Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
67. Di luar Ekspektasi


__ADS_3

°°°


Daniel tidak menyangka kalau laki-laki yang diceritakan oleh mamah Emma sangat berbeda jauh dengan sosok lelaki yang ada dihadapannya sekarang. Lelaki itu terlihat lemah, pucat dan sama sekali tidak terlihat galak.


Bulir-bulir bening mulai membasahi pipi pria itu saat Daniel mengatakan tujuannya datang. Dia tidak menyangka kalau pria yang akan menikahi putrinya datang meminta restu, katanya.


"Mia putriku adalah perempuan yang baik dan sayang pada keluarga. Anda tak akan menyesal menikah dengannya."


Sungguh tidak seperti Daniel bayangkan, ada apa ini sebenarnya. Daniel merasa ada sebuah benang kusut di antara mereka. Atau mungkin laki-laki didepannya itu sedang berpura-pura untuk mendapatkan simpatinya.


"Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud ikut campur urusan keluarga kalian. Tapi kenapa anda berbeda dengan yang diceritakan mamahnya Mia. Atau anda pura-pura? kalau iya, anda sebutkan saja angkanya, berapapun akan saya berikan sebagai bentuk kesungguhan saya untuk menikahi putri anda."


Daniel tidak basa-basi lagi, dia tidak akan membuang waktu hanya untuk meladeni sandiwara pria itu. Maaf bukannya berprasangka buruk, tapi melihat bagaimana mamah Emma sambil menangis saat menceritakan kejahatan suaminya. Lalu Mia yang membenci papahnya. Rasanya mustahil kalau pria itu kini begitu baik. Atau mungkin dia sudah bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.


"Bawa pulang saja uangnya untuk Mia nak, saya tidak membutuhkannya. Saya merestui pernikahan kalian, semoga kau bisa menjadi suami yang baik untuk putriku dan membuatnya bahagia." Willy tersenyum kecut, batinnya teriris setiap kali mengingat keluarganya. Seandainya waktu bisa diulang kembali, dia ingin sekali mengganti waktu yang dulu hanya ada kesedihan untuk istri dan anaknya, dia ingin memperbaiki semuanya.


"Maaf Tuan, saya bukan bermaksud kurang ajar pada anda. Hanya saja anda sangat berbeda dengan yang diceritakan mamah Emma." Daniel segera meminta maaf, dia sudah menuduh dan berpikir sembarangan.


"Tidak apa-apa nak, yang dia ucapkan memang benar. Saya laki-laki yang tidak bisa membahagiakan keluarga. Anggaplah seperti itu dan selamanya memang seperti itu." Willy membenarkan syal yang terlepas dari lehernya, ia lilitkan lagi untuk menutupi hawa dingin.


"Tuan, tidakkah anda ingin bertemu dengan mereka?"


Daniel mencoba menawarkan hal yang mungkin.


"Sebuah keinginan yang mustahil nak, biarkan mereka bahagia dengan kehidupan mereka sekarang. Tidak perlu mengingat ku lagi yang hanya membawa luka untuk mereka." Willy meringis saat ia berusaha bangkit dari duduknya. Ini semakin jelas kalau laki-laki itu sedang menahan sakit.

__ADS_1


"Tuan... kau..."


"Nak, apa ada lagi yang mau kau katakan. Kalau tidak ada, bisakah kau pergi sekarang. Aku mau beristirahat," ujar Willy setelah ia bangun.


"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu. Apa anda sedang sakit? Wajah anda sangat pucat, bagaimana kalau kita ke rumah sakit." Daniel tidak tega membiarkan laki-laki itu. Sebagai dokter tentu dia tau kalau laki-laki bernama Willy itu sedang tidak sehat.


"Tidak perlu nak, saya baik-baik saja. Hanya perlu istirahat sebentar, nanti juga sembuh sendiri."


Daniel pun pergi dari sana dengan berat hati karena dia merasa ada hal mengganjal.


"Apa sebenarnya yang dia tutupi, rasanya aku tidak bisa pergi begitu saja meninggalkannya. Apa aku kembali saja dan bertanya? Mungkin kalau aku bersikeras, dia akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."


