
Ye Chen melempar pedang hitamnya dan naik keatasnya, setelah meminta Xiao Yun menunggu sebentar, Ia melesat pergi. Karena lebih cepat mencari dari atas, Ye Chen bergerak duluan.
"Hebat sekali, sejak kapan tuan muda menguasai tehnik pedang terbang?" Tanya Xiao Yun penasaran.
Ye Chen yang telah kembali dan memastikan lokasi danau yang dimaksud, enggan menceritakan tehnik pedang terbangnya.
"Nanti saja, sebaiknya kita cepat pergi aku kuatir yang lain tidak sanggup lagi menghadapi anggota sekte itu," kata Ye Chen. "Aku duluan, cepatlah Menyusul." Lanjut Ye Chen memberitahu arah mana yang harus Xiao Yun tempuh.
Tidak berapa lama Xiao Yun menemukan lokasi danau, di sana Ye Chen telah bergerak menggempur kelompok anggota sekte Racun Darah.
Tampak teman-teman dari desa sedang duduk jauh dari pertempura, memulihkan diri.
Wuuss... Jleeb
Dua anak panah melesat, namun sayang satu anak panah meleset dari sasaran, mengenai pundak lawan.
"Memang susah mengenai target yang bergerak." Gumam Xiao Yun yang kembali membidik sasaran.
"Tuan muda! sisakan untukku, aku juga perlu melatih tehnikku." Xiao Yun berteriak keras kepada Ye Chen yang menyerang dengan penuh semangat.
Hais bagaimana bisa berlatih kalau yang aku bidik adalah orang yang telah tewas, pikir Xiao Yun berlari lagi memperpendek jarak tembak.
Ye Chen mana mungkin mau mendengar teriakan Xiao Yun. Sekali Ia bergerak, Ia tidak akan pernah puas sampai semua musuh habis. Xiao Yun tau benar hal ini.
Karena Ye Chen bergerak semakin cepat, Xiao Yun juga tak perduli, baginya membidik anggota tubuh yang terpental juga tidak masalah.
Tidak berselang lama, semua anggota sekte Racun Darah telah tewas. Bau anyir darah tercium dari seratus lebih korban tewas.
Banyak jasad yang tidak utuh lagi dengan anak panah yang menancap, ada juga anggota tubuh yang terpisah yang juga tertancap sebatang panah di sana.
Bagi Ye Chen, mereka ini bukanlah lawan yang sepadan. Tingkat Langit awal saja masih sanggup di imbanginya apalagi mereka ini yang sebagian besar berada di tingkat emas, hanya beberapa saja yang ada di tingkat Bumi awal dan Tengah.
Ye Chen menyimpan pedangnya dan masuk ke dalam danau, memanen semua teratai air yang ada di sana.
"Ini lebih dari cukup untuk membuat pil Bumi, sisanya akan kutanam di dimensi cincin hijau." Ucap Ye Chen dalam hati.
"Apa ada yang kalian temukan lagi selain ini?" Tanya Ye Chen.
"Kami menemukan kawanan siluman kuda tanduk dua tuan muda, dua ratus kilometer di barat sana." Jawab salah satu anggota kelompok Ye Chen.
"Baiklah semuanya, kita kesana. Kita bawa siluman kuda ini ke desa."
Siluman kuda ini sangat cocok sebagai tunggangan. Selain cepat, siluman kuda ini bisa berlari tiga hari tanpa lelah.
Suasana pingggiran danau kembali sepi setelah Ye Chen dan lainnya pergi.
"Panglima, apa anda yakin akan mengikuti mereka?" Sebuah suara memecah keheningan di dekat danau.
"Ah mereka menghabiskan semuanya, tak terisa satupun." Suara lain kembali terdengar.
Suara-suara ini adalah kultivator yang tertarik datang setelah mendengar dentingan senjata dan teriakan dari pertempuran Ye Chen dan Xiao Yun.
Awalnya mereka hendak melerai, karena mungkin saja kelompok yang bertarung ini adalah parade generasi kekaisaran.
Kekaisaran memang melarang mereka saling bertempur apalagi membunuh saat berada di dunia dimensi.
Tapi niat ini mereka urungkan setelah melihat jalannya pertempuran. Dua orang tingkat Bumi tengah dan awal membantai ratusan tingkat Bumi lain.
