
°°°
Di tempat lain.
Daniel gelisah karena pesan-pesan yang ia kirimkan pada sang istri sama sekali tidak mendapat balasan, padahal dalam pesan itu sudah centang biru yang artinya sudah dibaca. Lalu kenapa tidak dibalas. Apa mungkin terjadi sesuatu pada istrinya?
Daniel pun mencoba mengirim pesan pada adik iparnya, menanyakan apakah Mia sudah pulang ke rumah apa belum.
Kenapa sebenarnya dengan Mia? Kenapa dia tidak membalas pesanku, semoga saja tidak terjadi sesuatu padanya.
Cemas tentu saja Daniel rasakan, selama di sana Mia biasanya rajin mengirim pesan padanya. Entah itu pagi, siang malam, Mia tidak pernah absen bertanya keadaannya.
"Permisi dokter Daniel."
Mendengar namanya dipanggil, Daniel pun menoleh.
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Daniel ramah. Dia bahkan terkenal seantero pengungsi dan digadang-gadang menjadi dokter tertampan yang ada di sana.
"Maaf mengganggu dokter, saya mau memeriksa luka yang kemarin di obati sekaligus mengganti perban. Apa anda bisa membantu?" tanya orang itu.
Daniel tampak melihat tenda pengobatan, sebenarnya hal kecil itu bukan urusannya karena bisa dilakukan oleh perawat. Tapi kalau dia sudah datang, tidak mungkin Daniel menolak. Pria itu juga sedang tidak ada pasien.
"Silahkan masuk nona. Biar saya periksa," ujar Daniel.
Orang itu yang ternyata seorang wanita, sudah duduk di ranjang pasien. Sementara Daniel sedang mempersiapkan alat-alatnya.
Daniel sudah menggunakan masker dan sarung tangan, meski bukan di tempat pandemi tapi masker sangat penting bagi dokter. Di pengungsian juga sangat rawan dengan penyakit flu. Daniel berbalik dan melihat wanita itu sudah duduk di pinggir ranjang pasien. Membiarkan kakinya tetap menjulang ke bawah, karena memang kakinya yang terluka.
"Tahan sedikit, mungkin akan sedikit sakit," ujar Daniel saat akan membuka perban. Terlihat di perbannya ada darah yang merembes, sepertinya lukanya sedikit infeksi. Tapi Daniel tak mengatakannya.
__ADS_1
Wanita itu tampak meringis menahan sakit. Tapi semua itu sebanding dengan apa yang ia dapatkan saat ini. Dia bisa berdekatan dengan dokter tampan yang ia kagumi sejak pertama laki-laki itu datang ke tempat itu. Diam-diam ia memperhatikan wajah Daniel, senyum lebar pun tercetak di wajah nya. Dilihat dari dekat, Daniel tampak sangat tampan dan mendekati sempurna.
"Sepertinya lukanya terkena air atau tertekan sesuatu. Saya akan menyuntikkan obat." Daniel berkata tanpa melihat ke arah wanita itu karena memang Daniel tau kalau dia sedang dipandangi. Hampir semua pasien wanita memang seperti itu.
"Aaww..."
Wanita yang sedang sibuk memandangi wajah Daniel pun tersentak dan menjerit saat tiba-tiba pria itu menyuntikkan obat pada kakinya. Dia memang tidak mendengarkan apa yang Daniel katakan tadi.
"Apakah sakit? Tenang saja ini agar luka nona tidak semakin infeksi."
"Tidak apa-apa dok, hanya sedikit kaget saja," ujar wanita itu. "Oh iya dokter bisa memanggil ku Mishel saja." Tersenyum semanis mungkin saat mata Daniel meliriknya.
Sudah selesai juga akhirnya, Daniel lega karena akhirnya dia bisa terbebas dari wanita itu. Dia pun melepaskan sarung tangannya. Tapi saat berbalik, wanita itu masih diam di tempatnya.
"Sudah selesai nona Mishel," ujar Daniel.
"Ah... iya. Maaf Dok saya kira belum." Bukannya malu dia malah tersenyum.
"Ada apa Nona? Apa anda bisa berjalan?"
"Entah Dok, rasanya sakit saat digerakkan." Mishel berpegang pada pinggiran ranjang.
Daniel tampak menyerngitkan dahinya, bagaimana mungkin tiba-tiba sakit. Saat datang saja dia bisa berjalan normal. Masa setelah diobati malah jadi sakit. Tapi kalau dibiarkan itu bisa jadi masalah untuk Daniel. Pria itu bisa dikira salah memberikan obat.
"Kalau begitu anda duduk saja dulu, tunggu sebentar lagi baru pergi. Mungkin karena efek jarum suntik tadi yang membuat sakit."
"Apa tidak apa-apa kalau saya disini lebih lama Dok?" tanya Mishel pura-pura tidak enak.
"Ya tidak apa-apa, anda istirahat saja disitu. Saya mau keluar sebentar."
__ADS_1
"Tunggu Dok!" panik Mishel saat tiba-tiba Daniel mau pergi. Kalau pria itu pergi untuk apa dia tetap di sana.
"Ya...?"
"Saya takut sendirian disini Dok, bisakah anda tidak pergi," pintanya.
"Kalau begitu akan saya panggilkan perawat untuk menemani mu karena sekarang waktunya saya harus memeriksa pasien." Daniel bukan pria sembarangan yang mudah tertipu. Kalau hanya dengan modus-modus seperti itu.
"Eh... kalau begitu saya pergi saja Dok. saya tidak enak kalau harus merepotkan orang." Mishel berdiri lalu pura-pura kesakitan lagi, dan sekarang dia mencoba berjalan dan berpegang pada apa saja yang ada disana. Berharap mendapatkan simpati dari dokter idamannya.
Daniel yang melihat hal itu sungguh resah. Penginnya membiarkan saja tapi kalau ada yang lihat bagaimana.
"Niel...." Daren datang dengan tergopoh-gopoh, sepertinya ada masalah mendesak yang mau ia sampaikan. Tapi kemudian matanya tak sengaja menangkap seseorang yang dari kemarin ia pikirkan.
"Nona Mishel? Anda disini?" tanya Daren sedikit terkejut.
Wanita itu tampak gelagapan melihat dokter yang kemarin mengobatinya.
"Emmm i-tu tadi a-ku..."
"Ada apa kau kemari?" sambar Daniel.
"Ehh, aku hampir lupa. Ada pasien kritis yang harus segera dioperasi. Kau dibutuhkan di sana."
"Baiklah aku akan kesana sekarang," ujar Daniel hendak berlalu tapi dia berbalik lagi. "Oh ya, apa kau bisa mengantarkan nona Mishel ke tendanya. Dia bilang tadi kakinya agak sakit," perintahnya pada Daren.
"Tentu kau tidak perlu khawatir, aku akan mengantarkannya dengan selamat." Daren tentu saja sangat mau. Ini adalah kesempatan emasnya agar bisa lebih dekat dengan wanita itu.
"Ehhh ti-dak perlu, saya bisa kembali sendiri." Mishel langsung menolaknya.
__ADS_1
"Tidak Nona, saya akan mengantarkan mu. Ini adalah tugasku."
°°°