Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
68. Luluh


__ADS_3

°°°


Bulir bening itu sudah membasahi pipi kedua perempuan kakak beradik itu. Daniel sudah menceritakan semuanya, kini ia menyerahkan keputusan pada Mia. Kalau memang dia tetap tidak mau menemui papahnya, Daniel tidak bisa memaksa lagi.


"Kak, ayo kita turun. Aku ingin menemui papah." Felice, gadis itu lebih mudah tersentuh hatinya. Atau mungkin karena dulu ia masih kecil dan tidak begitu mengerti dengan keadaan yang terjadi di rumahnya.


Mia masih bergeming sambil memegang hasil pemeriksaan medis milik papahnya. Daniel tidak bisa menebak apa yang dipikirkan calon istrinya itu, dia juga tidak bisa memaksa. Bagaimana pun seseorang yang sudah terluka pasti akan sulit untuk memaafkan.


Mia, terjadi pergolakan batin dalam dirinya saat ini. Antara kebencian yang sudah mendarah daging dengan rasa iba menatap laki-laki yang terlihat sangat tua di luar sana. Mia benci ini, dia tidak suka dengan perasaannya saat ini. Dia ingin tidak peduli tapi hatinya berkata lain.


Sakit, Hah... mungkin itu hukuman Tuhan untuknya. Apa peduli Mia, dia adalah pria yang sudah menghancurkan harapan dan pandangannya pada sosok seorang ayah. Seorang ayah yang seharusnya melindungi dan mengayomi keluarganya tapi hanya memberikan penderitaan untuk keluarga.


Lalu kenapa tiba-tiba perasaan benci itu memudar saat membaca tulisan di selembar kertas itu. Apa Mia lupa apa yang sudah laki-laki itu lakukan pada mamahnya dan juga dirinya yang pada waktu itu hampir di jual untuk melunasi hutang judinya.


"Kak... kita turun sebentar ya. Ini yang terakhir kak, aku janji tidak akan menemui pria itu lagi." Felice masih berusaha membujuk sang kakak yang hatinya sudah membeku pada makhluk yang di panggil papah itu.


Daniel menggeleng saat Felice hendak mengatakan sesuatu lagi. Mungkin saat ini Mia butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Mereka bisa kembali lain waktu, itupun kalau laki-laki itu bisa hidup lebih lama.


"Kita pulang sekarang," ujar Daniel yang sudah siap menyalakan kembali mobilnya.


Felice menyandarkan tubuhnya pasrah sambil menatap pria yang terlihat rapuh itu dari kejauhan. Benarkah pria itu sekarang berkebun, seingatnya dulu pria itu hanya duduk diam sambil meminum kopi di teras rumah. Memperhatikan mamah Emma dan sang sang kakak yang sibuk menanam sayuran di halaman mereka yang tidak terlalu luas tapi hasilnya lumayan saat sayuran itu sudah siap panen.


Sebenarnya apa yang terjadi, bahkan Daniel pun belum tau karna tuan Willy itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berpesan agar Daniel tidak memberitahukan mengenai sakitnya pada siapapun.


Daniel sudah menyalahkan mobilnya dan mulai memutar balikkan mobil itu. Sampai suara mencekak seseorang mengehentikan gerakan tangannya.

__ADS_1


"Sejak kapan ia sakit?" tanya Mia.


"Hah? Berdasarkan hasil pemeriksaan mungkin sudah sangat lama. Beliau sendiri mengatakan kalau awalnya sakit biasa dan tidak ada mencurigakan tapi setelah berobat keadaannya tidak membaik juga hingga seperti sekarang, sel kankernya sudah menyebar dan mungkin hidupnya tidak lama lagi."


"Sepertinya beliau mulai sakit-sakitan saat kalian sudah pergi, kata para tetangga setelah kalian pergi kehidupannya jauh berbeda. Tidak lagi mabuk-mabukan dan berjudi," ujar Daniel lagi.


Mia tak lagi bersuara, kembali diam dan tampak memikirkan sesuatu.


"Kak...," harap Felice yang masih ingin turun untuk melihat papahnya lebih dekat. Dia meletakkan tangan kanannya di bahu sang kakak.


