Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 10. Penyelamat


__ADS_3

Setelah mendapatkan pendonor darah, Daniel pun segera melakukan tindakan. Berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkan anak itu sebisanya. Segala persiapan sudah ia lakukan, sarung tangan, masker, penutup kepala dan jubah operasi sudah ia pakai. Pisau bedah pun sudah di pegangnya, ia siap bertempur kali ini. Para dokter dan perawat yang ada disana pun siap membantu apa saja yang Daniel perlukan karena itu adalah termasuk operasi yang langka dan masih jarang di dunia kedokteran.


Para petinggi rumah sakit yang mengetahui hal itu pun langsung datang menyaksikan dari ruangan khusus. Mereka semua berharap operasi kali ini berjalan lancar seperti operasi yang biasa dokter Daniel lakukan.


Sementara itu di sebuah ruangan tempat orang yang mau menyumbangkan darahnya. Daren masih beristirahat disana, tubuhnya terasa lemah setelah dua kantong darah terisi penuh berkat rasa kemanusiaan nya. Walaupun sebenarnya dia sendiri paling tidak suka di suntik apalagi melakukan transfusi darah yang rasanya lebih sakit. Tapi saat di ruangan operasi tadi melihat anak kecil itu tampak sangat menderita, membuat hati Daren tergugah untuk menolongnya.


"Dok, ada yang ingin bertemu dengan anda," ujar perawat.


"Siapa? apa dia laki-laki, kalau iya suruh saja pergi. Bilang saja aku ingin beristirahat." Daren malas.


"Wanita dok, dan lumayan cantik," ujar perawat itu lagi, memberitahu Daren.


"Benarkah, kenapa tidak bilang dari tadi. Suruh saja dia masuk." Daren segera membetulkan posisi duduknya, tentu saja dia tidak ingin terlihat lemah di depan seorang wanita.

__ADS_1


"Permisi dok," sapa seorang wanita bersuara lembut dan sedikit parau karena terlalu banyak menangis.


Daren mendongak dan melihat ke arah wanita itu. Sekejap pandangan mata mereka pun saling bertemu, jelas Daren bisa melihat tatapan mata sayu milik Lucy. Dia mungkin sempat membenci wanita itu karena menurutnya, wanita itu adalah penyebab gagalnya Daren untuk mendekati Felice. Tapi mungkin itu dulu saat ia masih punya perasaan yang menggebu untuk mendekati Felice. Saat ini dia malah merasa sangat kasihan pada wanita itu.


"Ada apa?" tanya Daren.


"Sa-saya ingin berterimakasih pada anda, dok. Karena anda sudah bersedia mendonorkan darah untuk putraku. Mungkin selama aku tidak akan mungkin bisa membalas budi baik dokter, tapi jika mungkin suatu saat dokter membutuhkan bantuan saya siap untuk membantu." Lucy masih berdiri sambil me-re-mas jari-jarinya sendiri, dia gugup. Dia sadar kalau pria itu dulu menatapnya dengan kebencian.


"Tidak perlu berterimakasih, sebagai sesama manusia kita memang harus saling tolong menolong bukan. Sebagai orang yang baik tentu aku harus membantu orang yang sedang dalam kesusahan." Daren kembali menyenderkan punggungnya beristirahat, sambil memegangi lengan bagian dalam nya yang masih terasa sakit akibat jarum suntik.


"Ya ya, sudah cukup. Lebih baik kau menunggu putramu saja, tidak perlu cemas. Sebentar lagi aku juga sehat lagi.' Daren segera menyuruh Lucy pergi, dia tidak bisa berlama-lama melihat wajah yang sangat menyedihkan itu. Entah kenapa dirinya juga ikut merasakan kesedihannya.


,,,

__ADS_1


Tiga jam kemudian.


Semua orang masih menunggu dengan cemas di depan ruangan operasi. Dokter mengatakan operasinya mungkin bisa berlangsung sekitar tiga hingga empat jam tapi sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda apapun. Hanya sesekali perawat berlalu lalang dengan tergesa-gesa, membuat mereka semakin cemas saja.


"Sabar Lucy, semua nya pasti akan baik-baik saja." Felice terus mendampingi Lucy, dia juga pernah merasakan hal sama saat mamah Emma sedang berada di ruangan operasi.


"Nona, kenapa lama sekali..." lirih Lucy yang sudah hampir putus asa menunggu. Selain itu dia sungguh tidak enak karena dirinya sudah merepotkan banyak orang.


"Huusssttt... Lucy, kau tidak boleh berbicara seperti itu. Dulu bahkan aku dan kak Mia lebih lama menunggu mamah selesai di operasi tapi kami tidak pernah sekalipun berkata buruk. Kita harus yakin kalau Zoro pasti selamat, karena ucapan adalah doa." Felice setia mendampingi wanita yang sudah ia anggap saudaranya sendiri itu. Karena Lucy tidak punya siapa-siapa lagi disana, ibunya juga sudah cukup berumur dan sakit-sakitan jadi tidak mungkin kalau harus menunggui di rumah sakit.


" Yang Felice ucapkan benar, kita harus terus berkata yang baik dan berdoa. Biar dokter yang berusaha menyelamatkan Zoro di dalam sana," ujar Mia yang duduk di samping kiri Lucy, ikut mengusap punggung wanita itu.


Sementara mamah Emma ada di samping Mia untuk menjaga putrinya yang sedang mengandung itu.

__ADS_1


Daren juga ada disana, duduk di barisan paling belakang sendirian. Setelah merasa tenaganya cukup pulih, dia memutuskan untuk menunggu bersama mereka. Dia juga ingin tau bagaimana keadaan anak itu, setelah pengorbanan yang ia lakukan harusnya anak itu selamat bukan. Kalau tidak maka pengorbanannya hanya akan sia-sia saja.


__ADS_2