Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
143. Sadar


__ADS_3

°°°


Sudah dua botol cairan infus habis, sekarang tubuh Mia jauh lebih segar dan bibirnya pun sudah tidak sepucat tadi. Semua orang sudah menunggu di ruangan, tidak sabar melihat bagaimana reaksi Mia kalau tau dia sedang hamil.


Namun, belum ada satu pun yang memberi kabar pada Daniel, mereka sepakat mau menunggu Mia sadar saja. Biar dia yang menentukan sendiri mau memberi tau suaminya sekarang atau tidak. Sementara papah Willy sendiri sudah dikabari, tentu saja pria itu sangat bahagia mendengar hal tersebut.


Mamah Emma sejak tadi terus di samping putrinya. menggenggam tangan yang terasa begitu dingin itu penuh kelembutan. Beliau tidak mau pergi barang sedikitpun dari sisi putrinya. Dirinya terus menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja dirinya bisa lebih peka pada putrinya pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Padahal selama ini putrinya sudah begitu peduli padanya.


Mia yang merasa tubuhnya sudah lebih enakan perlahan membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya. Setelah tertidur cukup lama dia merasa lebih nyaman pada tubuhnya.


"Euugghhh..." Mia menggeliat pelan kareta


tubuhnya masih terasa lemah. Mungkin karena belum ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.


Mamah Emma yang merasakan jari jemari putrinya bergerak pun segera menghapus sisa-sisa air matanya yang menggenang di sudut matanya. Tidak mau sang putri melihatnya bersedih.


"Nak, kau sudah sadar?"


Mendengar suara mamah Emma, semua orang yang tadi sedang sibuk mengobrol pun terdiam dan segera mendekat ke ranjang pasien untuk melihat keadaan Mia.


"Nak bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit atau masih pusing?" Dad Alex langsung memberondong menantunya dengan beberapa pertanyaan.


"Sabar Dad, Mia baru bangun. Dia pasti bingung karena saat ini dia berada di rumah sakit," ujar mom Tania sambil mengusap lengan kekar suaminya yang tidak kendor di makan usia.


"Kak... bagaimana keadaan kakak?" Felice ikut cemas.

__ADS_1


Mendengar suara begitu banyak orang memaksakan Mia untuk membuka mata. Tapi naas cahaya lampu di ruangan itu begitu menyilaukan pupil mata Mia, sehingga dia mengerjap beberapa kali. Membuat kepalanya sedikit berdenyut juga.


Sedang di manakah dia, kenapa begitu ramai dan kenapa juga lampunya begitu terang terang, membuat silau mata orang saja. Dalam hatinya Mia bertanya-tanya. Karena seingat Mia terakhir kali ia ingat, dia sedang berada di ruangan rapat lalu tiba-tiba kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang.


"Mahh... kenapa kau ada di sini?" tanya Mia saat mengira mamahnya ada di kantornya.


Mamah Emma tersenyum teduh, lalu berkata, "Bukan hanya ada mamah di sini tapi yang lainnya juga."


Dahi Mia menyerngit, yang lainnya maksudnya siapa?


"Kakak, kau akhirnya sadar juga." Felice mendekat lalu mendekap tubuh sang kakak.


"Kau juga di sini Felice?"


Mia memindai ke seluruh sudut ruangan. Bahkan ada Catty juga di sana.


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya mom Tania.


"Susah lebih baik mom," jawab Mia. Dia  masih saja kebingungan dengan semua yang terjadi. "Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Lalu dimana ini?" Mia menatap semua orang bergantian untuk mencari jawaban.


Akhirnya Catty lah menceritajan semua yang terjadi pada Mia saat sebelum rapat sampai akhirnya dia pingsang di ruangan rapat. Karena hanya dia yang menjadi saksi mata.


"Maaf, aku jadi merepotkan semua orang." Mia merasa bersalah.


"Tidak sama sekali nak, justru kalau tidak begitu kami semua tidak akan tau kabar gembiranya," ujar dad Alex sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kabar bahagia?" Mia menaikan kedua alisnya.


"Iya sayang, kabar bahagia. Sekarang di dalam perutmu sedang tumbuh calon cucu mommy dan daddy."


"Cucu?" Mia semakin bingung. Mencoba menatap yang lainnya untuk mencari jawaban.


"Kakakku sayang... sekarang di dalam perutmu ada calon keponakan ku. Yang artinya kau sedang hamil sekarang." Felice begitu gemas melihat ekspresi wajah kakaknya saat ini.


"Apa kau sedang bercanda? Tidak lucu Fel."


"Adikmu tidak bercanda nak. Saat ini kau sedang hamil, dokter sendiri yang mengatakannya pada kami." Mamah Emma ikut meyakinkan putrinya.


Benarkah aku sedang hamil sekarang, ini bukan mimpi kan. Tapi tanganku yang terkena jarum infus benar-benar terasa nyeri.


Beberapa saat kemudian. Dokter baru saja memeriksa Mia kembali, syukurlah keadaan Mia sudah lebih baik. Janinnya juga sangat kuat dan sehat. Mia baru percaya saat dokter yang mengatakannya, dia terharu, senang dan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya masih tidak percaya kalau saat ini ada kehidupan sesosok makhluk yang bentuknya masih sangat kecil.


Mia sedang mengusap perutnya yang masih rata. Sungguh rasanya seperti sudah ada ikatan batin dengan janin di dalam perutnya.


"Sayang, kami belum memberitahu suamimu mengenai kehamilanmu. Mungkin kamu memberitahunya sendiri pada Daniel," ujar mom Tania.


Mia tampak berpikir. "Bisakah kita tidak memberitahu Daniel lebih dulu. Aku ingin memberinya kejutan saat dia sudah pulang nanti," pinta Mia.


"Tentu nak. Kami juga setuju."


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2