
°°°
Mia kembali ke ruangan mamahnya dirawat. Bohong jika Mia saat ini baik-baik saja, nyatanya setelah menolak pertanggungjawaban dari pria itu. Kini dia juga diliputi rasa takut, takut kalau benar jika dia bisa hamil nantinya.
Tidak Mia kau tidak perlu khawatir kalau nantinya kamu hamil, kau bisa mengurus anakmu sendiri dengan penuh cinta. Dari pada harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaimu. Kau tidak ingin kan bernasib sama seperti mamah.
Mia meyakinkan dirinya kalau keputusan yang ia ambil sudah tepat. Kalaupun hamil juga akan mengurus sendiri anaknya. Sebenarnya Mia mungkin trauma dengan hubungan kedua orangtuanya. Mereka yang dulunya menikah karena saling mencintai saja bisa berpisah dan sang ayah sama sekali tidak peduli dengan anaknya sendiri. Bagaimana dengan pernikahan yang tidak diinginkan dan sama sekali tidak ada perasaan, pastilah akan berakhir lebih mengenaskan.
"Kak Mia, kenapa berdiri disitu terus?" tanya Felice yang barusan mau keluar sebentar tapi malah melihat kakaknya mematung di depan pintu.
"Apa terjadi sesuatu pada mamah kak, apa yang dokter itu katakan?" tanya Felice dengan nada khawatir. Bagaimana tidak kalau saat kakaknya kembali dari ruangan dokter, dia terlihat begitu menyedihkan.
Mia pun mengulas senyum agar sang adik tidak curiga.
"Dokter bilang mamah bisa di operasi setelah keadaannya membaik," ujar Mia agar sang adik tidak cemas lagi.
"Syukurlah, aku kira ada apa? Tapi kenapa kak Mia terlihat tidak senang?" Felice masih memperhatikan kakaknya yang beraut wajah sedih.
"Tidak apa-apa, aku hanya agak pusing sedikit. Kau mau kemana?" tanya Mia mencoba mengalihkan perhatian sang adik.
"Apa kak Mia sakit, kalau begitu kakak istirahat saja di sofa. Aku mau keluar sebentar beli makanan, kak Mia mau makan apa?"
Mia tersenyum mendapatkan perhatian dari sang adik. Sepertinya setelah kejadian mamah yang pingsan di kamar, sekarang Felice jadi lebih perhatian pada keluarganya.
"Apa saja, samakan saja dengan punyamu. Belikan kopi dingin juga," pesan Mia.
"Siap, aku pergi dulu." Felice segera pergi dari sana.
Selepas kepergian sang adik, Mia duduk disampingnya ranjang tempat mamahnya berbaring. Dia memegang tangan wanita yang telah melahirkannya dengan perasaan sesak. Walaupun kata dokter keadaan mamahnya baik-baik saja tapi melihat sang mamah tak berdaya seperti itu tetap menyesakkan bagi Mia.
"Maafkan aku mah, maaf Mia tidak memperhatikan mamah dengan baik sampai tidak tau kalau mamah sering menahan kesakitan sendiri."
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, bahkan membuat kacamata yang ia pakai mengembun. Walaupun Mia masih punya papah tapi baginya laki-laki itu sudah tidak ada. Laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan menjadi penyebab sakitnya sang mamah.
__ADS_1
Ya dulu saat masih belum bercerai sang mamah seringkali mendapatkan siksaan dari suaminya. Hinggap suatu saat laki-laki itu membenturkan kepala mamah Emma dengan begitu keras. Karena keterbatasan biaya dan minimnya peralatan medis pada waktu itu jadilah berakibat fatal seperti saat ini. Seolah mamah Emma menanggung sakit yang tidak berkesudahan.
Mia melepaskan kacamatanya dan menghapus air mata yang lolos begitu saja.
"Aku berjanji pada mamah, kalau mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan mamah. Mamah juga tidak boleh lagi menutupi apapun dari aku dan Felice."
Mia menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking mamahnya.
