
Setelah perayaan kecil-kecilan selesai, Daren memutuskan untuk mengajak istrinya menginap di hotel itu. Tapi tiba-tiba masalah baru muncul saat Daren sedang mendaftar untuk cek in.
"Tuan, kartu yang ini juga tidak bisa dipakai," ujar petugas hotel, sudah kartu ke lima dicoba untuk membayar biaya menginap tapi sama seperti kartu yang lain.
"Benarkah? Bagaimana bisa, atau mesinnya yang rusak mbak." Daren frustasi, bagaimana kartu-kartu kreditnya tidak bisa digunakan. Kalau menghitung sepertinya bulan ini dia belum menggunakannya jadi tidak mungkin overlimit kan.
Petugas itu pun mencoba mesin transaksinya dengan kartu yang lain dan ternyata bisa, "Anda lihat sendiri, mesinnya tidak rusak tuan."
Daren memijit pelipisnya, kepalanya berdenyut. Ahh dia ingat sesuatu, bagaimana bisa semua kartunya terblokir ini pasti ulah ayahnya. Bagaimana bisa ayah setega itu pada putranya. Sepertinya pria tua itu sedang menguji pernikahan kami, Daren mengela nafasnya .
Padahal Daren hanya ingin menginap semalam saja di hotel itu bersama sang istri untuk menghabiskan malam pertama mereka, tapi tampaknya sekarang mereka harus pulang. "Kalau begitu, tidak jadi mbak," ujar Daren lalu pergi dari sana dan menghampiri sang istri yang sedang duduk menunggunya.
Lucy memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak kusut berbeda sekali dengan tadi yang tampak cerah dan besemangat, "Sayang , ada apa? apa ada masalah." Lucy menebak.
"Sepertinya kita tidak bisa menginap disini malam ini, apa tidak apa-apa?"
"Tidak masalah, bukankan aku sudah bilang kalau aku tidak masalah mau tidur dimana pun asalkan denganmu," ujar Lucy.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku sungguh tidak berguna sebagai suami." Daren terduduk dan menunduk di samping Lucy.
"Hai... kenapa kau bicara seperti itu, tidak menginap di hotel ini lalu apa hubungannya dengan mu sayang. Masih ada apartemen yang nyaman untuk kita tidur, Zoro juga pasti senang kalau kita pulang."
Daren mengangkat kepalanya, perlukah dia bercerita apa yang terjadi tapi dia malu.
"Ada apa sebenarnya? ada masalah apa sayang?" tanya Lucy.
" Sebenarnya, kartu kreditku di blokir semuanya oleh ayah jadi aku tidak menggunakannya untuk membayar biaya menginap," malu Daren, semua itu karena salahnya yang selalu menghamburkan uang di masa lalu sampai tak mempunyai tabungan sendiri.
"Apa karena itu kau sedih." Lucy tersenyum. Dia sudah menduga kalau tidak mungkin semudah itu ayah mertuanya akan menerimanya. "Hai... lihat aku sayang, kita akan memulainya dari awal ok. Kita akan buktikan pada ayah kalau kita bisa mandiri dan tidak terus bergantung padanya. Nanti aku juga akan cari kerja-,"
"Baiklah nanti aku akan mencari kerja atau usaha yang bisa dikerjakan dari rumah. Jadi kau jangan berpikir terlalu banyak lagi, ayo kita pulang."
Daren mengangguk lega, entah apa jadinya kalau yang menjadi istrinya bukan Lucy. Mungkin jika wanita lain akan langsung meninggalkannya.
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah, disambut oleh sang putra yang begitu bahagia karena mulai malam ini sang papi akan tidur di rumah yang sama dengan mereka. Hingga tengah malam pun bocah itu masih saja menempel pada Daren, tidak ada puasnya bermain membuat Lucy dan ibu Risa merasa tidak enak hati karena Zoro mengganggu malam pertama mereka.
__ADS_1
"Apa Zoro sudah tidur?" tanya Lucy yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawa dua gelas susu untuk suami dan putranya.
"Iya, sepertinya dia sangat kelelahan. Lihatlah wajahnya sangan imut jika sedang tidur." Tidak bosan Daren memandangi wajah Zoro yang hampir setiap lekuk mirip sekali dengan Lucy. Ya untunglah wajah anak itu mirip Lucy, bukan mirip pada ayahnya yang tidak bertanggung jawab itu.
Lucy melihat sendiri kalau kasih sayang Daren begitu nyata pada Zoro meski mereka bukan ayah dan anak kandung. Membuatnya berpikir bagaimana bisa ada ayah kandung yang tega pada anaknya sendiri seperti mantan suaminya, bukankan dia lebih mirip seperti binatang. bahkan beberapa jenis binatang saja sangat menyayangi anaknya.
tok tok tok
Ibu Risa mengetuk pintu kamar putrinya.
"Mah, ada apa?" tanya Lucy yang membukakkan pintu.
"Apa Zoro sudah tidur? Lebih baik dipindahkan saja ke kamar mamah," ujar ibu Risa.
"Sudah mah, dia baru saja tertidur. Sebentar aku coba tanyakan pada Daren." Lucy membiarkan pintu tetap terbuka, lalu ia menghampiri sang suami yang sedang melepaskan kemejanya bersiap untuk mandi.
"Sayang, kata mamah Zoro di pindahkan saja ke kamarnya."
__ADS_1
Daren berbalik. lalu matanya melihat sang putra yang tengah terlelap di atas ranjang. Memang benar ini adalah malam pertamanya bersama sang istri, akan gawat kalau sang putra ada di kamar yang sama. Namun, melihat wajah yang begitu damai dan teringat ucapan Zoro yang terus berkata ingin tidur dengannya membuatnya tidak tega.
"Biarkan saja dia disini, dia bilang ingin tidur bersama papinya."