Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
37. Apa Tujuannya?


__ADS_3

°°°


Hari demi hari berlalu setelah pembicaraan mengenai pernikahan malam itu.


Kini Mia mulai fokus kembali pada pekerjaannya tanpa ada lagi beban yang ia pikirkan karena jika nanti ditanya dia sudah mengantongi jawabannya.


Mia dalam perjalanan pulang ke rumah sakit karena ibunya masih di rawat di sana. Rencananya memang mau sampai operasi dilakukan.


Sebelumnya dia juga mampir untuk membelikan adiknya makanan dan juga buah untuk mamahnya.


Sampai di rumah sakit.


Mia bergegas menuju ruangan mamahnya dengan beberapa kantong makanan di tangannya.


"Aku datang...," ujarnya saat memasuki ruangan itu tanpa melihat apakah ada orang lain atau tidak di sana.


"Kau sudah pulang nak," sahut mamah Emma.


"Iya Mah, ini aku bawakan buah kesukaan Ma...." Mia terkejut saat mendapati Daniel ada di ruangan mamahnya. Tadi tubuh pria itu tertutup tirai jadi Mia tak melihatnya.


"Ini ada dokter Daniel disini nak, beliau menemani Mamah mengobrol ." Mamah Emma terlihat lihat akrab dengan pria itu. Entah apa saja yang sudah mereka bicarakan.


Mia hanya tersenyum tipis pada Daniel untuk menghormatinya lalu melewatinya begitu saja untuk menaruh barang-barangnya.


"Karena putri anda sudah datang, kalau begitu saya permisi Nyonya. Selamat beristirahat, jangan lupa besok Nyonya melakukan tes MRI sebelum operasi." Daniel membungkuk hormat.


"Terimakasih sekali lagi karena dokter sudah menemani saya." Mamah Emma pun tersenyum.


Sementara Mia masih memunggungi mereka sampai Daniel menghilang barulah dia berbalik.


"Di mana Felice Mah?" tanya Mia.


"Adikmu ada urusan sebentar katanya, nanti juga pulang," ujar mamah Emma.


"Urusan apa sampai meninggalkan mamah sendirian. Apa ada yang lebih penting dari menjaga Mamah." Mia kesal dibuatnya.


"Ya ampun sayang, kenapa kamu tiba-tiba kesal. Lagian mamah juga tidak sendirian sejak tadi, ada dokter Daniel yang menemani mamah."


"Bukannya dia dokter yang sibuk dan pasiennya banyak. Kenapa punya waktu senggang buat menemani mamah, aneh...," gumam Mia lirih.


"Kau bilang apa nak?" Mamah Emma sedikit mendengar putrinya berbicara tapi tak mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mah. Apa Mamah mau makan buah? Biar aku kupaskan," ujar Rara seraya mengambil buah yang tadi ia bawa.


"Tidak nak, Mamah sudah makan buah tadi. Dokter Daniel yang mengupasnya."


Mia mengerutkan sudut matanya. Lagi-lagi dokter Daniel.


"Kalau begitu, apa Mamah mau makan yang lain selain makanan rumah sakit. Ini tadi aku belikan," ujar Mia lagi.


"Mamah sudah kenyang nak, tadi dokter Daniel juga membawakan mamah makanan," jawab mamah Emma seraya menonton acara TV kesukaannya.


Dia lagi!! Apa tujuannya mendekati keluarga ku. Mia tidak jadi mengeluarkan makanan, dia mendadak tidak jadi lapar setelah melihat pria itu dekat dengan mamahnya.


"Aku ke depan sebentar mau beli kopi, Mamah tidak apa-apa sendirian?" Sepertinya kopi panas cukup cocok dinikmati di malam yang dingin itu.


"Tidak apa-apa, kau keluar saja."


Tanpa menoleh mamah Emma menyahut, acara TV kesukaannya sangat sayang jika terlewatkan.


,,,


Mia pun berjalan keluar menuju kedai kopi yang ada di depan rumah sakit itu.


Apa sebenarnya tujuan pria itu mendekati mamah. Pasti bukan ketidaksengajaan, itu pasti sudah direncanakan.


