
Taktik memecah pasukan besar menjadi beberapa kelompok sangat efisien, terutama bisa membagi perhatian musuh dan memutus jalur komunikasi tapi bukan berarti tidak ada celah di sana.
Menteri Kun mempunyai tiga pasukan, pertama dari ras Peri yang berkhianat lalu ada makhluk terkutuk dan yang lainnya adalah Iblis pimpinan Sirio sendiri. Tiga kali lipat lebih besar dari jumlah pasukan Istana.
Secara perlahan bisa dilihat pasukan kecil yang dipecah oleh Istana akhirnya habis dan hanya sebagian saja yang kembali untuk bergabung dengan pasukan induk.
Di istana.
"Panglima Lin, apa anda yakin dengan strategi ini? pertempuran satu hari, akh... Istana akan runtuh dalam satu hari."
Kaisar tampak frustasi melihat perkembangan ini, pasukan Istana hanya bisa bertahan ditengah gempuran pelontar Qi pihak lawan.
"Yang mulia, dari semuanya, taktik inilah yang paling bisa kita lakukan." sahut panglima Lin tak berdaya.
Kaisar terdiam, bukan tidak tau, sang Kaisar hanya sedikit frustasi saja. Waktu baru saja melewati puncak hari dan kerugian yang diderita sudah terlihat dengan jelas. "Aku tau, maaf panglima Lin aku hanya sedikit tertekan." katanya dengan nada sedih sambil menghela nafas, sudah terbayang kehancuran di depan matanya.
"Huff... sudahlah, bagaimana perkembangannya?"
Sang Kaisar yang tidak mau terlarut dalam pikirannya akhirnya bertanya, sementara panglima Lin kemudian tersenyum lalu berkata, "Untuk sementara kita bertahan dan menunggu pasukan Paman dan Yungtao bergerak."
Di pihak menteri Kun, meskipun taktik yang diterapkan Istana membuat kerugian besar pada pasukannya tapi itu masih belum cukup untuk menggoyahkan kekuatan tempurnya. Sayangnya hanya Sirio yang diandalkannya sebagai pengatur taktik dan serangan, dia hanya berhasil mempengaruhi beberapa panglima yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan panglima besar Lin.
"Lapor! pasukan kita sudah semakin dekat gerbang utama Istana."
"Lapor! sebelah barat Istana sudah hampir dikuasai."
"Lapor! sebelah timur...
Satu persatu pemimpin pasukan melapor, menteri sangat puas dengan hasil ini. Dengan bangga dia memberi perintah untuk terus maju.
" Sepertinya kau sangat puas menteri Kun."
__ADS_1
"Oh tuan Sirio, tentu saja. Sebentar lagi Istana akan jatuh dalam genggamanku. Begitu gerbang Istana berhasil dihancurkan, maka kemenangan sudah dipastikan haha."
"Jangan lupa kesepakatan kita."
"Tentu saja, anda tenang saja."
Setelah percakapan ini, Sirio langsung pergi dengan senyum licik di bibirnya. Sementara menteri Kun mengangguk puas dan berjanji kepada Sirio.
Hari mulai gelap namun tanda-tanda perang berhenti belum ada, intensitasnya tetap sama. "Sial! apa yang Istana pikirkan? apakah mereka ingin bertempur terus-menerus tanpa istirahat?" menteri Kun sedikit gelisah.
Bukan apa-apa, salah satu faktor musuh terus bertempur tanpa kenal lelah adalah karena banyaknya sumber daya yang dimiliki dan tentunya jumlah pasukan yang banyak sehingga bisa bertukar terus. Paling tidak hal inilah yang jadi pikiran menteri Kun dan juga menganggu pikirannya.
"Apakah aku salah? apakah Istana memiliki pasukan cadangan yang tidak aku ketahui?"
Yang tidak diketahui oleh menteri Kun adalah Istana sudah siap mati. Lebih baik mati dalam perang daripada menyerah dan dibunuh adalah pilihan Istana, tentu saja Istana juga tidak bodoh, berkat adanya Ye Chen dan bukit Nannan yang menyuplai pil pemulihan sehingga taktik ini bisa berjalan dengan baik.
