Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
16. Larut


__ADS_3

°°°


Di apartemen.


Felice terbangun tengah malam dan meraba ponselnya untuk melihat pukul berapa sekarang.


"Ya ampun, masih tengah malam ternyata. Awww!! kenapa perutku sakit sekali," rintihnya sambil memegangi perutnya yang terasa mulas.


Buru-buru dia ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang ingin keluar dibawah sana.


Beberapa saat kemudian, dia selesai dengan urusan buang air besarnya.


"Kenapa perutku mulas sekali, jangan-jangan gara-gara makan hotpot terlalu pedas tadi bareng temen. Aww... aku mau keluar lagi." Felice pun berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi sambil memegangi perut dan bagian belakang nya.


Tadi sore sebelum pulang yang berakhir dengan pertengkaran dengan sang kakak, Felice memang baru pergi dengan teman-temannya.


"Ya ampun, aku bisa pingsan nih kalau bolak-balik ke kamar mandi terus. Aku cari obat saja mendingan," ujar Felice bermonolog sendiri.


Dengan memegangi perutnya yang masih terasa mulas, Felice keluar dari kamarnya untuk mencari kotak obat yang letaknya ada di luar kamar agar bisa dijangkau semua orang.


"Mana obatnya... kenapa tidak ada disini." Felice membuka kotak obat dan mencari obat sakit perut tapi sama sekali tidak menemukannya. Hanya ada orang penurun panas, obat flu, lalu obat luka di dalam sana. Sepertinya sang kakak lupa untuk mengisi stok obat.


"Bagaimana ini, aku tidak akan tahan seperti ini terus. Lebih baik aku bertanya pada kak Mia saja, mungkin dia menyimpan di kamarnya," gumamnya karena seingatnya sang kakak juga sakit perut tempo hari.


Felice mengetuk pintu pelan karena tidak mau membangunkan sang mamah.


Kenapa kakak tidak menjawab, apa dia tidak dengar.


"Kak... buka pintunya, aku mau cari obat," teriak Felice agak pelan.


"Astaga, kakak ini kenapa tidak dengar si. Aku masuk saja laah...."


Perlahan Felice membuka pintu kamar kakaknya yang memang tidak pernah dikunci. Di dalam kamar sangat minim cahaya sehingga Felice mengira yang sedang berbaring di balik selimut adalah kakaknya.


"Kak Mia simpan obat sakit perut di mana? Perutku sakit sekali sekarang, aku membutuhkan obat itu," ujar Felice berada di dekat ranjang.

__ADS_1


Kenapa kakak diam saja, apa dia masih marah padaku. Pikir Felice karena sejak tadi kakaknya tidak menyahut, padahal biasanya sang kakak paling mudah dibangunkan kalau sedang tidur. Tidak seperti dirinya.


Felice pun mencoba mengguncang sesuatu yang ia kira kakaknya itu lalu dia menyadari sesuatu.


Kenapa empuk? Felice yang curiga pun langsung menyingkap selimut tebal itu dan seketika memicingkan matanya saat melihat yang berada di balik selimut ternyata hanya guling bukanlah sang kakak.


"Ya ampun, kenapa kak Mia jadi guling? Ehhh maksudku kenapa kak Mia tidak ada di kamarnya tengah malam begini. Kemana dia?"


Saat sedang memikirkan tentang keberadaan kakaknya Felice merasakan sesuatu bergejolak hebat dari dalam perutnya. "Aaaww... sakit lagi. Aku cari obatnya dulu mendingan."


Akhirnya dia menemukan obat sakit perut ada di laci kamar kakaknya dan langsung ke dapur untuk mengambil air untuk menelan obatnya.


,,,


Sementara sang kakak yang sedang di cari ternyata berada di tempat lain, di kamar lain.


Entah siapa yang memulai, keduanya larut dalam suasana malam itu. Pakaian keduanya juga sudah berceceran di lantai. Bahkan suara merdu sesekali terdengar. Keduanya saling memberikan kehangatan dan kenyamanan dalam perasaan yang membuncah dalam dada.


Mungkin karena sama-sama pernah dikhianati, mereka dengan mudah saling mengerti.


Daniel memperlakukan Mia bagai ratu malam itu, dia begitu memuja tubuh indah Mia yang selama ini tidak ada orang yang tau. Laki-laki itu mendaratkan bibirnya disetiap inci tanpa kecuali.


Tidak sepertinya ini salah, apa yang aku rasakan ini sebenarnya. Aku seperti ingin meledak.


