Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
32. Anak Siapa?


__ADS_3

°°°


Mia membawa mainan yang tadi ia beli di tangannya. Lalu mengetuk pintu rumah temannya dan tak lama seseorang membukakan pintu.


"Hai tampan, apa kau merindukanku?" Mia mengusap lembut kepala bocah laki-laki itu tapi tangannya di tepis tapi justru tidak membuatnya kesal malah dia tersenyum.


Kenan melipat kedua tangannya lalu memunggungi Mia.


Sepertinya aku harus membujuknya dengan sedikit usaha kali ini.


Mia pun menekuk lututnya agar sejajar dengan Kenan lalu ia langsung menunjukkan apa yang tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Lihatlah, aunty bawa mainan kesukaan kamu. Apa kamu mau bermain bersama aunty?" rayu Mia pada bocah yang masih enggan menatapnya itu.


"Sayang, siapa yang datang?" tanya Catty yang sedang berjalan ke arah mereka lalu melihat temannya yang sedang membujuk putranya.


"Sayang, itu aunty memberimu mainan. Tidak baik loh menolak pemberian orang," tutur Catty pada putranya.


"Bukankah kata mamah aku tidak boleh asal menerima pemberian orang," jawab Kenan membuat Catty tersenyum kaku. Putranya itu benar-benar pintar dan bisa mengingat apapun yang ia katakan, berbeda sekali dengan dirinya.


"Maksud mamah, kalau orang itu tidak kau kenal barulah kamu boleh menolak nya. Itukan dari aunty Mia teman mamah," ujar Catty berusaha membantu temannya.


"Sudah tidak perlu memaksanya kalau tidak mau, nanti aku bisa berikan ini ke anak lain." Baru saja Mia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba bocah itu sudah menyambar mainan itu dan berlari ke kamarnya.


Mia pun tersenyum melihat hal itu. Tingkah anak temannya itu memang menggemaskan.


"Ish... anak itu dasar. Katanya tadi tidak mau," celetuk Catty sambil geleng-geleng kepala.


"Apa kau sudah siap, ayo kita berangkat sekarang," ajak Mia yang dari tadi masih berdiri di depan pintu.


"Sebentar, aku gantikan pakaian Kenan dulu. Kamu duduklah, kalau mau minum ambil sendiri di dapur." Catty menyusul putranya yang sudah menghilang ke dalam kamar.


"Cepatlah, jangan lama-lama," teriak Mia sambil berjalan ke arah sofa.


"Iyaa... sabar."


,,,


Beberapa saat kemudian. Mereka sudah ada di mobil.


Mia menyetir dan Catty duduk di sebelahnya, sedangkan bocah itu duduk di kursi belakang sambil memainkan mainan barunya.


"Apa kau menyukainya?" tanya Mia sambil melirik spion yang memperlihatkan Kenan sedang memainkan mainan yang ia belikan.


Namun, bocah itu malah memalingkan wajahnya menghadap ke luar jendela. Rupanya Kenan masih kesal karena Mia sudah lama tidak mengunjunginya, padahal dia sudah merindukan wanita dewasa itu.


"Kenan Winata... kan sudah mamah bilang kalau dikasih sesuatu itu kamu harus bilang terimakasih." Catty tegas mengatakan pada putranya agar menghormati orang lain.

__ADS_1


"Terimakasih hadiahnya aunty," lirih Kenan seraya menunduk.


"Sama-sama tampan, aunty juga minta maaf karena baru datang melihatmu lagi. Kenan mau kan maafin aunty?" bujuk Mia.


Kenan kembali diam, dia keras kepala seperti papahnya.


"Kenaannn...," Catty kembali bernada tinggi.


"Iya aunty, Kenan maafin." Bocah itu mengatakan nya dengan nada terpaksa.


"Menggemaskan sekali putramu," bisik Mia pada temannya.


"Apanya menggemaskan? Dia sama seperti papahnya yang suka membuatku kesal," sungut Catty.


"Dia itu masih anak-anak, kau berharap apa pada anak-anak. Apa kau ingin dia mengerti dirimu? Dia itu hanya sedang mencari perhatian, mungkin dengan membuatmu kesal kamu baru memperhatikannya." Walaupun Mia belum pernah punya anak tapi sepertinya dia sudah sangat mengerti akan dunia anak-anak.


"Kau benar, Aku pergi kerja pagi dan pulang sore sampai malam terkadang. Aku sudah lelah jadi tidak punya waktu untuk mengajaknya bermain, kalau dia membuat kekacauan barulah aku datang." Catty melirik putranya yang sangat mirip dengan suaminya.