"Kita turun." Mia mengangguk dan menepuk tangan sang adik yang masih di pundaknya.


Daniel dan Felice lega mendengarnya, senang juga karena akhirnya Mia mau menepisnya egonya. Mengesampingkan rasa kecewanya dan mau menemui papahnya. Tidak ada mantan orang tua dan mantan anak. Selamanya mereka tetap ayah dan anak, ada darah Willy sang ayah yang mengalir dalam darah Mia. Dan tidak akan pernah bisa dipungkiri itu.


Laki-laki itu sesekali menyeka bulir keringatnya yang mengalir dari pelipis hingga lehernya. Pria itu yang dulu tampak gagah dan tegas kini sudah jauh berbeda.


"Papah...." Felice berlari menghampiri papahnya. Air matanya sudah menganak sejak tadi, dia begitu terharu bisa melihat papahnya lagi setelah sekian lama.


"Fel... Felice... kenapa kau bisa disini nak?"


Willy tak percaya dengan yang ia lihat, putri kecilnya ada dihadapannya sekarang.


Felice menghambur memeluk papahnya. Jika dulu mungkin dia akan takut karena pria itu selalu melihatnya dengan tatapan yang menakutkan. Tapi sekarang sudah tidak ada tatapan seperti itu lagi, kini matanya memancarkan kerinduan yang teramat pada keluarganya.


"Papah kotor nak," ujarnya saat sang putri tidak segan memeluknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa pah. Papah apa kabar?"


"Papah baik nak, kenapa kau bisa disini. Kakakmu bisa marah kalau kau datang kesini tanpa memberitahu nya." Papah Willy selalu mengingat bagaimana putri pertama nya begitu membencinya.


"Siapa bilang aku tidak memberitahu nya, kami bahkan datang bersama."


Felice menyeka sisa air matanya dan tersenyum pada sang papah. "Kak Mia juga datang," ujarnya lalu dia menyingkir dan membiarkan papahnya melihat keberadaan kakaknya.


"Mia... kau kah itu?" Papah Willy tak bisa menahan rasa bahagianya, kedua putri yang ia rindukan kini ada di hadapannya. Air mata pun mewarnai pertemuan mereka setelah sekian lama.


Mia dan papah Willy sama-sama berjalan mendekat. Sampai mereka berhadap-hadapan, papah Willy tiba-tiba saja berlutut dihadapan putrinya, putri yang dulu sering ia kasari dan ia bentak. Kini telah menjadi wanita mandiri dan kuat, mungkin memang takdir yang memainkan itu semua agar Mia sekuat sekarang.


"Apa yang papah lakukan?" pekik Mia, Matanya membelalak dia sungguh terkejut dengan tindakan yang dilakukan papahnya. Bagaimana mungkin pria yang dulu menakutkan kini berlutut dihadapannya dengan tangis penyesalan.


"Maafkan papah nak, papah bahkan tidak pantas lagi di sebut papah. Maafkan pria yang tidak berguna ini, maafkan pria yang sudah membuat kalian menderita..."


"Tidak pah, jangan lakukan ini. Berdirilah," ujar Mia dengan suara parau, seraya membantu sang papah untuk kembali berdiri tapi pria itu malah tidak mau.


"Biarkan papah seperti ini nak, papah pantas mendapatkan ini semua. Kau lampiaskan saja amarahmu nak, pukul papah sepuasnya kalau hal itu bisa menebus kesalahan papah." Pria itu malu kalau mendapatkan maaf dengan mudah sedangkan kesalahannya sudah sangat keterlaluan.


"Tidak Pah, bangunlah atau aku benar-benar tidak akan memaafkan mu. Aku tidak akan melakukan hal kasar seperti itu, aku bukan Papah." Mia menekankan kalimat terakhirnya, meski ia benci, kecewa dan terluka. Namun, dirinya tidak pernah menyimpan dendam pada pria itu.


Jadi kalau kemarin dia ditanya apa yang ia lakukan kalau bertemu dengan papahnya, jawaban hanya dia akan pergi karena dia tidak ingin melihatnya. Bukan dia ingin menghajar atau membunuh, tidak. Mia sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu.


to be continue...

__ADS_1


😢😢😢😢


__ADS_2