Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
157. Sudah Selamat


__ADS_3

Semua orang yang selamat sudah berhasil dibawa keluar dari tempat itu. Untung saat itu tengah malam jadi tidak begitu heboh karena masyarakat yang penasaran. Jadi berita keselamatan mereka masih tertutup rapat dari masyarakat di sekitar dan awak media karena dad Alex yang mengaturnya.


Menimbang kondisi mereka yang harus di pulihkan lebih dulu, berhari-hari tidak makan-makanan yang benar pastilah tubuh lemas dan luka mereka juga harus diobati terlebih dahulu. Kalau sampai ada media pasti mereka terganggu. Belum lagi berita desas-desus tentang kota A yang akan semakin buruk.


Pemerintah juga sepakat untuk menutupi hal itu, tidak baik kalau sampai berita seperti itu sampai ke luar negeri. Karena itu seperti aib, dimana penduduk kota A yang banyak melakukan kerusakan dan tidak pernah memikirkan dampaknya. Wajar kalau alam mengamuk, dengan begitu kota A seperti terlahir kembali. Tapi pemerintah memutuskan untuk menjadikan tempat yang sudah rata dengan tanah itu menjadi hutan lindung. Nantinya akan ditanami pohon untuk kelangsungan hidup hewan yang terancam punah.


Karena tidak mungkin juga ada yang mau tinggal di sana, tempat itu sudah seperti kuburan masal. Mengenai hasil bumi yang berlimpah, pemerintah yang akan mengelolanya dengan benar dan tidak merusak alam. Para pejabat daerah yang selama itu menutupi hal itupun sudah dibersihkan. Dicopot dari jabatannya.


"Akhirnya bisa makan enak juga," ujar Daren yang baru saja menghabiskan dua piring makanannya.


"Makanlah yang banyak, kalian harus segera pulih dan pulang." Dad Alex sedang menjaga putra dan keponakannya. Mereka jadi satu ruangan agar dad Alex tidak repot mengurusnya, bagaimana pun paman Sam telah menitipkan Daren padanya.


"Bukanya kau menikmati daun-daunan yang kemarin kau makan." sindir Daniel.


"Ya itu karena terpaksa dan tidak ada makanan lain disana. Aaa... aku tidak mau lagi menjadi relawan lagi lain kali. Cukup aku tersiksa di tempat itu, mereka yang melakukan kesalahan tapi kita ikut merasakannya juga."

__ADS_1


"Dengar itu, Niel! Kau jangan pergi ke tempat yang berbahaya lagi. Daren saja tidak mau lagi." Dad Alex memperingati putranya.


"Benarkah? Lalu siapa yang waktu itu tidak ingin pulang dan ingin tinggal selamanya di sana," beber Daniel membeberkan kelakuan sepupunya.


"Hah, aduh... tiba-tiba kepala ku pusing. Uncle, aku mau tidur dulu." Daren langsung merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut dan memiringkan tubuhnya membelakangi Daniel dan ayahnya.


Mereka hanya geleng-geleng melihat tingkah Daren.


"Dad, bisakah kau tidak memberitahu Mia terlebih dahulu kalau aku sudah ditemukan," pinta Daniel pada daddynya.


"Beritahu mommy saja, jangan Mia. Aku ingin memberinya kejutan." Rasanya menyenangkan membayangkan bisa bertemu kembali dengan istrinya. Daniel berharap tangannya segera sembuh agar dia bisa segera menyalurkan rasa rindunya pada sang istri. Dia berencana akan membawa Mia pergi berlibur, dan menghabiskan waktu hanya berdua saja seperti saat mereka baru menikah.


Kalian ini memang jodoh, bahkan kalian sama-sama ingin memberi kejutan. Lihatlah siapa yang akan terkejut besok, istrimu atau justru kamu Niel. Dad Alex tersenyum simpul.


"Baiklah, Daddy setuju. Setelah keadaan kalian pulih daddy akan membawa kalian semua kembali. Tapi sebelum itu sebaiknya hilangkan dulu jambangmu itu lalu potong rambut. Kau juga Daren, kalian terlihat seperti manusia goa."

__ADS_1


Tinggal di pengungsian dan mengurusi korban bencana sampai mereka juga terjebak bencana, mana mungkin mereka sempat memikirkan penampilan. Rambut mereka tubuh memanjang, kumis dan bulu-bulu di dagu juga sudah tumbuh, tidak seperti biasanya mereka yang selalu bersih dan rapi.


"Benarkah uncle? Apa seburuk itu penampilan kami saat ini?" Daren tidak jadi berpura-pura tidur, dia panik saat pamannya mengatakan kalau penampilannya sekarang seperti manusia goa. Apalagi setelah bencana dahsyat itu terjadi mereka memang jarang mandi,Ā  Kesulitan air menjadi alasannya.


Mau mandi bagaimana, adanya air hujan dan tidak ada yang buat menampungnya juga lalu sabun pun tidak ada, jadi paling bebersih sedikit. Mau mencari sungai di tengah hutan terlalu jauh dan berbahaya, melelahkan juga.


"Iya kalian tidak tampan lagi sekarang," ujar Dad Alex sengaja memanasi keponakannya.


"Daren itu Dad, kalau aku masih tampan meski berjambang dan berkumis. Mia pasti akan lebih suka," selorohnya, memikirkan istrinya membuatnya kembali berfantasi liar. Bagaimana kalau bulu-bulunya ini akan membuat sensasi geli saat dirinya men-cu-mbu istrinya nanti. Huaaa... Daniel jadi ingin cepat-cepat pulang kalau begitu.


Plaakkk


"Hempaskan jauh-jauh pikiran kotormu anak muda." Dad Alex menepuk pundak puntranya keras, menyadarkan pikiran pria itu agar tidak berpikir aneh-aneh karena saat pulang nanti dia tidak bisa langsung menyentuh istrinya. Perlu menunggu sampai trismester ke dua.


Sepertinya banyak kejutan yang akan menyambutmu nanti Niel. Dad Alex tentu tau bagaimana bergai-rahnya anak muda.

__ADS_1


"Kenapa Dad? Aneh.."


__ADS_2