
°°°
Yang ditunggu akhirnya datang juga. Papah Willy sudah datang. Beliau masih bisa berjalan sendiri meskipun pelan dan dengan bantuan tongkat sekarang.
"Maaf saya terlambat." Papah Willy meminta maaf saat baru saja masuk ke ruangan itu.
Semua orang yang sedang mengobrol langsung terdiam dan mengalihkan pandangannya ke suara laki-laki tadi.
Mamah Emma terpaku, melihat sosok laki-laki yang ia rindukan ada di depan matanya. Diam-diam mamah Emma memang sering menangis memikirkan mantan suaminya. Tapi dia tidak bisa apa-apa karena memang tindakan yang mantan suaminya lakukan dulu itu salah dan dia tidak mau membuat putrinya sedih dengan menemui ayah mereka.
Kini laki-laki itu ada di depan matanya, dan dari putri-putrinya sudah tidak ada lagi kebencian. Bisakah dia mendekat pada pria itu saat ini.
Mamah Emma mere-mas kain yang Ia pakai untuk mengontrol perasaannya yang kini begitu senang saat melihat pria itu. Bagaimana pun malam ini adalah malam yang membahagiakan untuk putrinya dan ada calon besannya juga di sana. Ia tidak ingin bertindak implusif yang membuat putrinya malu.
"Tidak apa-apa Tuan, kami juga baru saja datang." Dad Alex menyambut kedatangan calon besannya.
"Niel, bantu calon papah mertuamu," perintahnya pada sang putra.
Daniel pun bangun dan segera menuntun papah Willy untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tepat di sebelah Felice,
"Silahkan duduk Pah." Daniel menarikan kursi untuk papah Willy.
"Terimakasih nak.
"Karena kita berkumpul bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu, baru mengobrol nanti. Perut saya rasanya sudah lapar," canda dad Alex yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya dari sang istri.
"Dad ini bikin malu saja," omel mom Tania.
__ADS_1
"Daddy beneran lapar Mom." Dad Alex merajuk pada istrinya. Pemandangan yang sangat langka karena sikap dad Alex yang seperti itu hanya ia tunjukkan jika ada sang istri. Beda lagi kalau sedang di perusahaan. Jika sedang rapat saja para karyawan tidak berani untuk bernafas dengan keras.
"Dad, Mom... kalian ini tidak tau tempat. Di rumah saja kalau mau bermesraan." Daniel tersenyum kaku pada keluarga Mia.
Dad Alex yang sadar kalau di sana ada orang lain langsung membenarkan duduknya dan merapikan jas yang ia pakai. Lalu memanggil pelayan untuk membawakan mereka makan malam.
Tidak butuh waktu lama berbagai macam makanan sudah ada di meja. Tak lupa wine dengan merek mahal pun ada di sana. Sengaja dad Alex yang memintanya. Untuk merayakan kebahagiaan mereka. Tentu saja ada yang protes dengan rencananya itu.
"Dad, besok putramu mau menikah. Bagaimana kau bisa memesan minuman beralkohol juga. Besok kepalamu bisa pusing saat menemui tamu." Mom Tania menjadi yang pertama protes.
"Mommy benar Dad, setelah aku menikah baru dad bisa merayakannya." Daniel ikut protes tapi justru perkataanya membuat Mia merona.
"Maaf maaf, Daddy hanya terlalu senang. Maafkan saya besan..." Dad Alex meminta maaf pada papah Willy.
"Tidak apa-apa Tuan, anda pasti merasa sangat bahagia. Aku juga akan melakukan hal yang sama kalau saja aku masih bisa minum," sahut Willy yang mendapatkan lirikan tajam dari kedua putrinya.
Di negara itu sudah biasa ada wine, anggur atau arak di meja makan mereka. Apalagi jika dalam sebuah acara makan malam seperti itu.
