
Daren berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah yang bisa dibilang cukup asri karena di mana-mana ada tanaman hias yang menghiasi. Dia berdiam diri cukup lama, ragu untuk masuk kesana. Sesuatu dalam dirinya sudah tidak bisa dibendung lagi untuk menemui seseorang yang sang ia rindukan beberapa hari ini.
Ya dia ada di depan rumah Felice yang tinggal bersama mamahnya. Rupanya gadis itu sudah berhasil mewujudkan impian nya, tidak lagi bergantung pada sang kakak. Tapi bukan itu intinya karena sekarang alasan Daren ada di sana adalah karena sang istri dan putranya tengah berada di rumah itu.
Udara masih sangat dingin terasa di permukaan kulit pria itu tapi tidak mengurungkan niatnya untuk tetap ada di sana. Sudah sejak pukul empat pagi saat hari pun masih sangat gelap dia sudah ada di sana. Menunggu pagi menyapa agar bisa segera menemui keluarga kecilnya.
"Sayang, setelah ini tidak akan aku biarkan ada hal yang mengusik kebahagiaan kita lagi. Kalau memang disini tidak ada tempat untuk kita, aku akan membawamu dan anak-anak kita untuk menjauh dari sini."
Daren menganggap, urusan dengan sang ayah sudah selesai sampai disini. Cukup ia memohon pada ayahnya untuk menerima istrinya tapi bahkan yang ia dapat hanya caci maki yang menusuk hati. Cukup! Daren berjanji akan membawa keluarga kecilnya menjauh, pergi ke tempat yang mau menerima kami.
"Lucy istriku ...." Daren hampir saja menangis, matanya sudah berkaca-kaca sejak saat melihat istrinya dari kejauhan. Dia ingin sekali langsung menghampiri istrinya dan langsung memeluk dan meminta maaf padanya. Tapi dia terlalu takut, dia sangat menyesal karena hari itu membiarkan sang istri pergi dari hadapannya.
Daren masih saja berdiri ditempatnya, dia masih melihat sang istri dari kejauhan. Terlihat Lucy sedang bercengkrama dengan mamah Emma, di taman samping yang juga dipenuhi tanaman. Entah sedang apa mereka, mungkin mamah Emma sedang mengajarkan Lucy berkebun karena dia sedang memegang sekop dan entah apa Daren tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Papi..." Suara lengkingan seorang bocah yang Daren sang hapal siapa pemiliknya, menggema di pagi itu.
__ADS_1
Zoro yang kebetulan baru saja bangun tidur dan mencari maminya malah melihat sesosok pria yang ia rindukan. Papinya yang sudah melengkapi hidupnya yang selama ini kurang.
"Papi datang mi... itu papi datang mau jemput-jemput kita..." Zoro berteriak memberitahu maminya. Lalu dia segera berlari keluar ke arah Daren.
Daren yang melihat putranya berlari pun membentangkan kedua tangannya dan menekuk lututnya.
"Papi..., huhuhu... kenapa papi lama sekali jemput Zo dan mami. Apa papi tidak sayang lagi dengan Zo dan mami?" Bocah itu menangis dalam pelukan Daren. Menumpahkan kerinduannya pada sang ayah tirinya. Setiap malam dia berdoa dan sudah berusaha menjadi anak yang baik agar papinya segera datang, tapi sampai hampir seminggu belum juga datang.
"Maafkan papi sayang. Tentu saja papi sangat menyayangi Zo dan mami, kalian adalah hidup papi." Tak terasa Daren pun menangis. Pria tengil dan playboy itu menangis adalah hal yang sangat langka.
Tanpa terasa air mata yang ada di pelupuk mata Lucy pun tidak bisa dibendung lagi. Melihat betapa saling menyayangi nya kedua laki-laki yang sangat berharga dalam hidup nya itu. Entah apa jadinya kalau Daren memutuskan untuk lebih memilih ayahnya, dan sampai sekarang pun dia masih belum tau apa keputusan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Suami mu sudah datang, berbicaralah. Pikirkan apapun dengan kepala dingin dan selalu mengutamakan anak-anak kalian." Mamah Emma mengusap punggung Lucy, lalu berlalu dari sana. Memberikan mereka ruang untuk berbicara dan menyelesaikan kesalahpahaman.
"Zoro... ayo ikut oma, Oma ada sesuatu untuk Zoro," ajak mamah Emma pada Zoro.
__ADS_1
"Tapi Zo masih ingin bersama papi, Oma."
"Papi tidak akan pergi lagi sayang, masuklah. Oma mau memberi mu sesuatu," ujar Daren yang mengerti akan kode mamah Emma.
"Papi janji?" Zoro mengacungkan jari kelingking nya.
"Janji sayang, papi mau berbicara pada mami. Ok jagoan. Tos dulu." Mereka pun sangat kompak, sama sekali tidak terlihat seperti ayah dan anak tiri.
Setelah putranya masuk bersama mamah Emma, Daren pun mencoba mendekati istrinya.
"Sayang..." Daren menahan diri dan tidak langsung memeluk istrinya. Terlebih dia takut sang istri akan menghindar.
"Ren... apa kau sudah memutuskan akan bagaimana? Kau jangan cemas, aku pasti bisa membesarkan anak kita dengan baik. Raihlah kebahagiaan mu, Ren. Jika bersamaku kau hanya menyimpan luka dan derita maka akhiri saja sampai disini."
Sejujurnya Lucy tidak sekuat itu mengatakan apa yang baru saja terucap dari mulutnya. Bibirnya berkata akan baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping sudah dari saat ia keluar dari rumah sakit hari itu.
__ADS_1
"Berbahagialah... hiks..." terucap sangat lirih disela-sela tangisnya.