Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
132. Berpisah


__ADS_3

°°°


Pagi itu, semua orang di rumah sakit sedang sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa. Yang mungkin berguna bagi para korban bencana alam. Beberapa logistik dan keperluan lainnya sudah mulai dimasukkan kedalam mobil box yang akan mengangkut barang-barang itu ke bandara.


Beberapa orang yang menjadi relawan juga sudah terlihat ada di sana. Sedang berpamitan pada keluarganya, berpelukan dan ada pihak keluarga yang tidak bisa menahan tangisnya juga melepas anggota keluarga nya pergi.


Suasana haru sangat terasa di sana. Mereka seperti sedang melepaskan anggota keluarga nya untuk berperang.


Pagi itu Mia juga mengantarkan suaminya ke rumah sakit. Tentu setelah Daniel berdiskusi alot dengan daddy-nya lagi dan Daddy Alex akhirnya menyerah setelah mengetahui kalau menantunya menyetujui rencana Daniel.


Sampai di rumah sakit. Mia ikut turun melihat bagaimana persiapan yang sedang orang-orang lakukan. Sedangkan Daniel sedang menurunkan barang bawaannya yang ada di bagasi mobil.


Mia melihat bagaimana orang-orang itu begitu sibuk dan ada beberapa orang juga sedang menangis sambil berpelukan. Memang rasanya berat sekali melepaskan orang yang berarti untuk pergi ke tempat yang sampai sekarang masih dinyatakan siaga itu.


"Sayang, ayo kita ke ruangan ku," ajak Daniel yang sudah selesai menurunkan barang-barangnya. Lalu ia berikan pada petugas dan dimasukkan ke dalam mobil pengangkut barang. Hanya ia sisakan tas kecilnya saja.


Mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah sakit. Daniel mau mengambil beberapa barangnya yang masih ada di sana. Mia hanya mengekor saja, kemana suaminya pergi.


"Daren, kenapa pagi sekali kau sudah datang?" tanya Daniel saat ia berpapasan dengan sepupunya yang raut wajahnya amat suntuk.


"Kau tidak lihat apa yang aku bawa." Daren menjawabnya malas. Gara-gara sepupunya itu, dirinya juga di paksa sang ayah untuk ikut jadi relawan.


"Jadi kau juga ikut?" tebak Daniel saat melihat tas ransel yang Daren bawa.

__ADS_1


"Ya, dan ini semua gara-gara kau."


"Sabarlah, siapa tau di sana ada gadis cantik kan," ujar Daniel.


"Kalau ada, kalau tidak? Bagaimana bisa ayah begitu tega pada putranya sendiri, bagaimana aku bisa hidup tanpa gadis cantik." Daren terlihat sangat frustasi, dia menggerutu sepanjang jalan.


"Anak itu tidak pernah berubah." Daniel geleng-geleng kepala melihat sepupunya. Sebenarnya cara pamannya sudah sangat benar dalam membesarkan Daren tapi entah anak itu menuruni sifat siapa.


"Kalau di sana ada gadis cantik apa kau juga akan betah, Niel?" tanya Mia yang sejak tadi diam menyimak.


Daniel hampir lupa kalau ada istrinya sejak tadi. Ditatapnya wajah wanita itu. "Mana mungkin sayang, aku hanya sedang berusaha menghibur Daren. Ada atau tidak gadis di sana itu tidak penting."


Mia tidak menyahut lagi. Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya. Sampai di ruangan Daniel. Mia duduk menunggu suaminya mengambil barang-barang nya.


"Belum tau pastinya, biasanya saat ada bencana para relawan akan membantu hingga dua mingguan atau lebih. Tergantung situasi di sana nanti."


Mia mengangguk paham.


"Apa kau akan merindukan ku?" goda Daniel.


"Menurut mu?"


"Aku tidak tau." Daniel mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Tentu saja rindu, bukannya aku sudah bilang kalau mungkin aku tidak akan bisa tidur nanti."


"Benarkah?" Daniel mendekatkan wajahnya.


Mia memerah, sudah berapa lama bersama tapi tetap saja pria itu mampu membuat ia tersipu.


Didorongnya da-da suaminya agar menjauh.


"Sudah Niel, semua orang sudah menunggu mu."


"Kalau kau tersipu seperti itu, selalu membuat ku ingin memakanmu." Tapi sayangnya mereka tidak punya banyak waktu sekarang.


Semua persiapan sudah selesai, barang-barang juga sudah selesai di angkut. Saat ini para relawan dan petugas yang ikut berbaris rapi di halaman rumah sakit. Dan di depan berdiri para petinggi rumah sakit yang akan melepas kepergian mereka. Sementara para keluarga yang tadi mengantar ada di pinggiran melihat mereka.


"Saya mewakili seluruh jajaran direksi dan staf rumah sakit ini, Berterimakasih pada kalian semua yang mau dengan suka rela tanpa paksaan untuk menjadi relawan." Paman Sam selaku kepala rumah sakit memberi sambutan.


"Sebelumnya mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing agar perjalanan kalian semua lancar dan selamat sampai tujuan, serta selalu di beri kesehatan dan dilindungi dari bencana saat di kota A. Berdoa mulai."


Semua orang menunduk tanpa terkecuali, berdoa dan memohon keselamatan hingga bisa kembali dalam keadaan yang sama.


Setelah berdoa, para petinggi lainnya juga mengucapkan sedikit rasa terimakasih mereka. Sebenarnya Daddy Alex sudah menyiapkan bonus yang besar juga untuk mereka dan akan dikirimkan ke rekening mereka hari ini juga. Tapi tidak diberitakan sekarang, nanti saja saat mereka selesai bertugas. Dan mungkin akan di tambah lagi kalau pekerjaan mereka disana cukup berat dan lama.


Jaminan segala kebutuhan baik makanan dan tempat tinggal yang layak juga sudah di persiapkan. Dari pemerintah juga sudah banyak memberikan bantuan karena gempa itu merupakan salah satu bencana terbesar di negara S yang menyita perhatian dunia juga karena banyaknya korban dan kerusakan.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2