Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
138. Menyatukan mereka


__ADS_3

°°°


Hampir dua minggu, Daniel belum juga pulang. Hal itu sukses membuat Mia lelah menunggu, apalagi moodnya yang akhir-akhir ini tidak menentu. Bahkan kadang menangis sendirian saat merindukan laki-laki itu, sangat aneh padahal sebelumnya Mia bukanlah wanita yang gampang menangis.


Pagi itu di akhir pekan. Seperti biasa Mia akan bangun pagi. Kegiatannya di akhir pekan biasanya belajar memasak, bersama mamahnya yang keadaannya semakin membaik sekarang. Mia ingin saat suaminya pulang nanti dia sudah pandai memasak untuknya.


Mia turun ke bawah setelah mandi dan sedikit mengoleskan pelembab pada wajahnya. Tanpa riasan pun wajahnya sudah glowwing seperti sering perawatan.


Turun ke bawah, Mia langsung ke dapur. Biasanya mamahnya sudah lebih dulu ada di sana. Benar kan, mamah Emma sudah sibuk di dapur sepagi itu padahal putri-putrinya sedang libur.


"Mah... sedang apa?" tanya Mia mengejutkan mamah Emma yang sedang mengemas makanan , ia masukkan ke dalam wadah.


"Ehhh.. kau sudah bangun? Ini mamah hanya ingin mengirimkan ini untuk papah kalian," kata mamah Emma sambil tersipu malu karena ketahuan putrinya.


"Untuk papah?" Mia mengangkat kedua alisnya heran.


"I-ya nak, kasihan dia sendirian. Mamah ingin mengirimkannya makanan agar dia tidak merasa sendiri." Mamah Emma takut ya biar bagaimanapun Mia putrinya adalah yang merasakan bagaimana kekejaman papahnya dulu. Meski mereka sudah memaafkan laki-laki itu tapi mamah Emma tidak berani meminta lebih.


"Kalau begitu kenapa mamah tidak ke sana saja dan temani papah agar dia tidak sendirian," ujar Felice yang baru saja bangun. Mendengar kakaknya ada di dapur dia jadi penasaran tapi yang ia lihat adalah kakaknya sedang memergoki mamah Emma yang sedang menyiapkan makanan untuk papah Willy. Kalau Felice sendiri sudah tau kalau mamahnya setiap hari melakukan itu.


Mia masih diam. Membuat mamah Emma merasa bersalah.


"Tidak nak, untuk apa mamah ke sana. Lebih baik mamah mengurusi kalian."


"Benar kata Felice, sepertinya sesekali kita harus datang ke sana untuk menemani papah. Dia pasti senang kalau kita datang," ujar Mia.


Felice tersenyum mendengar ucapan kakaknya, sementara mamah Emma cukup terkejut akan reaksi putrinya.


"Tunggu apalagi mah?" ledek Felice sambil menyemil makanan yang sedang di tata mamahnya.


PLAK!! Mamah Emma menampik tangan Felice yang hampir menyentuh makanan itu. Makanan yang sudah ia hias dengan sangat cantik.

__ADS_1


"Sedikit saja Mah." Felice memelas.


"Tidak yang ini, itu di sana masih banyak."


"Ciyeee... mentang-mentang untuk papah, aku mau minta sedikit saja tidak boleh." Felice berpangku tangan di atas meja dapur. Memperhatikan ekspresi mamahnya yang nampak seperti orang yang sedang jatuh cinta lagi. Mungkin ini yang dinamakan puber kedua.


"Kau apa-apaan, sudah sana mandi," usir mamah Emma agar anak gadis itu tidak meledeknya terus.


"Nanti saja, aku mau lari pagi dulu di komplek. Sekalian mampir ke rumah papah."


Papah Willy memang sekarang tinggal di komplek perumahan yang sama dengan mereka. Tentu berkat bujuk rayu putri-putrinya, akhirnya laki-laki itu mau pindah. Dengan begitu mereka jadi lebih dekat, dekat dengan rumah sakit juga. Sesekali Mia maupun Felice juga main ke sana. Kecuali mamah Emma yang memang tidak memiliki keberanian untuk datang.


"Kalau begitu kau bawa sekalian sarapan buat papahmu."


"Tidak bisa, aku kan mau lari. Nanti makanannya bisa tumpah kalau aku bawa lari. Mamah saja yang antar, bukannya tadi Kak Mia bilang kalau sesekali kita harus kesana menemani papah."


"Kalau begitu mamah akan menyuruh bibi saja," ujar mamah Emma.


"Mamah saja, aku akan belajar dengan bibi hari ini. Mau belajar membuat makanan western. Jadi mamah bisa pergi."


"Tapi nak..." gugup mamah Emma. Terakhir bertemu dengan mantan suaminya adalah saat Mia menikah. Setelah itu dia tidak pernah bertemu lagi.


Bayangan malam dimana papah e datang ke kamarnya saat malam pernikahan Mia tiba-tiba kembali terbayang. Saat itu laki-laki itu mengungkapkan permintaan maaf nya dengan tulus. Terlihat sekali penyesalan yang sangat dalam dari raut wajahnya.


"Mah... sudah sana tunggu apalagi, nanti makanannya dingin."


"Apa tidak apa-apa mamah ke sana? Lebih baik kalian saja." Masih ragu.


"Tidak apa-apa Mah, kalau kami sudah sering datang. Papah juga sudah bosan melihat kami. Kalau mamah yang datang, papah pasti lebih senang," goda Felice, senang sekali melihat wajah yang tidak lagi muda itu bersemu merah.


Mamah Emma sudah pergi ke rumah papah Willy dan Felice sudah pergi olahraga. Sementara Mia masih sibuk di dapur bersama bibi. Membuat beberapa menu makanan.

__ADS_1


"Nona semakin pandai, baru belajar sekali sudah langsung bisa." Bibi memuji.


"Bisa saja Bi, sebenarnya kalau sudah mengenal bumbu, masak itu mudah ya. Tinggal bagaimana caranya mematangkan masakan nya, karena setiap masakan punya caranya sendiri."


Akhirnya selesai, beberapa menu makanan sudah ada di meja makan. Tinggal menunggu Felice untuk sarapan bersama. Gadis itu tadi baru pulang, sedang mandi sepertinya.


"Kak, apa sudah matang?"


"Sudah, ayo sarapan," ajak Mia sambil menyiapkan piring untuknya dan Felice.


"Apa kak Mia tau kalau mamah sepertinya masih cinta sama papah," ujar Felice, dia ingin sekali kedua orangtuanya bersatu lagi.


"Sepertinya begitu, dari yang aku lihat juga. Apa mamah bilang sesuatu padamu?"


"Tidak, sepertinya mamah takut kalau kak Mia tidak setuju. Bagaimana kalau kita yang satukan mereka."


"Boleh, kakak ikut saja rencana mu," ujar Mia.


"Berarti kakak setuju kalau mereka bersama lagi?" tanya Felice berbinar.


"Iya tentu, kenapa harus tidak setuju. Kalau hal itu bisa membuat mereka bahagia kenapa tidak."


Yes... kak Mia setuju. Senang Felice.


"Loh kak, kok sarapan ku cuma segini," protes Felice saat melihat makanan yang ada di piringnya begitu sedikit. Sedangkan yang ada di piring kakaknya sampai penuh. "Sejak kapan porsi makan kakak sebanyak itu."


"Sudah jangan protes, kau itu anak gadis jadi tidak boleh makan banyak-banyak. Nanti tidak ada yang suka," cicit Mia.


Sabar-sabar... Felice hanya bisa mengusap da-da nya.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2