Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
160. On the way


__ADS_3

°°°


Di pulau sebuah pulau bagian dari negara S. Dimana salah satu kota yang ada di sana baru saja hilang tak tersisa. Seperti tidak pernah ada kehidupan apapun di sana.


Hari ini semua orang penduduk sekitar yang sebelumnya cukup jauh dari kota A dan para relawan dari berbagai kota dan negara berkumpul. Rencananya hari ini adalah hari terakhir para relawan ada di sana. Semuanya akan pulang ke tempat asalnya karena memang di sana sudah tidak ada lagi yang perlu dilakukan.


Berkumpul nya mereka di sana hari ini adalah untuk melakukan upacara tabur bunga sekaligus mendoakan penduduk kota A yang telah tiada dalam kejadian alam yang dahsyat saat itu.


"Tidak menyangka ya kalau mereka akan meninggal dengan cara seperti itu. Perbuatan mereka saat masih hidup memang sudah keterlaluan."


"Iya, aku kira selama ini saat aku berkunjung ke kota ini mereka terlihat biasa saja tidak ada yang aneh. Siapa yang mengira kalau, bisnis yang mereka lakukan sangat merugikan alam dan negara."


Banyak bisik-bisik yang menggunjingkan penduduk kota A. Mereka sendiri masih tidak percaya tapi itulah yang ada di hadapan mereka saat ini.


,,,


Satu persatu pesawat yang menjemput para relawan sudah datang dan ada yang sudah pergi juga. Termasuk pesawat yang akan membawa Daniel dan rombongan pulang juga sudah ada di sana.


Mereka banyak sekali mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dari perjalanan kali ini. Terlebih saat mereka mencoba bertahan hidup dari alam sekitar. Pengalaman yang tidak akan pernah mereka lupakan, dan mungkin saja akan berguna lagi suatu saat nanti.


"Nak kau mau bersama Daddy atau kawan-kawan mu?" tanya dad Alex pada putranya. Karena dad Alex akan kembali menggunakan jet pribadi nya.


"Uncle, aku ikut dengan mu ya." Daren nomor satu yang paling bersemangat saat melihat dad Alex menggunakan jet pribadi. Tentu akan jauh lebih nyama dari pada pesawat komersil.


Tapi belum juga dia memasuki jet mewah itu, Daniel sudah lebih dulu menarik kerahnya ke belakang. "Pesawat kita yang itu," tunjuk Daniel pada pesawat yang sudah dinaiki rekan-rekannya.


"Aku mau pulang dengan uncle saja, Niel. Boleh kan, uncle?"

__ADS_1


Belum juga dad Alex menjawab, Daniel sudah lebih dulu menyela.


"Kita ini berangkat bersama jadi pulang nya juga harus bersama, tidak ada yang terpisah-pisah." Setelah itu Daniel menyeret Daren ke pesawat mereka.


"Hai... Niel, kau itu jahat sekali. Aku kan hanya ingin menemani ayahmu. Kasihan dia sendirian," alasan Daren. Tentu alasan sebenarnya dia ingin menikmati segala fasilitas mewah yang ada di jet pribadi itu.


"Mana mungkin Daddy sendirian, dia ada anak buahnya. Dan di sana itu tidak ada pramugari cantik yang ada dibayangan mu. karena semuanya laki-laki."


"Hah, benarkah??"


Daniel mengangguk, "Iya, mom Tania bisa mengamuk kalau sampai ada pramugari cantik di pesawat Daddy. Jadi yang akan melayani Daddy adalah pramugara."


"Ohh, kalau begitu ayo kita naik pesawat itu saja." Daren melepaskan diri dari cengkeraman sepupunya dan berjalan lebih dulu ke arah pesawat komersil itu saat melihat para pramugari cantik berjejer rapi di bawah tangga pesawat.


"Dasar, belum berubah juga ternyata." Daniel geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya.


"Ya ampun tampan sekali mereka," bisik salah satu pramugari.


"Iya, aku mau punya suami seperti mereka."


"Hussttt, kabarnya salah satu dari mereka itu adalah putra dari pemilik perusahaan star company." Tambah heboh mereka.


"Eh bukannya putra pemilik perusahaan star company sudah menikah ya, pernikahan nya bahkan disiarkan di televisi dan media sosial."


"Sayang sekali, kita sudah tidak punya kesempatan."


"Jadi yang kedua juga mau kalau punya suami seperti itu."

__ADS_1


"Coba saja kalau bisa, kamu tidak lihat di televisi bagaimana kecantikan istrinya. Bahkan seluruh negeri ini memuji kecantikan wanita itu. Beruntungnya dia bisa menikah dengan putra pemilik perusahaan star company."


Pupus sudah harapan mereka sebelum mencoba. Eh tapi tidak dengan salah satu dari mereka yang tersenyum licik.


"Kau lihat Niel, mereka terpesona padaku." Daren membanggakan diri sendiri. Saat ini mereka sudah duduk bersebelahan di dalam pesawat.


"Hmmm..." Daniel sangat malas menanggapinya. "Kalau suka nikahi saja, jangan main-main lagi. Katanya mau menikah."


"Hehehe... terakhir Niel, hanya untuk hiburan selama penerbangan ini. Setelah pulang, aku janji tidak akan main-main lagi." Daren berkilah.


Seorang wanita berpakaian pramugari sedang mengamati dua orang pria yang tadi menjadi sorotan para wanita cantik. Dia sedang bertanya-tanya yang manakah yang merupakan putra dari konglomerat negeri ini.


"Kau lihat apa," tegur salah satu rekannya.


"Hah! Tidak, hanya sedang melihat penumpang. Mungkin mereka memerlukan sesuatu, bukannya kita sudah dipesani agar memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka."


"Ya sudah, aku mau menyiapkan minuman dulu."


"Eh tunggu, apa kau tau yang mana salah satu dari mereka yang merupakan putra dari pemilik perusahaan star company?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu, apa kau berniat untuk...??" rekannya menebak.


"Tidak apa-apa, hanya saja bukannya seharusnya kita memberikan pelayanan yang berbeda untuknya. Yang lebih baik dari yang lain. Seperti penumpang VVIP." Berkilah.


"Ohh, sepertinya yang disebelah kiri."


Baiklah aku sudah tau, sekarang waktunya beraksi. Pramugari itu membenahi penampilan nya. Men touch up makeup nya dan juga sengaja membuka kancing bagian atas seragamnya lalu menaikkan roknya sehingga memperlihatkan pa-hanya.

__ADS_1


__ADS_2