
°°°
Paginya.
Daniel membuka matanya setelah tidur yang cukup nyenyak semalaman. Senyum cerah di pagi hari pun tersungging di bibirnya, saat melihat pemandangan pertama yang ia lihat ketika membuka mata. Apa lagi kalau bukan wajah istrinya yang masih terlelap disampingnya.
Daniel merapikan rambut indah yang menutupi wajah cantik itu. Lalu memberikan kecupan pagi di keningnya, di bibir nanti saja kalau sudah bangun.
Kenapa kau ikut tidur disini? Bagaimana kalau jatuh. Pasti tidak nyaman kan tidur di sofa yang sempit ini. Bergumam dalam hati sambil mengusap-usap pipi Mia selembut mungkin agar tidak terbangun.
Setelah berhasil turun dari sofa tanpa menggangu tidur istrinya, Daniel pun memindahkan tubuh istrinya ke ranjang agar lebih nyaman. Setelah itu dia pergi mandi.
Namun, tidak lama setelah Daniel masuk ke dalam kamar mandi Mia pun menggeliat. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal karena harus berbagi sofa yang sempit dengan suaminya.
Hoooaamm... Rasanya masih mengantuk tapi sesuatu yang membuatnya nyaman sudah tidak ada di sampingnya lah yang memaksanya untuk bangun.
Ehh kenapa aku ada di kasur? Apa Daniel yang memindahkanku ke sini? Tapi dimana dia.
Mia mengedarkan pandangannya, mencari sosok sang suami. Baru setelah mendengar suara gemericik air, Mia baru lega.
"Kau sudah bangun, mandilah." Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, seperti biasa terlihat sangat mempesona.
"Apa kita mau pergi?" Mia sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air liurnya.
"Kau lupa, kita pulang hari ini. Atau kau masih mau menginap, aku bisa memperpanjang hari liburku..." Menyeringai penuh arti.
"Hehehe... tidak-tidak, aku akan mandi sekarang kalau begitu." Segera Mia berlari ke kamar mandi, sebelum pria me-sum itu memperpanjang liburannya dan dia jadi tahanan di dalam kamar lagi.
Semuanya sudah siap, barang-barang pun sudah selesai di kemas dengan bantuan layanan hotel. Sekaligus sudah diantarkan sampai mobil jemputan mereka.
"Kau sudah siap pulang?"
"Hemm... kita pulang kemana Niel?" tanya Mia ragu.
"Terserah kau saja, aku menurut."
"Jangan begitu Niel, yang seharusnya bilang terserah kan perempuan."
Daniel tergelak sendiri, memang wanita kerap kali membuat para pria bingung dengan kata 'terserah' lalu bagaimana kalau pria yang mengatakannya.
"Kau itu lucu sekali, nanti kalau aku yang menentukan lalu kamu tidak setuju bagaimana?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Ya harus setuju, karena kamu adalah kepala keluarganya, Niel," jawab Mia tegas.
"Ok... kalau begitu kita akan pulang dan tinggal di rumah mommy dan Daddy. Bagaimana?"
Mia diam sejenak. "Baik, ayo ke rumah Daddy dan mommy."
Meski mulutnya berkata mau tapi tidak dengan mata dan raut wajahnya yang menunjukkan sebaliknya. Daniel tau itu.
,,,
Di rumah.
Mommy Tania dan Felice tengah sibuk membuat sarapan pagi untuk menyambut kepulangan pengantin baru. Mom Tania dan dad Alex sengaja datang pagi-pagi sekali untuk membantu. Sekaligus membawa pembantu tambahan untuk membantu.
Ya mereka ada di rumah pemberian dad Alex, rumah yang ditempati oleh mamah Emma dan Felice selama Mia tidak ada. Kemarin Daniel mengabari kalau mereka mau pulang hari ini dan pulang ke rumah itu. Jadi mereka sedang bersiap.
"Maafkan saya tidak bisa membantu banyak," ujar Emma pada besannya yang sejak pagi sekali sudah sibuk.
"Tidak apa-apa jeng, kan sudah ada Felice yang membantu. Jeng Emma bisa mengontrol apa saja yang kurang nanti."
"Betul Mah, Felice siap membantu apa saja. Mamah tidak perlu cemas, apa mamah mau buah biar aku kupaskan?" Felice menyambung.
