masuk langsung menghampiri bocah itu dan menggendongnya lalu menghujani wajah tampan Kenan dengan kecu-paan dengan gemas.
"Geli aunty... hahaha... Kenan menyerah...," berontak bocah itu yang mendapatkan serangan dadakan dari Felice.
"Sudah sudah, lepaskan Kenan. Sini peluk omah... omah rindu sekali padamu."
Felice pun menurunkan Kenan dari gendongannya lalu mengangkat tubuhnya untuk duduk di ranjang agar mamah Emma dapat menjangkau nya.
"Kenan juga rindu omah, aunty Mia jahat. Sekarang tidak pernah jemput Kenan lagi buat main," gerutu bocah itu sambil memanyunkan bibir mungilnya dan menggembungkan pipinya. Siapapun yang melihat pasti ingin sekali menggigit pipinya.
"Oohhh sayang, maafkan aunty Mia. Dia sibuk mengurusi omah sampai tidak punya waktu untuk Kenan. Ini salah omah sayang. Kenan mau kan maafin omah," ujar mamah Emma seraya memegangi telinganya sendiri seperti sedang dihukum.
"Ohhh jadi aunty Mia ngurusin omah. Kata mamahnya Kenan, omah sedang sakit ya sekarang?"
"Iya sayang, omah sakit. Coba kamu cium omah biar cepat sembuh," ujar mamah Emma seraya menunjuk pipinya.
Cup.
"Cepat sembuh omah," ujar bocah itu dengan muka polosnya.
Kehadiran Kenan memang selalu membawa kebahagiaan di keluarga mereka selama ini, makanya Mia sering mengajaknya ke rumah saat dia senggang.
Mia senang melihat mamahnya terhibur dengan kedatangan bocah yang sudah ia anggap seperti keponakan sendiri.
"Sore Tante," sapa Catty yang baru saja masuk ke ruangan itu. Dia menghampiri mamah Emma dan memeluknya. Catty juga sudah menganggap mamah Emma seperti mamahnya sendiri.
Mamah Emma memang baik pada siapapun, termasuk Catty. Dia sering mengirimkan makanan buatannya pada ibu muda itu.
"Bagaimana keadaan Tante, maaf aku baru bisa datang ke sini," ujar Catty setelah melepaskan diri dari pelukan mamah Emma.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, Tante sudah baik-baik saja nih liat." Mamah Emma menunjukkan tubuhnya yang sudah kembali bugar.
"Iya mamah sudah tidak apa-apa karena di sini rajin minum obat. Sementara kalau di rumah diam-diam obatnya dibuang di dalam pot bunga," celetuk Mia yang saat ini sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Kalian sudah tau...," Mamah Emma tampak merasa bersalah pada putrinya. Padahal dia sudah bekerja keras demi memberikan sang ibu pengobatan tapi mamah Emma malah tidak memakan obatnya.
"Iya tentu, dokter bilang kalau mamah rajin minum obat tidak mungkin tiba-tiba drop seperti kemarin," sahut Felice yang sedang menemani Kenan bermain.
"Sudah sudah, Tante pasti bosan kan minum obat setiap hari. Wajar saja kalau Tante membuangnya. Iya kan Tan?" Catty berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak ada lagi ketegangan di ruangan itu.
Mamah Emma tersenyum kecil menanggapi pembelaan dari Catty karena nyatanya dia sengaja tidak meminum obatnya karena berharap bisa segera meninggalkan dunia ini. Dia merasa hanya jadi beban putri-putrinya dan ingin mengakhiri semuanya.
Setelah pembicaraan yang cukup menegangkan dan mengharu biru lalu di lanjutkan dengan melepas rindu antara Catty dan keluarga temannya. Sekarang mereka sedang melihat tingkah Kenan yang menggemaskan. Bocah itu bisa bersikap layaknya anak kecil pada umumnya tapi terkadang dia seperti orang dewasa.
"Ngomong-ngomong tadi aku lihat dokter yang berwajah tampan ada di depan ruangan ini. Apa dia yang memeriksa Tante?" bisik Catty yang saat ini duduk di sebelahnya Mia.