Mia mencoba membuka mata dan menyingkirkan sensasi itu. Dia mencoba menyadarkan diri dari pengaruh alkohol yang tadi dia minum. Ayo Mia sadarlah ini salah, dia adalah putra dari atasanmu sendiri.


"Tidak Tuan... ini salah... aku tidak bisa melanjutkannya," ujar Mia seraya menutup kedua pa hanya agar Daniel berhenti.


Terlihat tatapan kekecewaan di raut wajah Daniel, laki-laki itu sudah pada di titik yang tinggi tidak mungkin kalau berhenti sekarang.


"Kenapa Nona, bukankah kau juga menikmatinya?" tanya Daniel dengan me re maat pepaya milik Mia yang sudah dipenuhi oleh tanda yang ia ciptakan.


"No... ini sal aah Tuan, aku... tidak bisa melanjutkannya...," ucap Mia dengan menahan suaranya agar tidak me de saaah.


"Tapi kau tidak bisa berbohong nona, kau juga menginginkannya. Tubuhmu tidak bisa berbohong, aku akan pelan-pelan jangan takut," bujuk Daniel, meski sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal itu selain dengan mantan pacarnya tapi barusan dengan sekretaris sang Daddy ia dibuat ber gai raaah.

__ADS_1


"Bukan itu yang aku takutkan." Mia mendorong da da bidang Daniel agar menjauh karena bi birnya terus menikmati pepayanya.


Daniel pun melepaskan apa yang ada di mulutnya, lalu menatap wajah cantik itu. Ya Daniel akui kalau wanita itu cantik, cantik natural tanpa polesan make up.


Daniel membelai wajah Mia dengan lembut lalu meraih dagunya agar mau menatapnya. "Apa yang kau takutkan, bukankah kita sama-sama membutuhkannya. Biarkan malam ini kita melupakan masalah kita sejenak," ujar Daniel dengan tatapan yang begitu intens.


Sebenarnya Mia memang menikmati itu tubuhnya bahkan ingin lebih tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Tapi aku...,"


Belum sempat Mia menjawab tapi bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh Daniel. Laki-laki itu me ma gut dengan penuh kelembutan hingga Mia terbuai dan membuka mulutnya. Ciu man itu lebih terasa dalam dari sebelumnya.


"Kau menyukainya?" tanya Daniel yang ha sratnya sudah kembali di ubun-ubun.


Mia ingin bohong dan menggeleng dia malu untuk mengakui kalau dia suka tapi rona merah pipinya sudah cukup jadi jawaban.


Daniel kembali melancarkan aksinya, kali ini dia tidak terburu-buru hingga membuat Mia sangat nyaman dengan perlakuannya.


Mia menggigit punggung tangannya sendiri saat merasakan sesuatu menerobos masuk menembus dinding pertahanan nya.


"Sakit... hiks...," dia bahkan tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat karena memang mi lik Daniel yang melebihi ukuran normal.


"Tenanglah, ini hanya di awal saja... jangan ditahan biarkan aku masuk makan kamu tidak akan kesakitan lagi."


Sebenarnya ini juga pertama kalinya bagi Daniel melakukan dengan yang masih bersegel. Dulu saat melakukan dengan mantannya dia dengan mudah memasukkan nya dan itu tidak jadi masalah karena di luar negeri sudah biasa akan hal itu. Kalau memang cinta maka bersedia menerima apapun kekurangannya seperti Daniel pada mantannya. Walaupun akhirnya dia dikhianati.


Daniel menghentikan sejenak agar Mia tenang dan dia kembali me magut bibir itu. Memberikan sentuhan juga agar wanita itu rileks.


Benar saja saat keduanya larut, Daniel kembali mengarahkan miliknya dan dengan sekali hentakan dia berhasil.


"Ini sakit sekali... aku tidak tahan. Cepat keluarkan itu dari sana," rengek Mia.


Daniel tidak mungkin menghentikan itu, dia kembali menempelkan bibirnya lalu bergerak pelan. Tidak peduli pada kuku-kuku Mia yang mencap di punggungnya karena ia tau kalau hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dinding yang ia jebol barusan.


Keduanya larut dalam percikan api asmara satu malam yang tidak sengaja tercipta. Entah berapa kali mereka melakukannya malam itu. Hingga keduanya sama-sama tidak bertenaga lagi apalagi pengaruh alkohol membuat kepala mereka juga berdenyut.

__ADS_1


Mereka luruh dalam balutan selimut, saling berpelukan dengan tubuh yang juga penuh keringat.


to be continue...


__ADS_2