Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
117. Usaha Daren


__ADS_3

°°°


Felice dan Lucy sudah kembali dari belanja. Keduanya begitu senang hari ini, bisa keluar jalan-jalan berdua. Lucy juga merasa sangat beruntung mempunyai Majikan yang baiknya seperti mereka.


"Sudah Lucy, biarkan saja mereka yang bawakan. Kau ikut aku saja ayo, aku mau mencoba apa yang sudah kita beli tadi," perintah Felice. Yang terkadang membuat Lucy merasa tidak enak pada pelayan yang lain. Takutnya mereka menganggap majikan mereka membedakan Lucy dan yang lainnya.


"Iya nona duluan saja, nanti aku bawakan barang-barangnya ke kamar nona." Mana mungkin Lucy membiarkan pelayan lain melayani nya. Dia disini juga sama seperti mereka, hanya bekerja dan digaji.


"Ya sudah, aku masuk dulu." Felice pun masuk lebih dulu.


Di dalam rumah ternyata sudah ada yang menunggu nya pulang. Seorang laki-laki yang sekarang sedang mengobrol dengan mamah Emma. Tadi ada Mia juga tapi mendadak dia ada pekerjaan yang harus ia kerjakan, sedangkan Daniel tentu saja sedang menemani istrinya di ruang kerjanya.


"Diminum nak teh nya, Felice mungkin sebentar lagi pulang. Dia sudah lama juga perginya," ujar mamah Emma pada laki-laki itu.


"Iya Tante." Pemuda itu pun meminum teh yang disediakan untuknya.


Tak lama memang terdengar suara mobil datang dan suara Felice di luar.


"Itu Felice sudah datang," ujar mamah Emma yang sekarang sudah mulai bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda.


Laki-laki itu pun melihat ke arah pintu, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis pujaannya.


"Maahhh... aku pulang...," teriak Felice begitu memasuki rumah. Dia tidak sadar kalau di rumah itu juga ada orang lain.


"Kalian lama sekali perginya, lihatlah siapa yang sudah menunggu sejak tadi disini."


Perkataan mamah Emma membuat Felice melihat ke arah laki-laki itu. Wajahnya langsung berubah masam seketika.


"Hai... apa kabar? Maaf aku datang kemari karena saat di luar aku coba untuk menjelaskan sesuatu padamu tapi selalu tidak punya kesempatan."


"Dokter Daren, bukannya sudah aku bilang kalau tidak ada yang perlu dijelaskan lagi." Felice ketus.


"Nak, kalian duduklah dan bicarakan baik-baik. Selesaikan masalah kalian berdua, mamah ke dalam dulu," ujar mamah Emma yang tidak ingin ikut campur urusan anak muda. Masalah percintaan atau apapun itu, ia rasa putrinya sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan nya. Jika dilihat putrinya memang tidak punya perasaan pada Daren , tapi pria itu begitu menyukai Felice.

__ADS_1


"Tapi mah, aku tidak punya urusan dengan dokter Daren," bisik Felice pada mamahnya.


"Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah nak. Dia melakukan semua ini karena menyukaimu, kalau kau tidak menyukainya katakan pelan-pelan agar dia tidak terus berharap." Mamah Emma pun pergi.


Felice menurut, dia saat ini duduk di kursi yang lain. Tidak terlalu dekat dengan Daren.


"Jadi mau dokter apa? Aku kan sudah bilang kalau dokter tidak punya salah apapun padaku dan bukan padaku meminta maaf." Felice dengan berani menatap Daren.


"Jadi malam itu aku sungguh tidak bermaksud apa-apa, aku memberimu jepit itu karena aku ingin kita berdansa dan jadi semakin dekat. Mungkin aku sudah curang tapi itu semua karena aku tidak punya cara lagi untuk mendekati mu."


"Sebenarnya aku sudah tidak memikirkan hal itu Dok, mau anda melakukan apa malam itu juga aku tidak peduli. Aku hanya kecewa karena sikap dokter yang menuduh Lucy sembarangan dihadapan banyak orang," ujar Felice, sebenarnya dia malas sudah berurusan dengan Daren. Minta maaf karena perbuatannya sendiri saja tidak mau, membuat Felice enggan pada laki-laki seperti itu.


