Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
74. Akhirnya Bertemu


__ADS_3

°°°


Malam harinya.


Mia sudah bersiap dengan gaun malam yang tidak terlalu terbuka. Sangat anggun dan memancarkan kedewasaannya. Tubuh indahnya juga tercetak sempurna dengan balutan gaun itu.


Felice dan mamah Emma juga sudah siap, Felice terlihat masih sangat bocah dengan gaun selutut yang kakaknya belikan.


"Kak, supir yang menjemput kita sudah datang." Felice menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Aku akan turun sebentar lagi, apa mamah sudah siap?"


"Sudah Kak, beres pokoknya. Papah pasti terpesona pada mamah malam ini." Felice cekikikan membayangkan pertemuan mamah dan papahnya.


Mia bisa tenang sekarang, adiknya sudah bisa diandalkan ternyata.


"Apa kau juga sudah menelpon papah. Apa dia sudah berangkat?"


"Sudah kak, papah sudah berangkat sejak tadi. Dai sudah dalam perjalanan. Jaraknya dari rumah pasti butuh waktu lama sampai ke hotel." Felice menatap jam di pergelangan tangannya.


"Kak ayo cepat, nanti kita telat," ujarnya lagi mengingatkan kakaknya. "Aku tunggu di bawah kak, mau liat mamah dulu."


"Iya, nanti aku menyusul."


Sentuhan terakhir Mia mengoleskan lipstik berwarna merah muda. Tidak mencolok sama sekali warnanya natural seperti warna bibirnya.


Mia menyambar tas tangannya yang cocok dengan gaun yang ia pakai.


,,,

__ADS_1


Sampai di hotel yang sudah di boking oleh keluarga Starles. Dad Alex sengaja mengosongkan hotel itu untuk keluarga dan kerabatnya yang tempat tinggalnya jauh. Jadi mereka bisa beristirahat di kamar yang sudah disediakan terlebih dahulu.


Jangan salah, yang telah di reservasi itu hotel high end bukan bintang lima lagi. Bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh dad Alex hanya untuk menyewa hotel mewah itu. Belum lagi untuk dekorasi pernikahan yang juga super mewah, berbagai makanan dari negara berbeda, lalu dress code dari desainer ternama, artis papan atas juga ikut meramaikan dan yang lain-lainnya.


Mia sebagai sekretarisnya saja tidak sanggup membayangkan pengeluaran dad Alex untuk pernikahan putranya itu. Ahh Mia jadi penasaran, selama dia tidak ada siapa yang membantu dad Alex melakukan semua itu. Selama ini kan dia yang mengurus semua keperluan acara kantor dan yang lainnya.


"Kak benar ini hotelnya?" Felice takjub melihat bangunan megah di depan matanya. Bukan tidak pernah menginap di hotel tapi biasa mereka hanya mampu menyewa hotel bintang tiga ke bawah. Itu pun jarang karena mereka jarang bepergian, mengingat kesehatan mamah Emma.


"Iya, ayo turun. Nanti biar kakak yang mendorong mamah." Mana bisa ia membiarkan adiknya mendorong kursi roda yang mamahnya duduki.


"Mana bisa seperti itu Kak. Kak Mia itu bintangnya malam ini sampai besok. Jadi nikmati saja menjadi tuan putri dari malam ini." Felice langsung mencegah kakaknya. Mana bisa kakaknya sudah memakai gaun malam yang sangat cantik itu malah mendorong kursi roda. Dirinya juga kuat kalau hanya mendorong


kursi roda.


"Sudah sudah, kalian ini selalu saja berdebat. Kan ada perawat yang membantu mamah. Kalian nikmati saja hari kalian," ujar mamah Emma menengahi kedua putrinya.


Sementara perawat yang bertugas menjaga mamah Emma hanya diam, walaupun sebenarnya dia ingin bersuara. Tapi memang ia di gaji hanya untuk merawat mamah Emma, bukan untuk mengurusi kehidupan pribadi mereka.


