Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
72. Ingin Menjahit Mulutnya


__ADS_3

°°°


Mia sudah kembali ke rumah. Perginya dengan mom Tania tidak begitu lama karena mom Tania ingin supaya calon mantunya lebih banyak beristirahat saja di rumah. Agar besok terlihat segar dan fresh.


"Kau sudah pulang nak?" sambut Emma yang kebetulan ada di ruangan depan. Mungkin memang sengaja menunggu putrinya.


"Mah... kenapa kau tidak istirahat? Aku tidak mau kalau besok mamah tidak bisa mendampingi ku." Mia mendekati mamahnya yang tersenyum teduh. Beruntungnya Mia karena sang mamah sudah terbebas dari penyakit berbahaya dan masih bisa berkumpul bersama.


"Nak, apa kau baik-baik saja. Tadi kau pergi dengan Nyonya Tania, katanya beliau mengajakmu ke salon. Maaf mamah tidak bisa membelamu saat ini." Emma merasa bersalah pada putrinya, dia jelas tau putrinya secantik apa tapi tidak bisa berkata apa-apa di depan nyonya Tania.


"Tidak apa-apa Mah, bukankah ini adalah keputusanku dulu. Tidak perlu semua orang tau akan hal yang tidak penting. Bukannya kita bisa melihat bagaimana mereka menilai hanya dari penampilan, bukan dari hatinya." Kalau boleh berkata jujur, Mia memang merasa sedih dan kecewa karena mom Tania menilainya hanya dari penampilan. Tapi mom Tania punya alasan kenapa ingin calon menantu nya terlihat cantik. Bagaimana dia adalah istri dari CEO terbesar di negara ini, pasti nanti di depan teman-temannya dia tidak ingin menantunya terlihat tidak memalukan.


"Mamah selalu bangga padamu nak, kau wanita yang sangat kuat tidak seperti mamah. Kau tau bagaimana mengatasi masalah mu sendiri." Mamah Emma terharu, putrinya itu sudah sangat dewasa dan tau mana yang terbaik untuk dirinya.


Emma juga memaklumi tindakan calon besannya yang terkadang seperti merendahkan putrinya. Ya mungkin dia hanya ingin yang terbaik untuk putranya.


"Mia ke kamar dulu Mah, oh iya tadi aku belikan mamah pakaian yang cantik. Nanti malam mamah pakai ya, kita akan makan malam bersama papah," ujar Mia sembari mengusap lembut tangan mamahnya yang saat ini masih menggunakan kursi roda untuk kemana-mana.


Emma merona, dia seperti ABG yang kembali jatuh cinta pada pria yang dulu memang memenuhi ruang di hatinya. Sampai sekarang pun jujur, mamah Emma masih mencintai suaminya. Walaupun banyak kesalahan yang sudah pria itu lakukan.


"Mamah tidak perlu pakai baju cantik, nak."


"Kenapa Mah? Tidak usah malu, mamah harus terlihat cantik di depan papah. Buat laki-laki itu menyesal karena telah menelantarkan istrinya yang cantik." Mia mengerlingkan matanya.


"Kak Mia benar Mah, nanti aku bantu mamah untuk berdandan," sambar Felice yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Kak, apa kau juga membelikan pakaian untukku?" tanya Felice dengan mata berbinar.


"Ahh... maaf Kakak lupa, kalau punya adik yang menyebalkan ini." Mia buru-buru pergi dari sana sebelum adiknya mengamuk dan membuat keributan di rumah ini.


"Kakak kau...!!"


Felice kesal dan berkacak pinggang.


"Punyamu ada di kantong berwarna pink dan biru," teriak Mia yang sudah ada di tengah-tengah tangga.


Sontak wajah Felice pun langsung berubah seketika, langsung tersenyum cerah melihat deretan kantong belanjaan di atas sofa yang supir bawakan tadi.


"Terimakasih kakak ku tersayang."


Emma selalu mendapat hiburan tersendiri melihat kedua putrinya. Tidak bisa dibayangkan kalau tidak ada kedua putrinya yang begitu baik dan selalu memberikan kebahagiaan.


