Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
79. Tidak Terima


__ADS_3

°°°


Bibi Glace datang tepat waktu, di usianya yang tidak lagi muda dia bahkan bisa berlari sejak turun dari mobil sampai ke ruang yang digunakan Mia untuk merias wajah.


Mia sejak tadi sibuk menenangkan mom Tania yang makin cemas karena bibi Glace tak kunjung datang. Dia bahkan sudah menghubungi beberapa desainer ternama untuk menyiapkan gaun yang terbaik yang mereka miliki. Mia nurut saja agar mom Tania tak lagi cemas.


Ceklek.


"Maaf saya terlambat."


Semua orang di dalam ruangan itu menatap kearah pintu. Beberapa orang yang tidak tau siapa dia tampak menyerngitkan dahinya. Tapi Mia dan mom Tania menyunggingkan senyum pada wanita itu.


"Bibi Glace ...," sapa Mia. Dia bangun dan dan mendekati wanita yang tengah sibuk membuka gaun yang ia bawa.


"Kau selalu membuat semua orang cemas Glace." Mom Tania melipat kedua tangannya.


"Nanti saja kalau mau kesal, sekarang kalian keluar dulu. Biar saya akan membantu nona untuk berganti pakaian," ujar bibi Glace yang sama sekali tidak takut pada mom Tania. Dari dulu wanita itu memang seperti itu, tidak pernah takut pada siapapun. Pada dad Alex pun dia berani menjawab bila merasa benar.


"Kau sudah terlambat sekarang mengusir kami," desis mom Tania.


"Saya terlambat karena ada alasannya Nyonya, jika anda terus mengomel, calon menantu anda tidak akan bisa bergegas berganti pakaian." Bibi Glace membungkukkan tubuhnya pada semua orang.


Satu persatu orang yang ada di sana pun keluar dengan sendirinya, karena tidak mau menghambat pengantin wanita untuk segera berganti pakaian.


Mom Tania semakin memasang wajah masamnya. Dari dulu dia selalu kalah saat berdebat dengan pengasuh putra itu. Entah wanita itu punya keberanian dari mana yang selalu melawan majikannya saat apa yang diperintahkan tak sesuai dengan nalurinya.


"Mari jeng." Mamah Emma mengajak besannya untuk keluar. Dia mengerti kalau putrinya tidak mungkin berganti pakaian dihadapan banyak orang meski mereka semua perempuan karena dua pria gemulai yang tadi ada di sana pun sudah pergi sejak tadi.


"Kita belum selesai Glace." Mom Tania berekspresi datar. Dengan berat hati dia pun keluar dari sana.

__ADS_1


Pemandangan itu malah jadi hiburan tersendiri untuk Mia. Bisa sedikit mengurangi rasa gugupnya.


"Ayo saya bantu berganti pakaian."


Mia mengangguk, setiap kata yang bibi Glace ucapkan seperti punya ketegasan dan tidak mudah dibantah. Pantas saja katanya Daniel sangat menurut pada bibi Glace saat kecil ketimbang pada mom Tania.


Gaun pengantin berwarna putih dengan ekor yang panjang telah melekat sempurna di tubuh Mia. Dia juga sudah menggunakan kain penutup kepalanya yang akan dibuka oleh Daniel nantinya. Gaun itu tidak terlalu terbuka hanya bagian atasnya yang berlengan rendah tapi sama sekali tidak memperlihatkan aset Mia yang berharga.


Cantik sekali, sudah dipastikan Daniel tidak akan berkedip.


"Kau sudah siap nak." Ternyata papah Willy yang masuk untuk memanggil putrinya. Dia juga yang akan mengantar sang putri hingga ke altar.


"Pah ... ," sendu Mia. Entah kenapa dia tiba-tiba jadi merasa sedih saat memikirkan kalau dirinya akan menjadi seorang istri. Mendadak ia takut kalau nantinya dia tidak akan mempunyai banyak waktu lagi untuk keluarganya.


"Apa ada yang kau pikirkan? hmmm .... ." Papah Willy mengusap lembut kepala putrinya dengan hati-hati juga, tidak mau merusak riasan yang melekat pada kepala putrinya.


