
°°°
H-3 menjelang hari pernikahan.
Hari ini Mia mulai libur atas perintah Daddy Alex. Katanya tidak usah memikirkan pekerjaan lagi, fokus saja pada persiapan pernikahan.
Persiapan pernikahan apanya, Mia bahkan tidak ikut andil apapun. Semuanya sudah ditangani oleh pihak wedding organizer yang profesional tentunya. Langganan para pejabat dan artis terkenal. Sudah pasti hasilnya nanti akan sangat menakjubkan.
Hari ini Mia bahkan bangun dengan malas, dia merasa harus mengumpulkan tenaganya untuk hari H. Bisa dibayangkan bagaimana lamanya pesta berlangsung dan dia harus berdiri di altar dari pagi hingga malam. Dia tentu tau bagaimana para konglomerat kalau membuat pesta karena ia sering kali menggantikan Daddy Alex untuk memenuhi undangan.
Hoaammm... Mia baru saja meregangkan otot-otot setelah matahari meninggi. Di kamar barunya yang baru kemarin ia tempati.
Ceklek.
"Kak, ayo bangun!" pekik Felice tiba-tiba. Dia nyelonong masuk.
"Ada apa kau berisik pagi-pagi," protes Mia yang kembali menarik selimutnya yang terasa begitu lembut.
"Ya ampun Kak, ini sudah siang. Lihatlah matahari saja sudah tinggi." Felice membuka korden jendela kaca itu dengan remote .
"Ayo bangun Kak, kita sudah ditunggu di bawah," ujar Felice sambil menarik selimut yang menutupi tubuh kakaknya.
"Sebentar lagi, sepuluh menit lagi." Mia tak peduli selimut yang sudah tersibak, dia masih bisa meringkuk menepis dinginnya AC.
"Kau kau itu calon pengantin masa malas-malasan begini. Ayo bangun...," Felice masih bersikekeuh membangunkan kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa kalian belum siap juga, nak Daniel sudah menunggu kalian dari tadi." Emma menyipitkan matanya saat melihat kedua putrinya malah bermain-main di atas ranjang.
"Ini Kak Mia tidak mau bangun mah," adu Felice.
"Mia, cepat bangun. Itu calon suami mu sudah menunggu," ujar Emma, dia merasa kasihan pada Daniel yang sudah datang dari pagi tapi putrinya malah masih bermalas-malasan di atas ranjang.
Padahal Emma sudah bilang mau membangun Mia sejak tadi tapi Daniel melarangnya. Biarkan Mia bangun sendiri katanya dan sekarang malah sampai siang dia belum juga bangun.
"Mau apa dia kesini Mah?" tanya Mia yang sedang mencoba mengumpulkan nyawanya dari alam mimpi.
"Mau mengajak kalian pergi katanya, sudah sana mandi. Kasian dia sudah menunggu sejak tadi. Kau juga siap-siap Fel." Mamah Emma menatap putri keduanya yang sedang meledek kakaknya.
"Felice sudah mandi Mah," jawabnya.
"Ya sudah jangan ganggu kakakmu, biarkan dia bersiap." Di bantu dengan perawat mamah Emma keluar dari kamar putrinya. Ya tentu saja perawat yang Daddy Alex atur untuk menjaga mamahnya.
"Hai kenapa di bawa," protes Mia tapi sudah terlambat, adiknya sudah menghilang di balik pintu.
"Dasar adik nakal."
Mia mengecek ponselnya untuk mencari tau apa ada pesan dari Daniel. Kenapa juga pria itu tiba-tiba ada di sana. Biasanya juga memberitahu dulu kalau mau datang. Ahh Mia hampir lupa kalau rumah yang ia tempati saat ini adalah pemberian Daddy Alex, jadi tentu saja putranya bisa datang kapan saja.
Kaki Mia mulai turun satu persatu dari ranjang king size itu. Menapaki lantai marmer yang menjadi alas rumah itu. Berjalan ke kamar mandi yang luasnya seperti kamarnya saat masih di apartemen. Kamar mandinya saja seluas itu, jadi tidak bisa membayangkan bagaimana luas kamar yang ia tempati.
