Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
55. Kabar


__ADS_3

°°°


Kedua orang tua Daniel sudah mengetahui keputusan Mia dari putra mereka tentunya. Daddy Alex pun turut bahagia dan senang tentunya. Doa dan harapannya akhirnya terwujud juga.


Rencana petang nanti mereka akan berkunjung untuk menjenguk mamahnya Mia sekaligus membicarakan tentang rencana pernikahan anak-anak mereka.


Alex pun menelepon sekretaris nya yang sebentar lagi akan menjadi menantunya untuk memberitahukan kedatangan mereka nanti malam.


"Hallo Mia, tolong ke ruangan saya sebentar." Perintahnya lalu mematikan telepon begitu saja.


Untunglah Mia cukup pengertian dan tidak punya riwayat penyakit darah tinggi, kalau tidak pasti sudah ia lempar gagang telepon itu saat ini juga. Bagaimana tidak, dia sedang banyak-banyaknya pekerjaan dan sang atasan menyuruhnya datang saat itu juga. Tapi mau bagaimana lagi namanya bawahan ya harus patuh pada atasannya.


Dengan langkah tegas dan berani Mia mendatangi kantor atasannya. Ada hal mendesak apakah yang membuat sang atasan begitu buru-buru menyuruhnya datang.


Hai Mia, ingat kau itu bawahan jadi tidak usah banyak bertanya.


Mia mengetuk pintu, setelah mendapatkan ijin barulah ia masuk.


"Duduklah," perintah tuan Alex.


Mia pun menurut dan duduk dengan membenarkan roknya yang ada di bagian belakang agar tetap rapi.


"Aku sudah tau apa keputusanmu, terimakasih karena kau mau menerima putraku dan memberinya kesempatan," ujar tuan Alex.


Mia meere maas ujung roknya untuk menghilangkan gugup, beda dari biasanya. Saat ini ia seperti sedang berhadapan dengan calon mertuanya. Memang benar Alex itu calon mertuanya dan Mia tidak menyangka kalau ia akan merasakan hal seperti itu, padahal dia dan Daniel tidak hanya akan menikah karena bentuk tanggung jawab.


"Dan aku ingin memberitahu mu kalau malam ini aku dan istriku akan datang berkunjung ke rumah sakit menemui ibumu. Apa kau keberatan?" Tanya tuan Alex


Kepala Mia terangkat, dia cukup terkejut akan hal itu karena tidak menyangka akan secepat itu terjadi pertemuan antar keluarga.


"Apa boleh kalau lain kali saja Tuan," pinta Mia dengan hati-hati.


"Aku tidak ingin menundanya lagi, semakin cepat akan semakin baik. Bukankah kabar gembira justru akan membuat pasien juga merasa bahagia. Atau ibumu keberatan?" Tuan Alex mengira.


"Tidak Tuan, mamah saya sama sekali tidak keberatan. Tapi apakah nyaman kalau di lakukan di rumah sakit," saran Mia.


"Tidak masalah untuk kami," ujar tuan Alex.

__ADS_1


Kalau sudah begitu apa Mia bisa menolak lagi.


"Baiklah Tuan, nanti akan saya sampaikan pada mamah saya," ujar Mia. Cepat atau lambat juga akan terjadi, jadi ya sudah secepatnya saja.


"Baguslah, kalau begitu kau boleh kembali ke ruangan mu."


Begitu saja tidak ada yang lain, soal pekerjaan mungkin. Haa... Mia apa kau sungguh beruntung karena tidak ada tambahan pekerjaan lagi atau kau malah dalam masalah.


"Saya permisi Tuan," ujar Mia.


"Tunggu, bisakah kau tidak memanggilku Tuan. Panggil aku Daddy seperti Daniel memanggil." Alex membuat Mia terdiam. Bertahun-tahun menggunakan panggilan itu untuk memanggil tuannya, tentu Mia sangat canggung kalau harus berganti panggilan.


"Tidak apa-apa kalau belum terbiasa, mulai sekarang kau harus biasakan."


