Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 8. Kisah Lucy


__ADS_3

Hari-hari mereka dilewati dengan suka cita, apalagi setelah Felice juga kembali seperti biasa. Walaupun terkadang dia masih suka menangis diam-diam tapi sudah bisa menyembunyikannya dari orang lain. Malam itu semua orang berkumpul di meja makan. Mia, Daniel, Felice beserta mamah Emma. Lucy sebenarnya sudah sering diajak makan bersama tapi dia lebih memilih untuk makan bersama para pelayan, padahal mamah Emma sudah menganggapnya seperti putrinya sendiri.


"Kakak ipar, apa kau belum menemukan cara untuk menyembuhkan anaknya Lucy?" tanya Felice.


"Saat ini di dunia kedokteran masih belum ditemukan penyakit langka itu, kita hanya bisa menggunakan obat untuk menopang hidupnya," jelas Daniel, jelas jawaban itu bukan seperti yang Felice harapkan tapi dia juga tidak bisa memaksa karena itu tidak mungkin main-main dengan nyawa manusia.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Lucy dan putranya nak. Semoga ada jalan keluar untuk masalah mereka." Mamah Emma juga merasa kasihan pada Lucy tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apa sebaiknya dirawat saja di rumah sakit Dad, mungkin keadaannya akan membaik." Mia ikut bersuara, sebagai calon ibu, dia juga bisa merasakan apa yang Lucy rasakan.


"Tentu sayang, bukankah aku sudah pernah mengatakan hal itu pada Lucy tapi sepertinya dia punya pertimbangan sendiri." Daniel kembali menyuapi istrinya, dia memang jadi suami yang super perhatian dan siaga sekarang. Sampai membuat mereka yang melihat pun iri. Termasuk Lucy, itu juga salah satu alasan mengapa dia lebih memilih makan bersama pelayan yang lain.


Jika melihat Mia yang begitu diperhatikan dan disayangi suaminya, Lucy akan mengingat masa-masa kehamilannya yang justru berbanding terbalik. Suaminya sama sekali tidak peduli padanya.


Mereka pun kembali melanjutkan makan malamnya. Sampai tiba-tiba saja Lucy datang dengan wajah yang sudah basah oleh air matanya, dan terlihat begitu cemas.


"Nyonya, Nona, Tuan... maaf mengganggu. Saya ingin meminta ijin untuk pulang sekarang," ujar Lucy dengan suara lemah.


"Lucy, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis?" Felice langsung menghampiri Lucy dan membantu mengusap air matanya.


"Ceritakan pada kami Lucy, siapa tau kami bisa membantu," ujar Mamah Emma.


Lucy pun memandang wajah Felice untuk meminta pendapat. Gadis itu mengangguk lalu berkata, "Ceritakanlah, kami adalah keluargamu sekarang."

__ADS_1


Lucy pun bercerita kalau dia beru saja mendapatkan telepon dari rumah yang mengatakan kalau keadaan putranya semakin memburuk. Bahkan tubuhnya membiru dan sempat kejang. Tentu semua orang terkejut memikirkan bocah yang baru berumur dua tahun itu merasakan sakit seperti itu.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, aku akan menelpon ambulan agar bisa lebih cepat sampai di sana. Kalian bersiaplah..." Daniel bergerak cepat, sedangkan para wanita sedang menenangkan Lucy.


"Dad, aku ikut ke rumah sakit ya. Aku ingin melihat keadaan Zoro juga." Mia memohon pada suaminya.


Daniel yang baru saja selesai menelpon pun menghampiri istrinya yang perutnya semakin membesar itu. Diusapnya perut sang istri pelan. "Baiklah, tapi kau harus berjanji akan menjaga anak kita, tidak boleh terlalu lelah dan kalau ada apa-apa harung memberitau yang lain. Aku mungkin akan sibuk mengurusi anak itu nanti."


Mia mengangguk paham, dia tau betul bagaimana suaminya begitu menjaganya dan calon anaknya dengan sangat hati-hati selama ini. Mana mungkin dirinya akan tega mencelakai anak mereka. "Aku pasti menjaganya dengan baik, Dad. Terimakasih dan tolong berjuanglah menyelamatkan Zoro."