Daniel yang henda membuka mobil mengurungkan niatnya, lalu kembali membalikkan tubuhnya. Dia kembali berjalan memasuki rumah itu. Diketuknya pintu itu lagi sebelum masuk, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Apa mungkin pria itu sudah tertidur secepat itu. Daniel masih berusaha mengetuk pintu, kali ini dia mengetuknya dengan sedikit keras tapi tak ada jawaban juga.


Pikiran Daniel mulai cemas saat tidak juga mendapatkan jawaban. Dia pun memutuskan untuk mendobrak pintu yang kayunya sudah mulai lapuk itu. Hanya dengan sedikit tenaga, pintu itu pun terbuka. Daniel segera mencari keberadaan ayah dari calon istrinya itu.


Daniel mencari disetiap sudut, hingga dia berhenti di sebuah kamar yang tertutup. Dia tebak pasti laki-laki itu ada di dalam sana.


"Tuan Willy apa anda ada di dalam??" Tidak ada jawaban seperti tadi. Daniel pun tidak membuang waktu lagi, dia segera membuka paksa pintu kamar itu.


Brakk!!


"Tuan...!!"


Tubuh pria itu ternyata sudah terkapar di lantai kamarnya. Segera Daniel mencari bantuan pada tetangga untuk membantu mengangkat calon ayah mertuanya.

__ADS_1


Daniel memutuskan untuk membawa tuan Willy ke rumah sakit terdekat. Akan memakan waktu lama kalau membawanya ke rumah sakitnya ada di kota.


Dokter mengatakan kalau pria itu menderita penyakit yang serius dan butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya. Daniel sudah menduga hal itu. Segera dia menyetujui pemeriksaan itu.


Beberapa saat kemudian, hasil pemeriksaan pun keluar. Ada benjolan di bagian punggung. Daniel melihatnya, mungkin itu tumor atau bisa jadi hal lain. Perlu tes darah dan yang lain-lain untuk mengetahui apakah hal itu berbahaya atau tidak.


Setelah kondisi tubuh tuan Willy stabil, Daniel memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit yang lebih besar.


"Tidak perlu nak, saya tidak perlu di bawa kemana-mana. Penyakit saya ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Tidak apa-apa, biarkan saja saya tinggal di rumah sampai waktunya tiba."


Permintaan itu yang Daniel dengar saat perjalanan menuju rumah sakit Star Medical center. Sebelum akhirnya pria itu kembali tak sadarkan diri.


Begitu sampai Daniel langsung melakukan pemeriksaan terhadap tuan Willy. Sampai akhirnya dia mendeteksi sel kanker dalam tubuhnya. Tepatnya pada bagian punggungnya, dan dari hasil pemeriksaan juga mendeteksi kalau kanker itu sudah mulai menyebar ke organ lain, hingga mungkin sulit untuk disembuhkan. Operasi mungkin saja beresiko, hanya dengan kemoterapi mungkin bisa memperlambat penyebaran sel kankernya.


Daniel memberikan perawatan yang terbaik dan mengupayakan yang terbaik. Hingga pria itu sadar.


Tuan Willy berkata kalau jangan sampai ada yang tau mengenai penyakitnya. Apa artinya dia sudah tau, dan menyembunyikannya selama ini. Dia juga bersikekeuh untuk pulang dan menolak untuk kemo. Daniel pun tidak bisa memaksa dan akhirnya membiarkan laki-laki itu pulang tapi dia tetap memberikan pengawasan.


Sampai akhirnya Daniel memutuskan untuk menceritakan hal itu pada mamah Emma dan juga menyarankan agar Mia dan Felice untuk menemui papah mereka. Mamah Emma pun setuju, dia bahkan ingin ikut tapi Daniel melarangnya. Kondisi tubuh mamah Emma tidak memungkinkan untuk pergi, dia juga khawatir kalau pertemuannya dengan mantan suaminya bisa menimbulkan guncangan di otaknya yang bisa membahayakan nyawanya.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍😍

__ADS_1


Terimakasih 🤭


__ADS_2