Mia mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu tanpa tersisa. Tubuh polosnya mulai memasuki ruangan yang dikelilingi kaca dan mulai menyalakan shower. Guyuran air pun membasahi seluruh tubuhnya, tubuh yang sebenarnya sangat indah seolah Tuhan memahatnya dengan begitu sempurna.
__ADS_1
Setelah merasa cukup bersih menyudahi ritual mandinya. Mia melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas da da dan di atas lutut.
Melihat pantulan tubuhnya di cermin besar yang ada di sana, menelisik jauh pada kejadian tempo hari saat dirinya dan keluarganya diminta pindah ke rumah itu yang katanya hadiah pernikahan dari Daddy Alex. Jadi Mia dan keluarga untuk sementara tinggal di sana, demi mamah Emma juga yang dalam proses penyembuhan. Butuh ruang yang lebih luas katanya agar bisa lebih leluasa dan nyaman.
Tentu saja Mia menolak hal itu, dia tidak ingin dipandang matre oleh orang-orang. Dia menikah dengan Daniel bukan karena itu semua. Mau tinggal di manapun setelah menikah juga tidak masalah.
Tapi pada akhirnya mereka pindah juga, karena kalau tidak katanya Daddy Alex akan membeli satu lantai apartemen yang Mia tinggali selama ini lalu merenovasinya dari empat bagian menjadi satu agar lebih luar. Bukankah itu merepotkan, ya sudah akhirnya mereka yang pindah ke rumah itu.
Apa mungkin semua orang kaya seperti itu, mengeluarkan uang seenaknya tanpa perlu khawatir akan habis. Ya memikirkan banyaknya aset yang dimiliki keluarga Starles saja rasanya Mia tak sanggup. Jadi kalau hanya untuk satu rumah ini mungkin seperti membeli cemilan.
Nah kalau Mia dan Daniel setelah menikah terserah mau tinggal di mana. Di rumah itu juga boleh asal Alex dan Tania minta dalam seminggu dua kali mereka harus tinggal di masion utama.
Lama memikirkan semua itu, Mia pun bergegas keluar untuk segera memakai pakaian. Di bukanya ruangan di balik pintu yang ada di kamarnya. Ternyata masih ada ruangan lagi yang cukup besar, berisi lemari-lemari pakaian dan tas di sisi lainnya juga ada sepatu-sepatu yang cantik.
Mia memilih salah satu pakaian longgar seperti biasa. Menurutnya belum waktunya ia menunjukkan pesonanya.
"Kak, apa kau sudah siap?" tanya Felice yang datang lagi untuk memanggil kakaknya. "Kau lama sekali kak, aku sudah dua kali kesini dan kau belum siap juga," gerutunya.
"Kenapa harus buru-buru, salahnya yang tidak bilang kalau mau mengajak pergi." Mia menyalahkan Daniel, katanya pria itu akan mengerjakan sesuatu di rumah sakit dan tidak mengganggunya. Tapi baru sehari sudah datang.
"Eh kak, kau cantik sekali menggunakan style seperti ini. Pintar sekali kau memadu padankan pakaian ini Kak." Felice mengagumi penampilan kakaknya yang terlihat jauh lebih muda tidak seperti biasanya. Dia tentu tau kalau sebenarnya kakaknya itu sangat cantik.
"Benarkah? Apa terlihat cantik? Berarti aku harus mengganti nya," ujarnya, dia membalikkan tubuhnya melangkah ke walk in closed.
"Kau mau apa Kak? Tidak ada waktu untuk mengganti pakaian lagi, ayo turun." Felice tau apa yang akan dilakukan kakaknya kalau ada yang memujinya cantik, pasti mau berganti baju dengan style kuno lagi.
__ADS_1
Aku tidak akan membiarkannya kali ini kak, maafkan aku. Felice tersenyum menyeringai.
to be continue...