
Aura kematian semakin pekat bersama dengan kemunculan Ye Chen dari dalam. Tersenyum dingin dan siap membunuh.
Para tetua alkemis tidak bisa bergerak dari tempatnya, seperti terkunci oleh kematian itu sendiri.
"Siapa yang berani membuat keributan di sini?" kata Ye Chen berdiri di depan para tetua alkemis yang bahkan berdiri pun sudah tidak sanggup lagi.
Ye Chen melambaikan tangannya. "Pergi...!" Angin dingin menghempaskan tubuh para tetua alkemis, tak ada yang berani berbicara ketika mereka akhirnya bangun dan pergi membawa dendam.
Sekali lagi Lao Kang terpana, Ia sama sekali tidak menyangka.
Empat tetua alkemis tingkat Langit menengah bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah di luar dari apa yang aku perkirakan pikirnya.
Pelan-pelan Ye Chen menarik auranya dan kembali ke tingkat Langit awal. "Boleh juga keberanianmu paman Lao hehe..., oh ya aku akan bertanya sekali, apa kau serius ingin menyerahkan rumah lelang ini padaku."
"Aku tak pernah ragu dengan keputusanku. Aku bahkan sudah menyuruh Yifeng dan yang lain ke sini untuk mengumumkan hal ini."
"Kau tidak akan menyesal paman Kam. Kita ke dalam dulu, aku merasa sedikit lapar hehe...."
Keesokan harinya Lao Yifeng dan keluarga Lao yang lain telah tiba di rumah lelang pusat.
Hanya keluarga inti saja yang di undang, di antaranya ada Lao Yifeng putera tertua Lao Kang serta dua adiknya.
Tidak ada yang membantah keputusan Lao Kang yang mengalihkan kepemilikan rumah lelang pada Ye Chen.
Apalagi Lao Yifeng yang sudah tau siapa Ye Chen juga mendukung penuh keputusan ini.
"Tuan, maaf menganggu. Di depan ada tetua Kam dari rumah alkemis." Seorang penjaga.
"Tetua Kam...." gumam Lao Kang. "Apa anda mengenalnya paman? tanya Ye Chen.
Lao Kang mengangguk, "Dia adalah wakil ketua rumah alkemis, tapi ada rumor yang mengatakan bahwa dia lebih kuat dibandingkan dengan ketuanya. Kalau kemampuan alkemisnya, aku rasa dia adalah yang terhebat di kekaisaran ini."
"Persilahkan masuk saja, kita akan menjamunya" ucap Ye Chen yang berpikir ada maksud lain dari kedatangan tetua Kam.
"Tetua Kam," silahkan diminum, kata Ye Chen mengangsurkan arak spesialnya. "Jika kedatangan anda sama seperti tetua sebelumnya, maaf saja kami tidak akan memberikan penjelasan apa-apa, dan kalau anda merasa tidak puas, silahkan, kami tetap di sini." lanjut Ye Chen tegas.
__ADS_1
Tetua Kam menatap Ye Chen, tersenyum ringan, tidak ada aura permusuhan yang terpancar darinya. Sementara Lao Kang dan yang lain, meskipun kagum dengan sikap Ye Chen tapi dalam hati tetap merasa was-was.
Ini tingkat Langit puncak, sama sekali tak bisa disamakan dengan tetua yang sebelumnya.
"Apakah kau pemimpin yang baru?"
"Seperti yang anda lihat tetua Kam." sahut Ye Chen sambil memperkenalkan diri.
"Aura Langit awal," gumam tetua Kam sedikit kagum dengan pencapaian Ye Chen di usia yang masih sangat muda.
Kalau saja Ye Chen melepas energinya yang sudah di tahap menengah, mungkin tetua Kam akan lebih kagum lagi. "Apa kau yang meracik semua pil itu?" lanjutnya bertanya lagi.
Ye Chen tersenyum. "Silahkan di cicipi dulu araknya, tenang saja itu tidak memabukkan dan tidak beracun."
Akhirnya tetua Kam mengerti setelah meminum arak. Arus energi yang sangat halus mengisi seluruh urat du tubuhnya, membuat badan terasa segar dan nyaman.
"Arak yang sangat istimewa." ucapnya sambil memejamkan mata. Tanpa sadar Ia telah meminum sampai tiga cawan arak yang ja yakini akan membantu kultivator tingkat Perak ke bawah langsung bisa menerobos.