"Mari Nona, saya antarkan ke ruangan anda." salah satu pelayan perempuan mempersilahkan Mia dan keluarga untuk menuju ruangan yang sudah dad Alex pesan.


Sementara Mia menatap curiga pada karyawan di hotel itu karena sejauh yang ia lihat hanya ada pelayan wanita di sana. Sama sekali tidak ada pelayan laki-laki.


Sampai tidak terasa kini Mia ada di depan pintu yang cukup besar, mungkin itu ruangan yang dad Alex reservasi.


Pelayan yang ada di depan ruangan langsung membukakan pintu. Benar saja, Daniel dan kedua orang tuanya sudah datang lebih dulu.


Apa mungkin mereka sudah menunggu lama. Kalau ia, maka Mia akan merasa bersalah karena membuat mereka menunggu.


"Selamat datang...," dad Alex menyambut kedatangan Mia dan keluarganya. Begitupun dengan mom Tania dan Daniel yang ikut berdiri.

__ADS_1


Daniel pria itu tidak berkedip sejak tadi, membuat Mia merasa kalau dandanannya berlebihan mungkin.


"Mari-mari masuk, tidak usah pada kami. Ayo silahkan duduk," ajak dad Alex, yang mengajak Mia dan yang lain masuk.


"Biar saya saja yang mendorong mamah," ucap Daniel yang saat ini sudah ada di belakang mamah Emma.


Perawat itupun langsung menyingkir dari sana. Ia tau kalau saat ini mereka butuh waktu keluarga. Mereka sudah duduk di kursi yang mengelilingi meja bulat yang besar di tengahnya. Mereka bukan mau mengadakan konferensi ya. Mereka mau makan malam.


Setelah membantu mamah Emma duduk di kursi yang lain, Daniel segera kembali ke kursinya. Tapi sayang karena Mia tidak memilih tempat duduk yang ada di sebelahnya. Tidak taukah dia kalau Daniel sudah rindu.


"Kakak ipar," panggil Felice, dia menggerakkan tangannya menyuruh kakak iparnya itu mendekat.


Daniel menurut saja karena ia pikir adik iparnya butuh bantuan tapi tiba-tiba saja Felice berdiri.


"Kakak ipar duduk di sini saja. Aku mau duduk di dekat mamah." Felice mengerlingkan matanya, dia paham kalau kakak iparnya ingin dekat dengan kakaknya.


"Niel, apa kau sudah menelepon orang suruhan mu yang menjemput ayah mertuamu?" tanya dad Alex pada putranya.


"Sudah Dad, sebentar lagi mereka sampai."


"Baiklah, sambil menunggu tuan Willy sampai. Mari kita makan desert dulu sebelum makan. Sekalian kita mengobrol, jangan terlalu sungkan pada kami besan." Dad Alex mencairkan suasana agar tidak terlalu menegangkan.


"Bagaimana kabarmu Mia? Apa kau senang berada rumah, kalau kau menikmatinya Daddy tidak masalah kalau kau memutuskan untuk tidak bekerja lagi setelah menikah." Walaupun apa yang dad Alex katakan hanya candaan tapi tetap Mia tidak mau itu terjadi. Dia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada sang suami yang tidak tau sampai kapan garis takdir kita bisa bersama. Setidaknya dengan terus bekerja, Mia bisa mempunyai tabungan sendiri.


"Baik dad, terimakasih atas hari liburnya dad."


Semua orang tertawa, lebih tepatnya menertawakan dad Alex yang seperti punya lawan sepadan saat ini. Mungkin karena Mia sudah sangat lama bekerja padanya sampai tau apa saja niat dad Alex.


"Oh iya, bagaimana rencana kalian setelah menikah? Mau bulan madu kemana?" kali ini mom Tania ikut bertanya.

__ADS_1


Mendengar kata bulan madu membuat Mia dan Daniel salah tingkah. Mereka tak pernah membicarakan hal itu. Perencanaan setelah menikah pun tidak ada rencana. Sepertinya mereka harus membahas nya nanti saat berdua saja. Ihhh itu si modusnya Daniel saja yang ingin berduaan.


to be continue...


__ADS_2