Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
21. Gelisah


__ADS_3

°°°


Seharian itu Daniel merasa tidak tenang. Dia diliputi rasa bersalah yang begitu besar. Bagaimana pun dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab, bukan pecundang yang bisa kabur tanpa peduli dengan apa yang telah dilakukan nya.


Hampir seharian ini juga Daniel mengurung diri di kamarnya. Dia begitu penuh tanda tanya dengan apa yang akan sekretaris daddy-nya lakukan.


Daniel juga sudah berusaha mengalihkan pikirannya dengan mempelajari beberapa data pasien yang dikirimkan padanya, tetapi selalu pikirannya kembali teringat pada tindakannya tadi malam.


"Kenapa aku tidak bisa menahan diri semalam, Daniel kau memalukan. Bagaimana kau bisa tergoda pada wanita yang jauh lebih dewasa dari kamu. Aarrggghhh...!!" Kesal Daniel pada dirinya sendiri, dia mengacak rambutnya yang selalu rapi.


Bagaimana kalau dia melaporkannya pada Daddy dan memanfaatkan kesempatan untuk me meras Daddy. Pikiran Daniel berkecamuk.


Sampai suara seseorang mengetuk pintu kamarnya mengalihkan perhatian Daniel.


"Siapa?" teriak Daniel.


"Ini mommy nak, apa mommy boleh masuk?" mommy Tania khawatir pada putranya yang sejak pulang tadi pagi jadi bertingkah aneh dan tidak keluar dari kamarnya.


"Masuk saja Mom," ujar Daniel seraya membenarkan rambutnya yang tadi berantakan. Dia juga pura-pura sedang mengerjakan sesuatu dengan menggerakkan jarinya di atas laptop yang ia pangku agar mommy nya tidak curiga.


Mommy Tania masuk dengan membawakan cemilan untuk putranya. Dia berjalan mendekat ke arah ranjang dan meletakkannya di atas nakas.


"Apa kau sedang ada masalah Niel?" tanya mommy Tania yang saat ini sudah duduk di hadapan putranya.


"Tidak ada Mom, memang masalah apa. Aku saja baru tiba di negara ini," sanggahnya yang masih menatap ke layar laptopnya.


"Syukurlah, mommy kira kamu ada masalah apa sampai mabuk semalam. Kalau ada apa-apa ceritakan pada mommy, mommy siap menjadi pendengar yang baik."


"Iya Mom, terimakasih. Aku akan ceritakan apa pun pada mommy mulai sekarang," ujar Daniel seraya menatap sang mommy yang masih saja terlihat cantik di usiannya yang sudah tak lagi muda.

__ADS_1


"Baguslah, mommy senang mendengarnya. Oh iya kapan kau mulai bekerja di rumah sakit kakek? Kalau bisa kamu libur dulu saja, nikmati hari-hari kamu disini." tanya mommy Tania.


"Besok mom, sudah ada banyak pasien yang mengantri untuk bertemu dengan ku. Aku tidak tega membiarkan mereka menunggu lagi. Tidak menyangka kalau di negara ini ternyata kekurangan dokter bedah yang hebat." Daniel kira kemajuan dalam bidang kesehatan di negara S itu sudah maju ternyata masih banyak tertinggal dari negara lain. Dokter-dokter yang hebat dari negara itu bahkan lebih banyak memilih untuk bekerja di rumah sakit luar negeri dari pada di negeri sendiri.


"Kau benar sayang, di negara kita memang kekurangan dokter. Mommy senang akhirnya kamu mau kembali. Bukan hanya untuk mommy dan Daddy tapi untuk para pasien mu di sini."


"Iya Mom, aku akan berusaha memajukan bidang kesehatan di negara kita," yakin Daniel.


"Oh iya Mom, apa Daddy sudah pulang? Jam berapa biasanya Daddy pulang dari kantor?" tanya Daniel yang penasaran tentang wanita itu.


Sementara mommy Tania yang mendengar putranya menanyakan sang Daddy justru menatap heran karena selama ini Daniel paling tidak suka bertemu dengan daddy-nya.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Daddy?"


Daniel berusaha mencari alasan agar mommy nya tidak curiga.


