Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 32. Menjelajah Bersama


__ADS_3

°°°


Seperti katanya tadi, Daren akan mengajarkan istrinya banyak hal. Saat ini mereka sedang ada di kamar mandi. Setelah memastikan kalau Zoro benar-benar terlelap dalam mimpi mereka pun melanjutkan apa yang seharusnya mereka lakukan malam itu.


Mereka sama-sama sudah udah tidak memakai pakaian satupun. Daren sejak tadi tidak berhenti mengagumi apa yang ada di depan matanya. Tubuh istrinya begitu bagus dan pas sesuai dengan porsinya. Meski sudah pernah melahirkan tapi bagaimana bisa tidak ada sedikitpun lemak ditubuh nya.


"Bagaimana bisa seindah ini," puji Daren untuk kesekian kalinya. Matanya tak berkedip menatap mangsanya.


"Kenapa dilihat terus, aku malu..." Meski sebelumnya sudah pernah tak memakai pakaian di depan laki-laki tapi di hadapan suaminya saat ini dia benar-benar malu. Terlebih karena pujian-pujian yang ia dengar.


"Maaf sayang, aku sungguh kagum padamu. Jadi apa kau siap?"


Lucy pun mengangguk kecil dengan pipi yang sudah sangat merah.


"Aa...," pekik Lucy saat tiba-tiba tangannya ditarik dan membentur tubuh sang suami.


"Kau sangat cantik sayang," Daniel membelai pipi sang istri, lalu turun ke dagu dan mengangkat nya. Tak lama pun bibir mereka sudah menempel dan saling bertukar Saliva dengan penuh perasaan. Kedua tangan sudah melingkar di leher suaminya.


"Ingat... kau harus menikmatinya dan jangan menahan apapun," bisik Daren dengan suara seraknya. Dia ingin membuat istrinya merasakan bagaimana indahnya ber-cin-ta, ingin meninggalkan kesan dihatinya untuk menghapus segala memori yang menyakitkan dimasa lalu.


Lucy sudah memasrahkan diri pada suaminya, perasaan nya saat ini sangat berbeda jauh dari yang dulu. Belum melakukan apapun saja dia bisa merasakan perbedaannya dari perlakuan lembut Daren, ungkapan-ungkapan cinta yang terus terdengar, pujian dan tatapan penuh cinta dari pria itu sudah mampu membuat nya merasakan keindahan itu.


Akhh ukkhh... suara indah Lucy sudah mulai memenuhi kamar mandi. Saat Daren memulai menjelajahi tubuh istrinya itu dengan tangan dan li-dahnya. Satu inci pun tidak Daren lewatkan.


"Aku mencintaimu Lucy..."


"Aku juga mencintaimu, Daren..."

__ADS_1


Mereka pun menjelajahi surga dunia bersama, membuat perasaan mereka semakin dalam. Hanya kata cinta dan de-sah-an yang terus menggema, meski harus sedikit Lucy tahan agar putranya tak terganggu.


"Ini sangat sempit sayang, kenapa masih sangat sempit seperti ini..." Daren tidak pernah mempermasalahkan Lucy yang pastinya sudah tidak perawan lagi. Tapi dia lebih terkejut saat merasakan adiknya yang susah saat mencoba masuk, perlu usaha dan pelicin sampai akhirnya dia bisa menerobos masuk dan menyatu.


Pria itu dibuat takjub dengan apa yang ia rasakan. Sensasi di dalam sana yang hangat dan sempit. Adiknya seperti di se-dot dan pijat.


"Sayang kau membuat ku gilaaa... ini hebat," Daren merancau tidak karuan, baru saja masuk dia sudah dibuat melayang.


"Apa sakit?" tanya Daren pada istrinya yang saat ini ada dipangkuan nya.


Lucy menggeleng, awalnya mungkin ia tapi setelah sang suami masuk tubuhnya seakan dihujani ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Baru kali ini ia menikmati hal itu, Daren sungguh memanjakan nya dan membuat dirinya candu. Sejak awal saat masih menggunakan li-dah saja Lucy sudah keluar dua kali. Apalagi saat ini, saat sesuatu yang keras kokoh dan tegak tapi tidak bertulang itu masuk.


Lucy masih malu-malu, dia hanya bisa menggigit bibir dan memejamkan mata saat merasakan sesuatu yang luar biasa. Tidak seperti Daren yang terus melontarkan kata cinta dan pujian.


"Bergeraklah sayang, aku akan menuntun mu." Daren memegang pinggang istrinya lalu membantu nya bergerak, di tempat itu memang mereka tidak bisa melakukan gaya normal. Dengan terpaksa dengan posisi seperti itu.


PLOP plop plop


Suara itu semakin mendominasi berbarengan dengan bunyi yang lain. Peluh keringat sudah membasahi keduanya.


"Sayang... a-ku..." Lucy benar-benar malu karena dirinya mudah sekali lepas kendali. Baru sebentar dia ingin keluar lagi.


"Tahan sebentar, aku juga mau keluar..." Daren mempercepat gerakan dan memimpin permainan dari bawah. Tangan dan mu-lutnya juga ikut bekerja menja-mah bagian atas yang ia sukai.


"A-aku... tidak tahan lagi sayang...."


"Aku juga... bersiap lah..."

__ADS_1


Daren menghentak begitu dalam saat merasakan mil iknya berkedut hebat. Keduanya sama-sama mencapai puncaknya. Hingga cairan ke-ntal dari laki-laki itu memenuhi mi-lik Lucy.


Hosh hosh hosh


Permainan yang hebat, berkesan dan penuh perasaan. Bukan hanya nap-su belaka tapi berdasarkan cinta keduanya.


"I love you, sayang..." Daren menghujani wajah istrinya dengan ciumaann.


"I love you to... haa..." Lucy masih mengatur nafas.


Selesai permainan pertama, mereka pun melanjutkan nya dengan membersihkan diri. Daren dengan telaten membantu Lucy, meski wanita itu menolak tapi akhirnya dia pasrah juga.


"Apa kau menyukainya?" tanya Daren. Saat ini mereka sudah berbaring di ranjang. Daren memeluk istrinya dari belakang, dan Zoro ada di sebelah Lucy.


"Hmm..." Lucy mengangguk, dia masih malu kalau harus membahas hal seperti itu.


"Lain kali kita coba gaya yang lain ya..." Daren menciumi ceruk leher istrinya dari belakang. "Oh iya sayang, apa kau sudah siap memberi Zoro adik. Tadi saat melakukan nya aku mengeluarkan nya di dalam."


Lucy tampak menimbang, dia lupa soal itu. Tapi kalau memang dalam waktu dekat dia diberi momongan juga dengan senang hati menerima, apalagi hasil dari cintanya dan Daren. Tapi dia memikirkan Zoro. "Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Lucy.


"Tanyakan saja Sayang..."


"Apa kalau nanti kita punya anak, kau akan tetap menyayangi Zoro seperti sekarang?" ada nada ketakutan dari pertanyaan yang Lucy lontarkan.


"Kamu ini bicara apa sayang, Zoro itu putraku. Tentu saja aku akan tetap menyayangi nya, tidak akan ada yang berubah bahkan kalau kita sudah mempunyai anak dari buah cinta kita pun, aku akan tetap menyayangi Zoro. Dia putraku, ingat ini."


Lucy pun berbalik dan masuk menyelusup dirinya dalam pelukan sang suami. Entah bagaimana lagi dia harus bersyukur dan berterima kasih pada laki-laki itu karena sudah hadir dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2