"Tidak nak, kau bantu mommy Tania saja. Mamah tidak menggangu kalian kalau begitu."
Masalah kamar yang akan di tempati oleh Daniel dan Mia juga sudah selesai direnovasi. Entah apa lagi yang diubah oleh dad Alex, padahal kamar itu sudah bagus. Tapi katanya ada yang kurang, wanita tidak akan tau hal seperti itu.
Mamah Emma berkeliling melihat para pekerja yang sedang membereskan rumah dan mengganti setiap hal yang dianggap sudah tidak bersih dengan yang baru.
"Waahh penyambutan kepulangan nona Mia sangat dipersiapkan dengan baik sepertinya." Lucy yang sejak tadi dibuat takjub pun akhirnya bersuara.
"Iya, aku juga tidak menyangka kalau putriku akan secepat itu diterima di keluarga suaminya. Beruntungnya dia mempunyai suami dan mereka yang baik."
"Iya Nyonya, nona Mia sangat beruntung."
Saat mereka sedang asyik mengobrol dan memperhatikan para pekerja. Dad Alex datang lagi, kali ini dia tidak sendiri ada sebuah truk besar pengangkut barang juga datang bersamanya. Emma yang mendengar suara kendaraan besar ada di halaman rumah pun menyuruh Lucy untuk membawanya ke depan.
Dilihatnya dad Alex yang sedang mengarahkan orang yang sedang menurunkan satu kotak hadiah yang sangat besar. Emma dan Lucy sama-sama menganga, kotak hadiah sebesar itu isinya apa.
"Ok. Cukup! Ya letakkan di situ saja." Dad Alex memerintah.
Setelah menurunkan hadiah besar itu sesuai keinginan dad Alex. Truk besar itu pun pergi.
__ADS_1
"Tuan..." sapa mamah Emma. Dia masih sungkan kalau memanggil besannya dengan sebutan lain.
"Bu Emma, apa anak-anak sudah sampai?" tanya dad Alex.
"Belum Tuan."
"Ohh mungkin sebentar lagi. Mari kita tunggu di dalam saja."
Mereka pun masuk dan menunggu Daniel dan Mia dari dalam rumah.
,,,
Di mobil.
Sejak keluar dari hotel, Mia terus diam dan lebih suka melihat ke luar jendela. Tentu saja Daniel tau penyebabnya pasti karena tawarannya untuk pulang ke rumah mommy dan Daddy. Padahal Daniel tau kalau istrinya pasti sudah sangat rindu pada mamah nya.
Sampai di persimpangan mobil berbelok ke arah rumah mereka, ya sebut saja itu rumah mereka karena memang itu adalah hadiah dari Daddy Alex untuk mereka. Barulah Mia tersadar dari lamunannya.
"Niel, kita mau kemana? Ini bukan ke arah rumah mommy dan Daddy."
"Memang bukan sayang..."
"Lalu kita mau kemana?" tanya Mia lagi.
"Apa kau lupa dengan jalan ke rumah mu sendiri?"
"Maksudnya?" Mia bertambah bingung.
"Kita tidak pulang ke rumah mommy dan Daddy tapi pulang ke rumah kita, sayang..." jelas Daniel lembut.
"Jadi kau bohong?"
"Hmmm tidak juga... karena mom dan dad juga sudah menunggu kita di sana."
"Sama saja kau sudah berbohong padaku," ujar Mia sambil memukul-mukul lengan suaminya.
"Jangan marah lagi. Aku kan sudah bilang, katakan saja apa yang kamu mau bukan terserah padaku. Aku tau kamu ingin pulang ke sana, kita bisa sesekali menginap di rumah mommy dan Daddy. Kau tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak. Terimakasih Niel... cup." Mia mengecup pipi suaminya dengan malu-malu karena sebelumnya dia tidak pernah berinisiatif.
Sementara Daniel dia cukup terkejut tapi terkejut yang membahagiakan untuknya. Baru pernah sang istri menciumnya lebih dulu dan tanpa diminta. Kalau saja tidak ada supir di depan pasti sudah ia tarik tengkuk istrinya dan ia lu-mat habis bi-bir itu.
__ADS_1
to be continue...
°°°