Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Perang Satu Hari


__ADS_3

Kaisar tidak berharap banyak, sekali seseorang berkhianat makan akan sulit untuk mengubahnya kembali, inilah yang membuat Kaisar tidak terlalu memikirkan menteri Kun atau prajuritnya akan bertaubat.


"Baiklah, jangan katakan kalau aku tidak memberi pengampunan." kata Kaisar kemudian. Dengan ini, bebannya sebagai Kaisar sudah terangkat.


Pyarr...


Suar peringatan ditembakkan ke udara, memecah keheningan pagi sekaligus isyarat pasukan Istana kepada Ye Chen untuk mulai bergerak.


"Adik Jia, jaga dirimu baik-baik. Ingat, jangan memaksakan diri."


Ye Chen tersenyum lembut kepada putri Jia sebelum menghilang. Sementara putri Jia mengeluarkan teknik kabut es. Seketika kabut tipis yang menyelimuti area yang luas berubah menjadi tebal sampai menutup pandangan.


"Putri, sudah cukup."


Giro yang menjaga putri Jia mengingatkan putri Jia untuk berhenti, jika diteruskan, putri Jia bisa terluka karena terlalu memaksakan diri. Apa yang putri Jia lakukan sudah cukup, hampir sebagian besar daratan itu tertutup kabut tebal.


"Aku akan mengawal putri ke Istana untuk memulihkan diri."


Putri Jia menggeleng pelan, menolak permintaan Giro. Ia lalu berkata, "Aku akan tetap disini, kabut ini perlu dipertahankan."


Giro tidak mengatakan apa-apa mendengar ini, Ia tetap berdiri ditempatnya dan waspada.


Menteri Kun.


"Sial! apa-apaan kabut ini. Cepat buat barisan, lakukan sesuatu."


Kabut es memang sangat menganggu, jarak pandang memang sangat pendek ditambah lagi dengan aliran udara yang sangat dingin. Benar-benar sebuah mimpi buruk untuk menteri Kun dan pasukannya.


"Lepaskan panah!"


Ribuan panah melesat dari arah Istana, membunuh banyak pasukan menteri Kun. "Perisai! pasang perisai!"


Menteri Kun mulai panik, terlalu banyak korban dari pihaknya akibat serangan mendadak yang tak bisa di antisipasi olehnya. Pukulan ini benar-benar sangat besar untuknya.


"Ayah, bagaimana ini?"

__ADS_1


"Tak berguna, pikirkan sesuatu jangan hanya melihat saja." Menteri Kun memarahi Kunlao anaknya yang dianggapnya tak bisa berbuat apa-apa.


"Menteri Kun, tenang saja jangan panik. Anak buahku akan membereskan masalah ini."


Mendengar pernyataan dari Sirio yang baru muncul itu, menteri Kun merasa lega. Sirio melanjutkan lagi ucapannya, "Gunakan ketapel raksasa itu, Istana bisa dibangun nanti."


Ketapel raksasa adalah sebuah pelontar besar yang di isi dengan bola Qi, daya rusaknya sangat kuat dengan jangkauan melebihi anak panah biasa. Tadinya menteri Kun merasa sayang menggunakan pelontar ini karena Ia tidak mau tembok-tembok dan bangunan Istana rusak saat Ia memerintah nanti.


"Kurasa kau benar tuan Sirio." ucapnya. "Kunlao! pergi dan siapkan semua pelontar." perintahnya kepada Kunlao.


Ditengah hujan anak panah, Kunlao dan pasukannya menyiapkan pelontar. Kabut es juga perlahan menghilang karena berkurang energinya ditambah lagi pasukan Sirio mulai bergerak dengan memukul Qi api ke udara.


Area yang luas itu sekarang telah sepenuhnya bebas dari kabut, banyaknya korban dari pihak menteri Kun tidak membuat pasukannya terlihat berkurang, kematian mereka seolah tidak berarti untuk pasukan sebesar itu.


Pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai, Kaisar Peri yang sudah mengetahuinya ini segera memberi tanda kepada panglima Lin untuk mengambil alih mengatur serangan.


Tak butuh waktu lama sampai kedua pasukan besar bertemu. Makhluk terkutuk berdiri paling depan disusul oleh pasukan menteri Kun dan terakhir adalah pasukan Sirio. Sirio sendiri yang mengaturnya dan dia tidak bodoh untuk membiarkan pasukan Iblis untuk mati duluan, menteri Kun lah yang bodoh, mudah terhasut demi kepentingan dan ambisinya sendiri.