Bisa-bisa niat mereka malah menyeret mereka ke dalam pertempuran brutal.
Lebih baik diam menunggu, tidak usah mengambil resiko, toh mereka juga tidak mengenal siapa yang sedang bertempur.
__ADS_1
"Tentu saja, kita harus memastikan siapa mereka ini. Tapi ingat, jaga jarak. jangan sampai membuat mereka marah." Jawab sang panglima yang agak gentar juga setelah melihat pertarungan Ye Chen.
Panglima ini adalah utusan kekaisaran yang memang sengaja di kirim masuk ke dunia dimensi untuk memantau orang-orang yang bisa menimbulkan masalah bagi keamanan kekaisaran.
Tiga panglima dan lima puluh kapten pasukan di ikutsertakan ke dalam dunia dimensi.
"Panglima, apa anda tau siapa orang-orang ini?"
"Apakah mungkin mereka ini anggota pasukan khusus kaisar?" Pertanyaan lain terlontar dari pasukannya.
"Aku rasa bukan," ucap si panglima. "Aku pernah bertemu mereka dan sepertinya tidak ada yang semuda orang itu." Jawab si panglima.
"Tuan muda, sepertinya ada yang mengikuti kita." Ucap Xiao Yun berjalan di samping Ye Chen.
"Sudah, biarkan saja. kecuali mereka mengganggu kita, jangan pedulikan mereka."
"Wah... jadi ini siluman kuda bertanduk dua itu, terlihat sangat kuat memang." Dengan mata berbinar senang, Ye Chen menatap kawanan kuda di depannya, di ikuti pandangan mata yang lainnya.
Di depan mereka saat ini sekitar lima puluh siluman kuda bertanduk dua yang besar dengan warna beraneka ragam, putih, hitam, coklat bahkan ada yang sedikit berwarna merah.
Ukuran tubuhnya lebih besar dari ukuran tubuh kuda biasa dari ras yang terbesar. Ye Chen yangbaru pertama kalinya melihat siluman kuda bertanduk dua sangat senang, seperti anak kecil di beri hadiah mainan baru.
"Eh apa yang orang-orang itu lakukan?"
"Mereka tentu saja ingin menangkapnya, siluman kuda ini sangat langka di dunia luar." Kata Xiao Yun yang di iyakan yang lain.
Merasa ada yang salah, Ye Chen kemudian bertanya pada anggotanya.
"Memangnya kuda ini sudah pernah ada yang punya?"
"Haduh tuan muda, anda terlalu lama sih tinggal di hutan. Kuberitahu ya, kuda ini memang sangat langka keberadaannya tapi bukan berarti tidak ada diluar sana." Kata Xiao Yun.
"Aku saja pernah menaikinya dan memang kuda ini dulu." Ucap Xiao Yun mengakhiri ceritanya.
"Lama di hutan...." Guman Ye Chen sedikit melamun mendengar ucapan Xiao Yun pertama.
Padahal aku sudah siap memamerkannya pada penduduk desa, menunggang siluman kuda bertanduk dua mengelilingi desa. Hais, anak hutan. Ye Chen bermain-main dengan pikirannya sendiri, sedikit tertekan memang. Hanya dia yang tidak pernah melihat hewan di depannya, parahnya lagi ia sempat berpikir mencari pujian.
"Nona Xiao..." Salah satu anggota kelompok Ye Chen berkata pelan, seolah bertanya ada apa dengan tuan muda.
Xiao Yun juga sadar, jangan-jangan tuan muda tersinggung dengan mengatakan padanya terlalu lama tinggal di hutan.
Merasa tidak enak, Xiao Yun kemudian berkata.
"Tuan muda.... bukan maksudku untuk... ... " Xiao Yun berkata sangat perlahan, tapi sudah cukup membuyarkan lamunan Ye Chen.
"Tidak apa." Ye Chen tau tidak ada maksud apa-apa saat Xiao Yun berkata demikian.
Tunggu saja, kau harus dihukum nona Xiao, batin Ye Chen.
Xiao Yun hanya mengangguk pelan.
Tapi kenapa aku merasa tidak nyaman ya, seolah sesuatu yang buruk akan terjadi, batin Xiao Yun.