"Mommy tau, kamu sebenarnya merindukan daddy mu juga kan. Kau ingin mengobrol juga dengannya. Mommy senang mendengarnya, Niel." Mommy Tania mengusap lembut rambut putranya.


Itu tidak benar Mom, untuk apa aku merindukan pria itu, ujarnya dalam pikirannya.


"Mungkin sebentar lagi Daddy mu pulang, kau tunggu saja sebentar lagi. Jangan terus-terusan berantem kalau bertemu, mommy ingin sekali melihat kalian saling memeluk dan berbicara layaknya ayah dan anak," harap mommy sungguh-sungguh. Sejujurnya saat melihat suami dan putranya bertengkar, mommy Tania sangat tersiksa. Ingin makan bersama dengan tenang saja kadang sangat susah.


"Kalau bukan karena Daddy yang selalu memaksa, aku juga tidak akan selalu melawan Mom. Aku sangat ingin Daddy bangga padaku karena aku berhasil menjadi dokter seperti sekarang, tapi nyatanya pria itu sama sekali tidak pernah memuji. Bahkan tetap menyuruh ku untuk berhenti menjadi dokter," ungkap Daniel akan kekecewaannya.


"Mommy mengerti Niel, sejak kecil kau selalu ingin seperti kakek mu. Menyelamatkan nyawa orang lain, hanya saja Daddy mu tidak ada pilihan lain. Apa kau tau dulu Daddy mu juga menentang kakek, saat kakek mu memintanya untuk menjadi dokter. Daddy tetap pada pendiriannya, ia ingin berbisnis dan berhasil membuktikannya."


"Kakek juga sudah melupakan permintaan nya saat ada kehadiranmu di rumah ini. Dia melupakan keinginannya untuk menjadikan Daddy mu dokter, kakekmu antusias menyambut mu dan lebih bahagia lagi saat kamu kecil ternyata sangat menyukai dunia kakek."


Mommy Tania menceritakan bagaimana perjalanan suaminya dulu saat baru menjadi pebisnis yang juga ditentang oleh ayah mertuanya.

__ADS_1


"Daniel paham Mom, tapi aku belum bisa memberikan apa yang kalian mau." Belum sekarang kecuali jika benih yang ia titipkan semalam langsung jadi.


" Maka dari itu mommy ingin kamu pergi ke kencan buta, coba dulu menemui mereka. Siapa tau ada yang cocok denganmu," saran sang mommy yang sudah menyiapkan beberapa kandidat gadis yang mungkin putranya sukai.


"Aku akan pikirkan nanti Mom," jawab Daniel dengan malas. Dia paling tidak suka kalau melakukan kencan buta. Biasanya para wanita itu akan sangat susah untuk di tolak karena mereka pasti menyukai Daniel.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Atau kalau kau bisa mencari sendiri baru kau tidak perlu pergi ke kencan buta yang sudah mommy rencanakan."


"Mommy keluar dulu, jangan lupa pikirkan saran mommy." Mommy Tania bangun dari duduknya, meninggalkan sang putra yang melongo mendengar perkataan mommy nya.


Kalau saja mencari wanita yang tepat dan cocok bisa semudah itu. Aku tidak perlu merasa tersiksa begitu lama setelah dikhianati wanita itu.


Daniel kembali mempelajari penyakit yang diderita pasien nya.


"Alzheimer," gumamnya saat melihat salah satu penyanyi yang tertera di data yang baru ia terima. Dia kembali fokus saat bekerja karena penyakit adalah hal yang tidak bisa diremehkan. Salah-salah nanti bisa berakibat fatal kalau sampai salah penanganan.


Saat Daniel sedang fokus menatap layar laptopnya, tiba-tiba bayangan wanita itu yang sedang tersenyum tanpa kacamata muncul di sana. Sampai Daniel mengucek matanya beberapa kali karena tidak percaya dengan penglihatannya.


Apa mataku mulai bermasalah, kenapa tiba-tiba ada bayangan wanita itu di laptopku.


to be continue...


°°°


Yuk dukung Daniel dan Mia.


Like komen dan bintang lima 😍


Sehat selalu pembacaku tersayang ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2