,,,
Makan malam pun berjalan dengan lancar. Kecanggungan hanya di awal-awal saja, pada akhirnya mereka bisa dengan mudah dekat dan mengobrol tanpa rasa canggung lagi.
Walaupun sebenarnya Mia masih merasa keluarga mereka tak cocok. Perbedaan mereka sang ketara. Seperti langit dan bumi. Entah akan seperti apa besok saat pesta pernikahan berlangsung. Pasti akan banyak orang yang menggunjingnya di belakang.
Walaupun hal itu sudah biasa tapi saat dirinya dibilang tidak pantas untuk menjadi istri Daniel, kenapa rasanya menyedihkan. Toh ini juga bukan keinginannya. Dia sudah sadar diri dari awal tapi pihak Daniel yang terus berusaha untuk menikahinya.
Huhhh... hanya perlu menebalkan telinga mulai besok.
__ADS_1
Sebenarnya awalnya Mia ingin minta kalau pernikahan mereka di sembunyikan dari orang lain saja. Tapi dad Alex tidak setuju akan hal itu, dia justru ingin memberitahu kepada seluruh dunia siapa menantunya. Ishh... memalukan sekali, Mia merasa tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya.
"Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Daniel, dia menyusul Mia yang sedang berdiri di balkon ruangan itu. Dengan satu gelas wine di tangannya. Ternyata dad Alex masih bersikeras untuk minum, tapi dengan pengawasan dari istrinya tentu.
"Tidak ada." Tangannya menggoyangkan gelas yang ia pegang lalu kembali menyesap minuman itu. Seperti itulah biasanya mereka menikmati minuman sejenis itu.
"Jangan minum terlalu banyak, kemampuan minum mu tidak cukup bagus." Kedua tangan Daniel bertumpu pada pinggiran balkon.
"Hanya sedikit tidak akan membuat ku mabuk. Waktu itu aku minum terlalu banyak," terang Mia dengan wajah yang merona di bawah sinar bulan.
"Apa kau menyesal?" tanya Daniel sambil memiringkan tubuhnya dan menatap Mia. Wanita yang sudah menempati hatinya tanpa ia sadari.
Dari melihatnya di dalam foto saja sudah membuat Daniel terpana, dengan penampilan Mia yang terlihat lebih muda dan ceria. Dan malam ini Mia terlihat lebih dewasa dan se-xy dengan pakaian itu. Daniel jadi teringat malam itu karena pakaian yang Mia kenakan saat ini menunjukkan bentuk tubuhnya.
Siaall... Daniel mengumpat dan melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa mencekik. Apalagi saat Mia beradegan meminum wine itu dengan sangat cantik. Leher jenjangnya bisa Daniel lihat dengan jelas.
Buru-buru Daniel mengalihkan pandangannya sebelum terlambat. Sebelum sesuatu bangun lagi.
"Menyesal? Kenapa harus menyesal kalau pada akhirnya aku menikah dengan putra dari pemilik perusahaan terbesar di negara ini." Mia terkekeh dengan ucapannya. Ya dari pada menyesal lebih baik dia nikmati saja selagi ada.
Daniel cukup terkesima dengan ucapan Mia. Dia tau kalau Mia bukanlah wanita yang gila harta. Seperti wanita-wanita yang pernah ia temui. Dari perkataannya barusan, dia pasti terbebani dengan status keluarga Daniel. Ya sebagai sekretaris bosnya, bagaimana bisa ia malah menikah dengan putra bosnya sendiri.
"Aku jarang menggunakan nama belakang ku, kita juga tidak akan hidup dari harta daddy. Aku bisa memberimu uang dari gajiku sebagai dokter. Apa kau keberatan?"
"Tidak perlu, simpan saja untuk keperluan mu. Aku masih bisa mencari uang sendiri. Kita memang suami istri tapi tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu." Mia membalikkan tubuhnya hendak kembali kedalam karena minumannya telah habis dan udara di luar juga dingin.
to be continue...
__ADS_1