"Kalau begitu, kita harus cepat mengambil semua kawanan kuda ini sebelum mereka mendahului kita." Kata Ye Chen yang yang melihat ada lagi sekelompok orang yang datang, mencoba menjinakkan siluman kuda.
Mereka lalu berpencar, masuk ke dalam perebutan siluman kuda dengan kelompok lain.
"hm, sepertinya harus kusimpan di dimensi cincin hijau."
Awalnya memang Ye Chen bermaksud menyimpan kawanan kuda ini di dimensi cincin tapi akan Ia lakukan diam-diam.
__ADS_1
Jujur Ia tidak mau ada yang tau mengenai hal ini, Ia belum mau saja rahasianya diketahui orang lain.
Tapi sekarang ini tidak mungkin, mau tidak mau Ia harus membiarkan orang lain tau dunia dimensi di cincinnya.
Setelah berpikir sebentar, Ye Chen mundur perlahan mencari tempat sepi dan memasang aray ilusi.
Tidak mau ada yang mengganggunya, apalagi di sana masih ada kelompok yang terus mengikutinya.
Merasa semua persiapan sudah siap, Ye Chen memasuki dimensi cincin menggunakan kesdaran jiwanya.
Ia mengatur dunia dimensinya. Kolam tempat tumbunya pohon kehidupan, tanaman herbal bahkan rumah sederhana yang Ye Chen Ia tutupi dengan ilusi.
Menyisakan sebuah tanah yang luas yang dapat menampung kawanan kuda.
"Beres, saatnya pulang ke rumah baru anak-anak." Ucap Ye Chen bangkit dari duduknya.
"Serahkan semuanya padaku, kalian cukup pergi dan ambil semua kuda yang kelompok-kelompok dapatkan."
Mulailah mereka bergerak, berpencar menghadang setiap kelompok yang berhasil mendapatkan siluman kuda bertanduk dua ini.
Wuuss...
anak panah melesat menembus tanah di depan salah satu kelompok.
"Hei nona apa yang kau lakukan?" Tanya ketua kelompok yang tidak terima perlakuan Xiao Yun.
"Aku menginginkan siluman kuda itu. Tinggalkan kuda itu dan kalian boleh pergi." Ancam Xiao Yun yang kembali merentangkan busurnya.
"Ketua jangan dengarkan dia, kita hajar saja bocah ini."
"Jangan gegabah." Kata si ketua.
"Nona, kami yang pertama menjinakkan kuda ini. Kenapa harus memintanya? lihat di sana, masih banyak kuda-kuda yang lain."
"Tuan mudaku ingin mengambil semua kuda-kuda ini, termasuk kuda yang kalian pegang sekarang." Tak ada ekspresi di wajah Xiao Yun saat mengatakan ini.
"Kita lihat apa kau berani membunuhku, ayahku adalah saudagar kaya, ak... ... "
Jleeb...
Anak panah menancap kepala orang ini sampai tembus ke belakang tengkoraknya.
"Seraaaangg...!"
Melihat ketuanya tewas, bukannya mereka takluk tapi malah berniat menyerang.
Xiao Yun yang sudah siap dari tadi dengan cepat menarik busurnya.
Jleeb... Jleeb...
Dua anak panah yang dilepaskan sekaligus menancap di dada dua orang. Xiao Yun maju menggenggam satu anak panah dan mulai bertarung, dalam gulungan yang Ia pelajari terdapat tehnik bertempur menggunakan anak panah.
"Tehnik Pemanah Surga... jurus pertama."
Xiao Yun menari-nari dengan panah di tangannya, membunuh setiap langkah.
Jangan melihat Xiao Yun adalah perempuan lemah. Biarpun menggunakan panah sebagai senjatanya, yang notabene adalah petarung jarak jauh, Xiao Yun juga mahir bertarung jarak dekat.
Kalau saja itu menggunakan pedang seperti yang biasa lakukan, dalam waktu sebentar saja lima belas orang di depannya ini pasti sudah pindah alam.
Seperti yang lain, Xiao juga mahir menggunakan tehnik tarian pedang hanya saja Ia lebih memilih tehnik panah yang baru saja Ia pelajari.
__ADS_1