"Itu juga salah paham, aku tidak bermaksud menuduh. Aku hanya terkejut malam itu jadi mengatakan hal itu. Aku minta maaf..."


"Bukan padaku minta maaf nya Dok!" seru Felice.


"Nahh itu kebetulan ada Lucy, kalau memang dokter Daren mau minta maaf maka minta maaflah pada Lucy." Felice pun melihat Lucy yang sedang membawakan barang-barangnya. "Lucy... sini...," panggilnya.


Daren membulat, Mengumpat dalam hati Apa iya, dia harus minta maaf pada pengasuh itu.


"Iya Non."


"Ada yang mau minta maaf padamu, itu..." Matanya menunjuk pada Daren yang sedang kesal.


Lucy melihat pria itu, meminta maaf untuk apa? kenal saja tidak. Ya Lucy tidak mengenal pria itu, karena malam itu kan memakai topeng semua.


"Dokter, bukannya kau mau minta maaf. Kenapa diam saja," sindir Felice.


"Ehhh tidak perlu Nona, kami tidak saling mengenal jadi untuk apa meminta maaf. Saya pamit mau meletakkan ini, di kamar nona." Lucy merasa tatapan laki-laki kurang bersahabat padanya, lebih baik dia pergi dari sana saja. Mengenal saja tidak untuk apa meminta maaf.


"Tunggu Lucy, apa kau tidak ingat siapa dia?" tanya Felice dan Lucy menggeleng.


"Dia laki-laki yang malam itu sudah mempermalukan mu dihadapan banyak orang," jelas Felice.

__ADS_1


Lucy baru ingat dari mata pria itu yang menatapnya tajam. Pantas saja tatapan matanya begitu tidak suka saat melihatnya ada di sini. Laki-laki itu kan menyukai nonanya. Lucy harus segera pergi dari sana, dia tidak ingin diantara mereka berdua lagi.


"Apa kau sudah ingat?"


"Sudah Non, kalau begitu saya permisi non."


"Ehhh... mau kemana, kan aku bilang kalau dokter Daren mau minta maaf. Iya kan dokter?" Felice menatap Daren yang hanya diam sejak tadi.


"I-iya... aku mau minta maaf karena sudah menuduh mu sembarangan malam itu. Maaf..."


Kalau bukan karena Felice aku mana mungkin minta maaf pada wanita itu.


"Bagaimana Lucy, apa kamu mau memaafkan dokter Daren?" Felice menatap Lucy dengan dahi berkerut.


"Iya Non, tidak apa-apa. Saya juga sudah melupakan kejadian itu." Memang apa yang bisa Lucy lakukan selain memaafkan. Ia ingin memaki tapi siapa dia.


Felice tersenyum puas melihat laki-laki yang sudah memandang rendah wanita kini meminta maaf.


"Aku sudah meminta maaf dan wanita itu juga sudah memaafkan ku. Jadi apa kau juga mau memaafkan ku," ujar Daren pada Felice. Dia sangat berharap bisa dekat dengan gadis itu. Biasanya dia tidak akan sepenasaran ini pada wanita, berbeda dengan Felice yang terus saja menolaknya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan dokter, aku tidak punya masalah apapun dengan anda. Jadi sekarang sudah selesai kan? Aku sudah ingin beristirahat, rasanya lelah sekali berbelanja seharian." Felice pura-pura menguap.


Daren tentu saja kecewa, dia berharap kalau Felice akan menemani nya mengobrol.


"Apa ada yang lain lagi Dok?"


"Ehh tidak, bisakah lain kali kita pergi berdua. Makan mungkin atau nonton?" tanya Daren.


"Ohh... kalau itu lihat nanti Dok, aku masih sibuk dengan kegiatan kampus." Felice cuek. "Apa ada lagi?"


"Tidak bisakah kita mengobrol dulu, aku ingin lebih mengenal kamu, Felice." Daren akhirnya mengutarakan maksudnya.


Felice...

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2