,,,
Felice sebenarnya tidak langsung pergi mencari makan tapi dia pergi mencari tempat untuk menangis. Dia duduk di sudut taman rumah sakit dan menumpahkan air mata yang sejak tadi sudah ingin keluar.
Hiks hiks hiks...
Tidak peduli jika ada yang melihatnya sekarang yang penting dia tidak menangis di depan kakaknya. Dia tidak ingin menambah beban sang kakak. Dia hanya ingin menjadi orang yang bisa menghibur kakaknya saat ini.
Aku memang bukan adik dan putri baik. Aku hanya menjadi beban kak Mia selama ini.
Sebenarnya Felice sudah menolak untuk kuliah dulu karena tidak ingin membuat kakaknya Beker terlalu keras untuk mencari uang. Namun, sang kakak memaksanya dengan alasan yang masuk akal sebenarnya. Memang benar kalau saat ini pendidikan itu penting, dengan pendidikan orang tidak akan direndahkan begitu saja.
"Pakailah, kau pasti membutuhkannya," ujar seseorang bersuara pria.
Felice pun mendongak melihat orang itu, seorang pria dengan jubah putih. Felice tebak kalau pria itu adalah salah satu dokter di rumah sakit itu.
"Pakailah, tidak usah khawatir karena aku tidak menaruh obat bius di sapu tangan itu," candanya.
Walaupun ragu tapi kemudian Felice menerima sapu tangan itu.
"Terimakasih," ujar Felice dengan tersenyum tipis, lalu ia menggunakan sapu tangan itu untuk mengelap air matanya dan juga ingusnya.
Sruut...
Terdengar suara Felice sedang mengeluarkan ingusnya untuk ia lap.
__ADS_1
Cantik tapi ternyata jorok juga, pria itu terkekeh melihat bagaimana Felice tidak ada ja'imnya saat mengusap ingus.
"Nanti aku akan kembalikan kalau sudah aku bersihkan sapu tangan ini," ujar Felice.
"Tidak perlu, kau pakai saja atau kau bisa membuangnya kalau sudah tidak terpakai," tolak pria itu, bagaimana mungkin dia menerima kembali saputangannya yang sudah penuh oleh ingus wanita itu. Pria itu merinding sendiri.
"Terimakasih sekali lagi dokter, kalau begitu aku permisi dulu," pamit Felice, dia sudah pergi terlalu lama. Takut jika sang kakak sudah menunggu makanannya.
"Eh tunggu!' cegat pria itu.
"Iya Dok? Apa ada yang mau dokter katakan?" tanya Felice.
"Aahhh... itu... boleh aku tau namamu?" tanyanya sambil menggaruk tengkuknya.
"Apa dengan memberikan sapu tangan ini dokter ingin mengetahui namaku?" curiga Felice pada dokter itu yang ternyata sama sekali tidak sebaik yang ia kira.
"Bukan begitu, aku hanya ingin tau namamu agar nanti kalau kita bertemu lagi, aku bisa menyapa," ujar pria itu dengan seribu alasan dan jurus andalannya.
"Tidak perlu dokter, aku tidak mengenal dokter dan tidak punya urusan dengan dokter. Jadi kita tidak perlu bertegur sapa seperti teman lama. Permisi..." Felice pergi.
Astaga... dia menolakku barusan. Apa ketampanan ku sekarang sudah berkurang sampai dia tidak ingin berkenalan denganku.
Daren menggerutu dalam hati, ya pria itu Daren sang Playboy di rumah sakit itu. Baru kali ini ada seorang gadis yang menolaknya.
"Ini pasti gara-gara sepupu lucnut itu, ketampanan ku jadi berkurang karena kehadirannya di rumah sakit ini."
"Tidak masalah, kali ini kamu bisa menolak ku. Tapi nanti kau pasti akan mengejar ku seperti para wanita-wanita yang aku pacari."
Daren percaya diri, selama ini dia mendekati para wanita tentu saja menggunakan nama ayahnya yang merupakan direktur di rumah sakit itu.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo.❤️❤️