"Mungkin bisa seperti itu." kata Ye Chen yang melihat reaksi tetua Kam seperti bisa membaca pikirannya.
"Hahaha aku tak menyangka pemimpin rumah lelang yang baru ternyata sangat baik." Ucapan tulus tetua Kam sekaligus membuat Lao Kang dan yang lain sedikit tenang. "Tuan Ye, mungkin aku tidak sopan tapi biarlah si tua ini belajar sedikit dari anda." maksudnya adalah ingin melihat cara Ye Chen meracik pil.
Sebentar saja, dua pil Langit awal telah melayang di atas tungku.
Ye Chen mengambil satu dan memberikan satu kepada tetua Kam.
"Tuan Ye, anda sungguh berbakat." puji tetua Kam. Ia dan pengurus rumah lelang terkesima menyaksikan cara meracik pil yang bagi mereka sangatlah luar biasa.
Mau tidak mau tetua Kam harus mengakui keunggulan Ye Chen meracik pil. "Tuan Ye aku mewakili rumah alkemis meminta maaf kepada anda." ucapnya.
"Tidak masalah, menurutku mereka hanya iri saja. Apa salahnya kalau rumah lelang kami berbuat sesuatu demi kemajuan kami sendiri?" sahut Ye Chen. "Kalau anda mau, aku bisa membagi tehnikku pada anda." lanjutnya lagi.
Sebagai alkemis, tentu saja tetua Kam tidak menolak. "Benarkah?" tanyanya agak ragu.
"Tentu saja, tapi itu semua tergantung anda sendiri dan satu lagi, anda harus bergabung bersama kami." Ye Chen.
__ADS_1
Akhirnya tetua Kam pergi, Ia yang sudah tidak kerasan lagi di rumah alkemis memutuskan keluar dan bergabung dengan rumah lelang.
Keputusannya ini membuat rumah alkemis semakin tidak suka dan dengan pengaruhnya, mereka mulai menghasut pihak kekaisaran terutama akademi kekaisaran yang sempat berselisih dengan Ye Chen.
...
Hari ini Ye Chen berjalan-jalan, sementara tetua Kam sudah beberapa hari ini sibuk berlatih tehnik meracik pil di rumah lelang.
Karena sejak tiba di ibukota Ye Chen yang belum sekalipun keluar berencana untuk melihat-lihat sekaligus mencoba makanan di ibukota.
Di pasar yang sangat ramai, Ye Chen memasuki sebuah toko yang menjual berbagai aksesoris. "Ini mungkin cocok untuk anak-anak." gumam Ye Chen sambil menimang sebuah aksesoris rambut.
"Pelayan, bungkus ini dan tolong pilihkan beberapa untuk anak perempuan dan mainan."
Hampir semua toko Ye Chen masuki, Ia membeli banyak sekali oleh-oleh yang Ia pikir cocok untuk anak-anak desa Ye nanti.
"Kemana orang itu pergi? tampak dua orang terlihat bingung kehilangan jejak Ye Chen.
"Apa kalian mencariku?" Ye Chen tiba-tiba saja muncul di belakang mereka dan tanpa sempat berkata lagi, dua orang ini terkulai lemas, tewas dengan kepala dan dada ditembusi belati iblis.
Sesosok bayangan berkelebat cepat, menyerang Ye Chen dengan tendangan kuat.
Plakk...
Ye Chen menangkis dan menangkap kaki orang yang menyerangnya.
"Jangan macam-macam, cepat lepaskan." teriaknya.
"Baik, nah ambil kakimu." Bukan melepaskan tapi Ye Chen memotong kakinya dan melempar menghantam dadanya.
Hueek...
"Kau...! berani sekali, apa kau tau siapa aku?"
"Aku tidak peduli, dari tadi kalian telah mengikutiku. Lebih baik kau renungi kebodohanmu saja di alam sana." Sekali lagi belati iblis memakan korbannya.
__ADS_1
"Bagus sekali, kau benar-benar berani membunuh orang rumah alkemis."
"Oh rupanya dari rumah alkemis, pantas saja. Aku tidak akan bertanya lagi, mengintaiku berarti mati." ucap Ye Chen yang kini tau siapa yang membuntutinya sejak masuk ke pasar kota.