Mia hanya mengangkat bahunya acuh.
"Ishh kau ini, kenapa tidak bisa memanfaatkan kesempatan si. Kalau dia masih lajang kau bisa mendekatinya," saran Catty, entahlah apa sebenarnya yang ada dipikiran wanita itu. Setiap kali bertemu laki-laki lalu menyuruh Mia untuk mendekatinya.
"Eh tapi kamu beneran tidak kenal, tapi kenapa dia melihat ke ruangan ini cukup lama tadi?" pikiran Catty pun sudah di penuhi tanda tanya.
"Apa dia tinggi, bersih dan rapi?" tanya Mia memastikan siapa yang tadi dilihat oleh temannya.
"Iya benar, tapi ada yang kurang kamu menyebutkan nya. Dia juga sangat tampan," ujar Catty dengan wajah penuh kekaguman.
"Lebih tampan siapa dibandingkan dengan Jimmy?" goda Mia.
"Tentu saja Dok... eh maksudku lebih tampan Jimmy sedikit. Hehehe..." Catty menyengir kuda karena hampir saja menyebutkan kalau laki-laki lain lebih tampan dari suaminya.
"Kau pasti akan terkejut kalau tau siapa dokter itu," ujar Mia seraya memakan buah anggur yang tadi Catty bawa.
"Siapa? Apa kau kenal? Cepat kasih tau aku!" Catty sepertinya sangat penasaran, apalagi ternyata temannya itu sudah kenal dengan dokter tampan itu.
"Dia adalah putranya tuan Alex."
"Apa kau tidak sedang berbohong?" tanya Catty memastikan.
__ADS_1
"Benar, untuk apa aku berbohong. Aku yang dulu menjemputnya dari bandara dan aku masih ingat wajahnya tidak mungkin salah orang. Apa kau tidak membaca name tag nya, namanya Daniel."
Catty hampir saja syok mendengar nya, tidak menyangka punya kesempatan untuk melihat rupa dari putranya CEO. Karena selama ini Daniel memang menutup asal usulnya dari khalayak luar. Dia lebih senang di kenal dengan usahanya sendiri dan juga prestasinya. Sampai jarang ada yang tau kalau Daniel adalah putra satu-satunya dari pemilik perusahaan star company.
"Sepertinya kalian jodoh?" Bisik Catty seraya menyeringai.
Mia mendelik tajam mendengar hal itu.
"Bagaimana bisa jodoh kalau sama sekali tidak ada kecocokan diantara kami." Mia tak menyadari kalau dia sudah bicara berlebihan.
"Jadi kalian sudah sering mengobrol berdua?"
"Hanya karena mamah saja aku berinteraksi dengannya. Selebihnya kita tidak saling menyapa apalagi mengobrol," terang Mia.
"Ya ampun, sayang sekali kesempatan seperti ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Dia tampan loh, mapan juga." Bujuk Catty.
"Diamlah! kau benar dia tampan. Jadi tidak mungkin kan kalau pria setampan dirinya mau memilihku."
Catty tidak bisa menjawab.
Beberapa saat kemudian saat langit sudah menggelap. Catty dan putranya pamit untuk pulang.
"Kami pulang dulu, Tante harus segera pulih agar bisa memasakkan ku makanan lagi," celoteh Catty tiada henti berbicara.
"Tentu sayang, terma kasih sudah mau datang kemari. Tante sangat terhibur oleh Kenan. Seandainya Tante juga punya cucu pasti di rumah tidak kesepian." Mamah Emma memandangi Kenan yang sedang membereskan mainannya.
"Aku akan berusaha membantu Tante agar Mia segera mendapatkan laki-laki yang baik," bisik Catty di telinga mamah Emma dan wanita paruh baya itu pun mengangguk setuju.
"Aku juga mau pergi dulu Mah, ada sedikit urusan sekaligus mengantar mereka pulang." Mia ikut pamit.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️❤️
__ADS_1