Kecerdasan makhluk terkutuk sangat rendah, dengan cepat mereka berlari menerjang pasukan Istana, pedang panjang dan tombak besar yang menjadi senjata andalan mereka terhunus.


Ribuan pedang dan tombak beradu, bola Qi dari pelontar kedua kubu beterbangan seperti hujan meteor, menghancurkan dan membunuh.


Perisai pasukan Istana retak, hancur berkeping-keping.


Pyarr...


Sekali lagi suar ditembakkan ke langit, ini adalah tanda dari Istana kalau perisai telah hancur sekaligus isyarat kepada pasukan panglima muda Lin yang ada di luar untuk bersiap.


Pertempuran terbuka tak dapat dihindari lagi dan sesuai hasil rapat, pertempuran ini harus selesai dalam satu hari atau kemenangan akan sangat sulit didapatkan. Bertempur melawan kekuatan yang lebih besar memerlukan banyak pengorbanan dan strategi, kalau tidak maka semua akan sia-sia.


Ye Chen mengusulkan perang satu hari dengan semua sumber daya yang ada, tujuannya adalah memberikan efek kejut pada lawan sehingga melemahkan mental bertarung lawan.


Panglima besar Lin sebagai penanggung jawab kemudian menyetujuinya usulan ini.


Giro yang masih menemani putri Jia memulihkan kekuatannya tampak tenang, sampai Ye Chen kembali.

__ADS_1


"Tuan..."


Ye Chen mengangguk, lalu memimpin rapat sederhana bersama bersama pasukan seratus.


"Adik Jia, bagaimana kondisimu?"


"Aku siap kakak Chen." sahut putri Jia.


"Baiklah, tapi ingat kau harus hati-hati." setelah itu Ye Chen berpaling kepada Giro lalu berkata, "Giro, aku percaya padamu."


"Aku siap tuan."


Dengan menyerahkan keselamatan putri Jia kepada Giro, Ye Chen bisa tenang. Ye Chen lalu membuka peta area pertempuran.


"Titik utama kita ada di sini. Jika ada yang terluka, kalian bisa langsung kembali dan memulihkan diri." Ye Chen juga memberi tahu titik-titik teleport yang ada di medan pertempuran yang telah dibuatnya.


"Baiklah, semuanya aktifkan pelindung kalian dan token teleport. Setelah setengah pasukan Paman bergerak, kita juga bisa bergerak."


"Siap!"


Pada dasarnya pasukan seratus ini adalah par prajurit Istana yang terlatih lalu kemudian mengundurkan diri. Saat ini negara membutuhkan mereka dan tentu saja mereka semua siap dan dengan cepat dapat memahami semua instruksi Ye Chen.


Matahari telah melewati titik tertingginya. Seperti memang seharusnya, pasukan Istana mulai kewalahan. Panglima besar Lin lalu memberikan perintah mundur.


"Hahaha ayah, lihat mereka mundur." Kunlao sangat senang, begitu juga dengan menteri Kun ayahnya melihat pergerakan ini.


"Serang terus! kejar dan hancurkan mereka haha."


Menteri Kun tidak bisa membiarkan ini, Ia mengabaikan saran dari panglimanya sendiri untuk menarik pasukan dan waspada dengan strategi lawan, sayangnya menteri Kun bukan berasal dari militer sehingga menteri Kun tidak tau siasat.


Akhirnya panglima besar Lin tersenyum puas, pasukan yang mengejar mereka sangat benar-benar tidak bisa berpikir. "Lepaskan!" panglima besar Lin kembali mengeluarkan perintah untuk kembali melepas anak panah setelah pasukan menteri Kun masuk dalam jarak tembak.


Pasukan besar ini kocar-kacir, mereka segera berbalik untuk menyelamatkan diri namun sayang pasukan besar pimpinan panglima muda Lin menghadang jalan mereka sehingga tak ada jalan lain selain tewas.


Menteri Kun geram mendengar kabar ini, Ia tak bisa berbuat apa-apa atau lebih tepatnya tau harus berbuat apa.

__ADS_1


Belum sempat memikirkan langkah selanjutnya bersama para panglimanya, seorang pengawal."


__ADS_2