Mia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia perlu banyak healing rasanya. Penat di kepalanya sudah sangat menumpuk. Mungkinkah akan ada sesi bulan madu nantinya. Kenapa juga Mia memikirkan hal itu, libur beberapa hari saja pasti pekerjaannya sudah sangat menumpuk. Apalagi kalau di tambah pergi berlibur.


Daniel juga sibuk, bisa-bisa pasiennya berada dalam bahaya kalau di tinggal Daniel berlibur. Ya saat ini dokter bedah yang sehandal Daniel tidak banyak. Bisa dihitung dengan jari di negara ini. Entahlah mungkin tidak banyak yang meminati profesi itu atau mereka lebih tertarik bekerja di luar negeri yang lebih menjanjikan.


Sudahlah, itu urusan pemerintah bukan urusannya. Hanya saja kalau banyak dokter bedah pasti Daniel akan banyak waktu luang untuk nya nanti.


Ahhh Mia mikirin apa si sebenarnya.


,,,

__ADS_1


Di rumah sakit Star Medical center.


Daniel baru saja menyelesaikan operasinya yang terakhir hari ini. Tuh kan betul, dia sibuk. Besok sudah mau menikah saja masih melakukan operasi. Semoga saja Mia tidak ditinggal sendirian saat di atas altar besok.


Daniel menyalakan ponselnya ia matikan sebelum memasuki ruangan operasi. Kan bisa gawat kalau sedang operasi trus ada yang telepon.


Ada beberapa pesan dari mommy nya tapi tidak ada satu pesan pun dari calon istrinya. Ini semua karena mom Tania dan mamah Emma. Dia jadi tidak bisa berkomunikasi dengan Mia. Untunglah nanti malam mereka akan bertemu untuk makan malam bersama. Sudah tidak sabar rasanya.


"Woy Niel!!" Daren menepuk pundak sepupunya dengan begitu keras. Membuat si empunya mendelik.


"Hehehe... maaf bro. Jadi benar kalau kau mau menikah besok."


Daniel ingin menjahit mulut sepupunya yang tidak bisa berbicara lebih pelan itu. Sampai semua orang melihat mereka sekarang. Walaupun undangan juga sudah tersebar dan seluruh rumah sakit ini sudah tau. Tapi rasanya mereka masih tidak percaya. Daniel yang tidak pernah terlihat bersama wanita tiba-tiba menikah. Tidak masuk akal bukan. Jadilah hari patah hati berjamaah.


Wanita dulu berlomba-lomba menarik perhatian Daniel langsung pupus harapannya. Siapa calon mempelai wanita yang beruntung itu pun menjadi pertanyaan besar. Siapa wanita yang mampu mengambil hati pria tampan dan rupawan itu.


"Bisakah kau diam!" Daniel berjalan meninggalkan sepupunya.


Sejujurnya kabar pernikahan Daniel adalah hal yang paling membahagiakan untuk Daren. Karena artinya gelar pria lajang tertampan di rumah sakit itu akan kembali padanya.


Daren menyisir rambutnya sendiri dengan jari-jarinya. Sok ganteng itu pasti. Dia merasa wajahnya sebelas dua belas dengan Daniel. Secara mereka sepupuan, jadi Daren merasa wajahnya mirip dengan Daniel. Atau mungkin dimirip-miripin.


"Woy... Niel, kamu belum mengatakan siapa wanita itu," teriak Daren, dia sengaja melakukan hal itu. Seperti sedang mendeklarasikan pupusnya harapan para wanita yang mengagumi Daniel .


Sementara Daniel tidak mengindahkan ucapan sepupunya dan berjalan ke ruangannya.

__ADS_1


Nama Mia Khalisa memang tertera di kartu undangan tapi yang mereka ingin tau adalah sosok wanita beruntung itu. Karena Mia bukan artis atau publik figur jadi tidak bisa mencari tau lewat internet.


to be continue...


__ADS_2