"Aku akan berusaha semampuku," ujar Daniel kemudian mengecup kening istrinya, dia sangat mengerti perasaan istrinya yang saat ini sedang mengandung pasti akan mudah sekali terbawa perasaan.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah dalam perjalan langsung menuju rumah sakit. Namun, dengan menggunakan mobil yang berbeda-beda. Daniel sudah lebih dulu pergi sendiri, agar bisa lebih cepat sampai karena dia akan sedikit mengebut. Sementara Felice dan Lucy ada di mobil ke dua yang juga sedikit cepat, mobil ke tiga ada mamah Emma dan juga Mia tentunya tapi mobil yang mereka tumpangi tidak bisa bergerak cepat demi menjaga kandungan Mia.


"Apa ada pasien yang baru datang, anak kecil, sekitar dua tahunan?" tanya Daniel pada Daren yang berjaga di sana.


"Tidak, belum ada. Memang anak siapa?" tanya Daren. ya bukannya anak dari sepupunya itu masih di dalam kandungan bukan.


Daniel tidak mempedulikan pertanyaan Daren, ada hal yang lebih penting dari itu sekarang. Dia pun menelpon salah satu petugas ambulan yang tadi ia suruh untuk menjemput anak itu. Tapi belum juga panggilan di jawab, ambulan itu sudah datang dengan sirene yang berbunyi di atasnya.


"Itu dia, cepat bantu," perintahnya pada Daren.


Daren hanya mengendus kesal tapi tetap mau membantu.

__ADS_1


"Cepat bawa ke ruang operasi," perintah Daniel lagi pada para petugas yang sedang mendorong brangkar.


"Tapi di mana keluarganya?" tanya Daren. Bagaimana pun prosedur rumah sakit adalah selalu meminta persetujuan dari pihak keluarga saat akan dilakukan tindakan apapun itu, sedangkan kalau masalah biaya, bagi rumah sakit star hospital center itu bukan masalah. Tidak ada biaya pun nanti biasanya akan dibantu oleh donatur.


"Aku yang akan bertanggung jawab, tidak ada waktu lagi kita harus cepat atau nyawa anak ini tidak akan tertolong." Tegas dan tidak ingin dibantah lagi.


Sementara itu Lucy dan Felice baru saja sampai di rumah sakit. Tadi dia mendapatkan pesan dari kakak iparnya kalau anak itu sudah ada di dalam ruangan operasi. Jadi mereka pun hanya tinggal menunggu di depan ruangan operasi.


"Ayo, Zoro sudah di tangani kakak ipar. Berdoalah agar semuanya baik-baik saja." Felice  menuntun Lucy berjalan memasuki rumah sakit. Mereka begitu cemas dan takut akan terjadi apa-apa pada anak itu. Terutama Lucy yang sejak tadi tidak berhenti menangis.


Di ruangan operasi. Daniel mulai melakukan tindakan, dari mulai mengecek seluruh kondisi bocah itu. Di sana semua petugas tampak begitu serius tiap kali menangani pasiennya. Harus teliti dan cermat juga agar tidak terjadi kesalahan yang berakibat hilangnya nyawa manusia. Selama ini banyak sekali kasus pasien meninggal atau keadaannya semakin memburuk setelah operasi dan hal itu memang wajar terjadi karena nyawa manusia memang tidak ada yang tau. Tapi kalau secara medis pasti semua itu ada alasannya, makanya biasanya sebelum melakukan operasi pasti dokter akan memberitahu secara detail metode yang akan digunakan, lalu tindakan apasaja, dan resikonya agar keluarga juga siap menerima apapun hasilnya nanti.


"Hasilnya tidak memungkinkan untuk dioperasi dok,' ujar salah satu petugas.


Daniel tampak berpikir dan mempertimbangkan, tapi tetap saja dia tidak bisa memutuskannya sendiri dan harus bertanya pada ibunya.


Melihat Daniel keluar dari ruangan operasi, semua orang yang menunggu pun langsung berdiri dan bertanya tentang keadaan anak itu. Dia menjelaskan semuanya termasuk apa saja yang mungkin terjadi kalau dibiarkan atau di operasi.


"Bagaimana Lucy? Atau kau mau bertanya dulu pada ayah kandungnya Zoro, bagaimana pun dia harus tau dan andil dalam mengambil keputusan," saran Daniel.


"Untuk apa tuan? Bahkan sejak awal pun dia tidak pernah mengharapkan anak itu, pasti dia akan senang kalau mendengar berita ini. Biar aku saja yang memutuskan, lalukan saja tuan.  Apapun hasilnya nanti, mungkin itu yang terbaik untuk Zoro." Lucy pasrah, dia juga tidak akan tega melihat putranya menderita terus-terusan. Ya dia harus mengambil keputusan.


"Permisi dok, gawat...!!"

__ADS_1


__ADS_2