"Kau tetap masih bisa menghabiskan waktu bersama mereka nanti. Suami mu orang baik, tidak mungkin dia melarangmu untuk bertemu mamahmu dan adikmu." Papah Willy mencoba memberikan pengertian pada putrinya. Seorang wanita memang selalu merasa sedih tiap kali dia harus lebih memilih suaminya ketimbang keluarga nya. Tapi papah Willy yakin kalau Daniel tidak akan menjadi suami yang banyak mengekang.


"Jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu sedih lagi. Kebahagiaan mu sudah ada di depan mata, jangan kau sia-siakan."


"Mia mengerti Pah, terimakasih sudah membuat perasaan ku tenang." Perasaan Mia lebih baik saat ini.


Ceklek.


"Kak, semua orang sudah menunggu. Sekarang sudah waktunya kakak keluar," ujar Felice yang baru saja disuruh untuk memanggil kakaknya.


"Ayo nak, jangan biarkan pangeranmu menunggu terlalu lama." Papah Willy sendiri yang akan mengantarkan putrinya. Ia bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati memberinya kesempatan untuk melihat putrinya menikah.


Mia pun meraih tangan papahnya, satu tangannya lagi memegang buket bunga kecil yang akan ia lempar nanti.

__ADS_1


,,,


Para tamu undangan sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan. Pesta pernikahan Daniel dan Mia adalah pesta pernikahan dengan biaya terbesar tahun ini. Bahkan mengalahkan mewahnya pesta para pejabat di negeri itu.


Para tamu juga penasaran dengan sosok Daniel yang tidak pernah muncul dihadapan publik. Padahal mereka sudah lama mengincar untuk berbeda dengan keluarga Starles dan para wanita juga memimpikan menjadi menantu keluarga konglomerat itu.


"Seperti apa sebenarnya wajah Daniel, aku sangat penasaran. Karena tuan Alex tak pernah memamerkan putranya dalam acara bisnis. Putranya juga tidak terlibat dalam bisnis ayahnya."


"Kabarnya dia malah memilih menjadi dokter."


"Sayang sekali, kalau putra satu-satunya tidak mau meneruskan bisnisnya lalu siapa yang akan meneruskannya."


"Mungkinkah menantunya? Waah beruntung sekali dia. Siapa wanita beruntung itu, sepertinya bukan dari putri pebisnis."


Desas-desus mulai terdengar dari mulut para tamu yang menerka-nerka jalan cerita keluarga Starles. Mereka juga penasaran dengan sosok wanita yang akan menjadi menantu keluarga Starles.


Termasuk para karyawan Star company yang saat ini bingung berada di pesta megah itu. Pasalnya mereka menerima undangan dari Mia, sekretaris pemimpin perusahaan mereka. Lalu kenapa pestanya bisa semewah itu. Bahkan rekan bisnis, dan para pengusaha ternama pun turut hadir. Mungkinkah mereka salah tempat? Kan tidak mungkin kalau sekretaris Mia mengadakan pesta semegah itu.


Tak terkecuali pasangan yang beberapa hari ini sempat bersitegang karena si suami yang belum bisa melupakan mantannya. Justin dan Laura sejak tadi hanya diam saat rekan kantor mereka memuji-muji Mia yang berhasil mencari suami yang kaya raya katanya.


"Waah benarkah ini pesta pernikahan nona Mia. Pasti calon suaminya bukan orang sembarang, pestanya saja sangat megah seperti ini."


"Iya, hebat sekali nona Mia bisa mencari calon suami yang jauh lebih hebat dari mantannya."


"Jadi rumor kalau dia belum bisa move on pasti tidak benar kan. Untuk apa mengingat mantan kalau dapat pasangan yang jauh lebih hebat."


Justin dan Laura sama-sama geram mendengarnya. Justin tidak terima kalau ternyata calon suami Mia jauh lebih hebat darinya dan Laura juga sama, dia tidak mau kalah dengan wanita yang selama ini ia panggil perawan tua itu. Laura tidak terima kalau ternyata Mia bisa mendapatkan yang lebih dari Justin.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2