"Apa kau tidak ada niatan untuk mengundurkan diri dan fokus padanya?" tanya Mia yang memperhatikan Catty yang sedang mengamati sang putra.


"Tentu aku ingin sekali melakukan hal itu, tapi biaya hidup semakin mahal. Belum lagi Kenan sudah mulai sekolah, sementara jabatan Jimmy belum tinggi di kantornya. Gajinya saja masih lebih besar punyaku."


Mia paham karena dirinya sekarang juga tulang punggung keluarga. Seberapa biaya pengeluaran rumah tangga tentu dia tau. Untuk listrik, makan, kesehatan, asuransi, sekolah dan lainnya itu tidak sedikit.


,,,


Kenan yang memang seorang anak-anak bersikap layaknya anak-anak pada umumnya, dia berlarian di koridor rumah sakit itu sambil memainkan mainannya.


"Kenan, jangan lari-larian nak. Kau bisa menabrak orang nanti," Pekik Catty memberi putranya peringatan.


Namun, Kenan tetap saja berlarian tanpa menghiraukan himbauan dari mamahnya.


"Anak itu benar-benar tidak mau mendengar ku," geram Catty.


"Sudahlah, namanya juga anak-anak. Selama dia tidak membuat keributan di sini tidak masalah." Mia menenangkan temannya.


"Huhh... sepertinya kau akan jadi ibu yang penyabar nanti kalau punya anak," ujar Catty.


Anak?? Tiba-tiba Mia teringat akan ucapan Daniel yang mengatakan kalau pil kontrasepsi itu mungkin tidak akan berfungsi.


Mungkinkah aku juga akan mempunyai anak.


"Woyyy... kenapa melamun? Aku ingin ke toilet sebentar, titip Kenan," ujar Catty lalu dia berbelok ke arah toilet.


Mia pun segera menyusul Kenan yang sudah berjalan jauh darinya.


Sampai di dalam lift menuju lantai tempat mamah Emma di rawat.

__ADS_1


"Sayang, ingat kamarnya nomor 116 jangan sampai kamu salah memasuki kamar," tutur Mia mengingatkan bocah kecil itu karena ia tau pasti Kenan akan berlarian lagi seperti tadi.


"Ok, aunty."


Benar saja bocah itu langsung berlari setelah pintu lift terbuka.


Mia melihatnya dari kejauhan.


Kenan yang melihat nomor yang tadi disebutkan oleh aunty nya langsung berbelok tapi bertepatan dengan seseorang yang akan keluar dari ruangan itu.


Bruk!!


Kenan yang masih kecil pun tersungkur ke belakang hingga terjatuh di lantai yang dingin.


"Apa kau tidak apa-apa nak?" tanya seorang pria dengan jas putih yang tadi Kenan tabrak. Pria itu juga membantu Kenan untuk berdiri.


Mia yang melihat Kenan terjatuh pun langsung berlari menghampirinya.


"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" Mia langsung membawa Kenan dalam pelukannya lalu memeriksa apakah ada bagian tubuh dari bocah itu yang terluka.


"Apa ada yang sakit?" tanya Mia dan Kenan hanya menggeleng.


"Syukurlah, kau tidak apa-apa. Sekarang minta maaf pada...." Mia memaku saat melihat siapa orang yang tadi Kenan tabrak. Ternyata dia adalah dokter Daniel. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya pada Kenan.


"Sayang ayo minta maaf pada tuan dokter," ujar Mia.


"Saya minta maaf tuan dokter," ujar Kenan dengan menundukkan kepalanya.


Daniel pun mengusap lembut kepala bocah itu, "Tidak apa-apa, lain kali berhati-hati lah. Jangan sampai laki-laki setampan kamu terluka."


Setelah itu Mia membawa masuk Kenan ke dalam kamar tapi sebelumnya dia juga membungkuk hormat pada Daniel, seperti yang biasa ia lakukan pada tuan Alex.


Siapa bocah itu, apa putra nona sekretaris itu? Tapi aku ingat malam itu pertama kali baginya dan ada bekasnya juga di seprai.


Daniel mengingat bagaimana susahnya saat miliknya mencoba memasuki milik Mia yang sempit.


Atau jangan-jangan itu darah daging ku.


Daniel menggelengkan kepalanya karena telah berpikir tidak masuk akal. Mana mungkin dalam waktu singkat dia sudah punya anak sebesar itu.


to be continue...


°°°


Ya elah dia pikir itu anak dicelupin ke minyak tanah tiba-tiba udah gede aja.😂😂😂


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2