
°°°
"Woooww...," Daren meneguk ludah nya sendiri berkali-kali, saat seorang pramugari berpenampilan sek-si menghampirinya. Dia paham wanita dengan jenis seperti itu yang pasti sudah sering dicelup.
Daren melirik ke arah rekan-rekannya, dan sepertinya itu adalah hari keberuntungannya. Sepertinya mereka semua kelelahan dan saat ini sedang tertidur, termasuk Daniel sepupunya.
Senyum menyeringai pun tersemat di bibirnya. Saat pramugari itu semakin dekat, dilihatnya pa-ha yang mulus seperti sengaja diperlihatkan padanya. Karena kalau dia mengamati sejak tadi rok pramugari itu seharusnya tidak setinggi itu.
Sepertinya kau mau menggodaku nona. Ok, sejauh mana kau mau bermain-main dengan ku.
"Tuan, ini minuman anda." Pramugari itu sengaja sedikit membungkuk agar belahan da-da nya terlihat.
Daren cukup terhibur dengan keberanian wanita itu, terang-terangan menggodanya di hadapan banyak orang.
"Sepertinya aku tidak memesan itu nona," tolak Daren pura-pura jual mahal.
"Oh, ini memang spesial untuk anda." Sambil tersenyum menggoda. Sesekali menggigit bibirnya terkesan sek-si.
"Kalau begitu terimakasih," Daren menerima minuman itu lalu meletakkannya di tempat minuman.
"Kalau begitu saya permisi tuan." Membungkuk lagi sengaja. Sebelumnya dia sudah memperhatikan penumpang yang lain sedang tertidur. Sempurna untuk melancarkan aksinya.
Tiba-tiba saja wanita itu terjatuh dipangkuan Daren, membuat pria itu cukup terkejut tapi sedetik kemudian dia sadar kalau wanita itu sedang menggoda nya. Dia juga sering mengalami hal itu kalau sedang berada di club' malam.
"Maaf tuan, saya tidak hati-hati jadi kaki saya tersandung."
"Oh tidak apa-apa nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Daren pura-pura cemas.
"Ohh maaf tuan, saya akan coba berdiri." Bergerak menggeser-geser bo-ongnya yang berada di pangkuan Daren.
Woooww, lumayan. Daren menikmatinya.
"Awww..." Meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Apakah sakit, mana yang sakit. Boleh ku lihat." Daren mengikuti permainan wanita itu.
"Pergelangan kaki saya Tuan. Sakit untuk bergerak."
"Kebetulan saya dokter, nona duduk disini biar aku periksa." Daren baru saja mau berdiri.
"Tidak tuan." Tangan wanita itu menahan da-da Daren agar tidak beranjak. "Sebaiknya jangan disini, tidak enak kalau ada yang melihat." Jarinya memutar-mutar di da-da Daren.
"Baiklah, kalau begitu mari saya bantu berjalan. Anda tunjukkan dimana ruangannya." Kita lihat apa yang kau inginkan nona. Cukup berani juga kau menggoda laki-laki untuk bermain di atas ketinggian. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang kau goda. Pikir Daren.
Saat ini mereka sudah ada di sebuah ruangan, entah apa Daren tidak begitu tau. Yang dilihat banyak barang di sana.
"Disini saja Tuan," ujar wanita itu lalu dia duduk di sebuah meja, seperti meja dapur.
"Dimana rekan-rekan mu?" tanya Daren, karena melihat tempat itu sepi.
"Ohh mereka sedang beristirahat."
Karena roknya yang terlampau tinggi, tentu saja saat ini Daren bisa melihat pemandangan segitiga berwarna merah transparan yang terlihat menyembul dengan bulu-bulu yang menghiasi.
Glekkk. Gilaa... kenapa aku jadi gerah.
Segera dia kembali fokus pada kaki.
"Apa masih sakit nona?" tanya Daren.
"Aakkkhhh... masih Dok, aakkhh...."
Daren tertawa dalam hati, niat sekali wanita itu menggodanya. Mana ada bunyi kesakitan men-de-sah seperti itu.
Beberapa saat kemudian.
Bibir mereka sudah saling terpaut, me-ma-gut dan saling bertukar Sa-liva. Daren cukup menyukai permainan wanita itu yang begitu liar, sepertinya sudah sangat berpengalaman. Tangan Daren juga tidak tinggal diam, dia sudah membuka seluruh kancing seragam pramugari itu, lalu bermain dengan benda yang dari tadi menggodanya.
__ADS_1
"Aakhh... uhh..." De-sah-an dari mulut wanita itu terus keluar meski lirih, sepertinya dia tau bagaimana caranya bermain di situasi seperti itu.
bibir Daren sudah berpindah di da-da wanita itu, cukup besar tapi tebakan Daren itu bukan asli.
"Aakkh... Tuan... aku sudah tidak tahan... akhhh tuan Starles... aakhhh..."
Starles?? Daren menyeringai, sepertinya wanita itu sudah salah target. Rupanya dia mau menggoda sepupunya. Dasar wanita jaman sekarang memang kalau sudah gilaa harta ya begitu, tidak peduli prianya sudah beristri atau tidak.
Wanita itu terus memohon agar Daren melakukan hal lebih, bahkan sudah melucuti celana da-lam nya sendiri dan memperlihatkan mi-liknya pada Daren. Memainkan jarinya menggoda Daren karena pria itu belum juga bertindak, biasanya para pria yang ia goda pasti sudah menghujam nya habis-habisan.
"Taun... aakhhh... ayo Tuan, masukkan..."
Mi-lik Daren memang sudah berdiri sejak tadi, namanya juga laki-laki normal. Tapi sayangnya Daren tidak pernah bertindak sejauh itu. Biasanya paling jauh dia hanya me-ra-ba ra-ba atas bawah. Lalu memuaskan kekasihnya dengan jarinya tapi tidak pernah memasukkan mi-liknya. Baginya terlalu berharga, dia ingin pertama kali mi-liknya merasakan hal itu dengan wanita yang menjadi istrinya.
Ya lebih baik menuntaskannya dengan lima jari. Dari pada celah celup sana sini.
"Apa kau mau lebih nona?" tanya Daren sambil mengusap daging berlipat berhiaskan rambut itu.
"Aahkk... i-iya tuan..." Wanita itu mengiba ingin segera dipu-askan.
Daren mengambil tissue yang kebetulan ada di sana lalu mengelap jarinya yang basah karena cairan mi-lik wanita itu.
"Sayangnya, kau salah orang. Aku bukan tuan Starles." Daren berlalu begitu saja meninggalkan wanita itu yang nampak malu dan keheranan. "Lain kali, cari tau dulu dengan benar sebelum bertindak," ujar Daniel kembali menyembulkan kepalanya.
Daren terus tertawa sendiri di kursinya. Mengingat bagaimana reaksi wanita tadi.
"Berisik sekali, apa yang kau tertawakan? Apa ada yang lucu?" Daniel yang sedang tertidur sampai terbangun dibuatnya.
"Hehehe tidak ada," Daren menyengir kuda.
Daniel memperhatikan penampilan sepupunya yang sedikit berantakan, rambut dan kancing kemejanya bagian atasnya juga terlepas. "Apa yang baru kau lakukan?"
"Sedikit bersenang-senang." Mengerlingkan matanya.
__ADS_1