Setelah membeli kopi, Mia pergi mencari Daniel ke ruangannya.


Tok tok tok.


Mia mengetuk pintu sebelum masuk, setidaknya dia masih punya sopan santun dan tidak sembarang masuk ke ruangan seseorang.


Kenapa lama sekali, apa dia tidak ada di dalam.


Mia pun berusaha mengetuk pintu itu dengan sedikit lebih keras. Namun, setelah beberapa saat tetap tidak ada yang menyahut.


Sepertinya dia tidak ada, besok saja aku kembali lagi.


Mia membalikkan tubuhnya tapi ternyata Daniel sudah ada di belakangnya dan kopi yang Mia bawa pun tumpah mengenai kemeja pria itu.


"Aa... ya ampun. Anda tidak apa-apa Tuan, biar saya bantu bersihkan," panik Mia saat noda kopinya mengenai kemeja Daniel yang berwarna putih dan pastinya akan susah hilang walaupun sudah mengelapnya.


Bagaimana ini, tidak mau hilang lagi bekasnya.

__ADS_1


Mia terus menyapukan sapu tangan untuk membersihkan noda itu tapi justru nodanya semakin melebar.


"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar tidak sengaja. Bagaimana kalau anda melepaskan kemejanya, nanti aku akan mencucinya," ujar Mia.


Sementara Daniel sejak tadi justru memperhatikan wajah Mia dari dekat. Padahal kopi yang Mia pegang cukup panas dan sedikit membakar kulit perutnya.


"Tidak apa-apa biar aku bersihkan sendiri," tutur Daniel. "Apa kau di sini untuk mencari ku?" tanyanya kemudian.


"Iya, ada sesuatu yang mau saya bicarakan dengan anda. Apa anda sibuk? Kalau sibuk, lain kali saja saya datang lagi," ujar Mia.


"Oh iya sekali lagi saya minta maaf karena sudah mengotori kemeja anda. Nanti saya akan menggantinya dengan yang baru," imbuhnya lagi. "Permisi," pamitnya seraya membungkukkan tubuhnya.


"Tunggu!" Daniel mencegat pergelangan tangan Mia. "Masuklah, bicarakan sekarang saja. Aku sudah tidak ada pekerjaan," terangnya seraya menatap lekat wajah Mia, mungkin jika ada yang melihat pasti akan berpikir kalau mereka pasangan yang sedang bermesraan di lorong yang sepi.


"Baik," ujar Mia seraya menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Daniel.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan Daniel.


"Apa yang mau anda lakukan Tuan?!" sentak Mia dengan membalikkan tubuhnya saat melihat Daniel membuka kancing kemejanya.


"Aku... tentu saja berganti baju. Apa aku harus menggunakan kemeja yang sudah basah dan lengket ini sepanjang malam." Daniel tak peduli akan keberadaan Mia, dia meneruskan membuka kemejanya sekaligus mau melihat luka tersiram air panasnya parah atau tidak.


Kenapa pria itu tidak tau malu sekali. Dia kan bisa berganti pakaian di kamar mandi.


Daniel sudah selesai berganti pakaian dan sedikit mengoleskan salep pada kulitnya yang memerah. Mungkin jika itu orang lain yang tak sengaja menumpahkan kopi panas, dia akan marah tapi pada Mia sama sekali tidak ada rasa kesal ataupun marah.


"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Daniel yang sudah duduk di kursinya sedangkan Mia masih setia memunggunginya sejak tadi.


Kenapa juga dia harus malu, bukan kami sudah pernah melakukan hal lebih.


"Mmm ... itu apa Tuan sudah selesai berganti pakaian?" tanya Mia gugup.


"Kenapa? Apa kau mau melihatnya?" goda Daniel.


"Bu ... kan seperti itu Tuan, kalau belum saya tunggu di luar saja." Pipi Mia sudah semerah tomat.


"Berbalik lah kalau kau mau tau," ujar Daniel. Dia ingin melihat apa yang akan Mia lakukan.


to be continue...


°°°

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2