"Bisakah kalau di kantor tetap memanggil anda Tuan??" tanya Mia, bisa gawat kalau orang lain mendengar dirinya memanggil tuan Alex dengan sebutan Daddy. Bisa heboh satu perusahaan.


"Ya terserah kau bagaimana nyamannya saja." Dibarengi dengan anggukan.


"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya permisi." Tak ingin lama-lama dalam situasi canggung, Mia pun memilih pergi dari sana.


Mia kembali menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang cepat, untuk memberitahu mamahnya jika orang tua Daniel akan datang. Oh iya apa laki-laki itu tau tentang hal ini, kenapa tidak memberitahu sebelumnya.


Apa aku kirim pesan saja, tapi bagaimana caranya bertanya. Aahh... Mia kau seperti anak gadis saja malu-malu seperti itu.


Isshhh...


Mia meletakkan kembali ponselnya dan memegangnya lagi, begitu terus sampai sebuah pesan masuk dan membuatnya terkejut hingga tak sengaja ponselnya ia lemparkan ke udara.


Hap.


Ponselku.... wajah Mia sudah pias saat memikirkan ponsel yang belum lama ia beli terjatuh.


"Apa kau sudah tak mau ini?" ujar Catty yang datang tepat waktu dan menangkap ponsel milik Mia yang hampir terjatuh.


"Kau memang penyelamat ku, muuuaahh..." Mia meraih ponselnya.


"Kau ini kenapa, dari tadi aku lihat aneh sekali. Apa kau sedang menunggu seseorang yang akan menghubungi mu?" tanya Catty yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik temannya dari kejauhan. "Atau ada masalah dengan tuan Alex lagi, kau jadi pendiam sejak keluar dari saja," tambahnya.

__ADS_1


"Tidak, aku baik-baik saja. Kau kenapa kemari?"


"Tentu saja karena mencemaskan mu," cicit Catty dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja. " Apa kau tau kalau dalam drama biasa orang tua si pria akan memberikan sejumlah uang untuk kekasih putra mereka agar hubungan mereka putus dan si wanita pergi sejauh mungkin. Apa tuan Alex juga seperti itu?" bisik Catty di kalimat terakhir.


"Kau terlalu banyak menonton drama sepertinya, sama saja seperti Felice. Lihatlah mata panda mu, sudah sangat hitam seperti hantu." Mia menirukan hantu-hantu yang ada di film-film itu.


"Benarkah? Kau jangan menyakitiku, Mi. Apa sehitam itu?" Catty pun panik dan langsung mencari kaca untuk melihat wajahnya. "Cermin... mana cermin," carinya.


"Ini lihat sendiri." Mia menyerahkan cermin kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Bukan untuk menghindari tuyul tapi memang sesekali ia gunakan untuk berdandan. Namanya juga perempuan.


"Ya ampun kenapa hitam sekali, aku harus ke salon nanti. Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa suamiku takut melihat ku seperti ini saat pulang," oceh Catty sendiri. Sambil memandangi wajahnya yang kurang tidur itu.


Dia langsung meletakkan cermin itu di atas meja dan langsung pergi begitu saja. Mia tau kalau temannya itu sedang malu. Mia hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Satu pesan baru masuk lagi ke ponselnya, Mia lupa kalau tadi mau menghubungi Daniel malah mengobrol dengan temannya.


Daniel... kenapa dia mengirim pesan.


Daniel : Kau sedang apa? apa kau sudah makan siang?


Daniel : Maaf apa kau sedang sibuk.


Daniel : Kau sibuk ya, maaf ya. Nanti aku hubungi lagi.


Mia : Maaf, karena tadi aku tidak mendengar ada pesan masuk darimu.


Setelah mengirim balasan chat dari Daniel, Mia pun kembali meneruskan pekerjaannya.


Ponselnya tiba-tiba berdering dan Mia mengangkatnya tanpa melihat siapa nama si pemanggil.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍😍


Gomawo 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2