Malam pun tiba, Ye Chen yang sudah menyiapkan semuanya telah kembali menemui Giro, putri Jia dan pasukan seratus.
"Adik Jia, apakah sudah siap?"
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Paman dan Yungtao beserta pasukannya sedang memulihkan diri, sekarang giliran kita."
Putri Jia tidak membantah lagi, setelah Ye Chen membagikan token teleportasi kepada semuanya, mereka pun berangkat ke medan perang.
"Bunuh sebanyak yang kalian bisa, jangan memaksakan diri. Kematian kalian adalah kehancuran alam ini." pesan Ye Chen kepada pasukan seratus. Ia lalu membagi mereka menjadi kelompok kecil yang masing-masing berjumlah sepuluh orang.
Mula-mula Ye Chen pergi ke Istana, memastikan rencana malam ini lalu menemui Paman yang sudah mulai pulih. Terakhir Ia pergi menemui Lin Yungtao yang masih terus bertempur di benteng timur.
"Saudara Chen, apakah sudah akan dimulai?" katanya ketika Ye Chen muncul di sana.
Ye Chen hanya mengangguk, lalu pergi. Selepas itu Lin Yungtao menembakkan suar sebagai tanda untuk seluruh pasukan.
__ADS_1
Tanda ini adalah petunjuk untuk seluruh pasukan untuk mundur, memulihkan diri sampai tengah malam untuk memulai perang lagi.
"Apa, apa yang terjadi? apakah Istana menarik semua pasukannya?"
Menteri Kun kembali dibuat pusing mendengar laporan situasi perang yang mengatakan Istana menarik pasukan.
"Ayah sepertinya mereka sudah menyerah." Kunlao.
"Benarkah? kenapa aku melihat seperti ada yang salah dengan ini?"
Menteri Kun menampik ucapan Kunlao anaknya, tapi setelah beberapa lama menunggu, Ia akhirnya tertawa.
"Hahaha panggil semua pemimpin pasukan, perintahkan untuk istirahat, buat barikade pengepungan. Begitu pagi tiba, kita serang dengan kekuatan penuh."
Kali ini menteri Kun setuju dengan ucapan Kunlao, sejak Istana menarik pasukan, tidak terlihat tanda-tanda gerakan lagi meskipun pelontar Qi tidak pernah berhenti menghantam Istana.
Saat inilah yang Ye Chen tunggu, Ia dan pasukan seratus bekerja dalam senyap. Melumpuhkan setiap tentara, langsung di sarang musuh. "Giro, hancurkan semua pelontar Qi." kata Ye Chen, Ia sendiri bergerak bersama putri Jia.
Inti atau kunci dari taktik yang Ye Chen usulkan adalah serangan ini. Sepuluh kelompok pasukan seratus menyebar di seluruh pasukan menteri Kun. Tugas melumpuhkan pasukan Sirio dilakukan oleh Ye Chen sendiri dan putri Jia.
Lewat tengah malam.
Istana mulai ada pergerakan, "Kaisar, ini sudah waktunya."
Sang Kaisar mengangguk mengerti, sekali lagi Ia berdiri di depan seluruh pasukan Istana.
"Pasukanku, bersiaplah, inilah puncak perjuangan kita. Satu pesanku, jangan mati."
Hanya kalimat pendek ini yang bisa diucapkan Kaisar, memang tidak banyak yang bisa diucapkan, tak ada yang tak mengerti bagaimana situasi medan perang.
Giliran panglima besar Lin yang maju, dengan lantang dan penuh wibawa panglima, Ia berkata, "Malam ini, aku, panglima besar Kekaisaran Peri bersumpah akan mengorbankan darahku untuk melindungi tanah air. Harapanku pada kalian adalah sama, mari kita tunjukkan kekuatan Istana Peri kepada pengkhianat."
__ADS_1
Selepas pidato singkat itu, seluruh pasukan mulai bersiap, kembali ke garis depan dengan perlahan. Semua pelontar Qi disiapkan sampai garis batas agar tidak terlihat.
Pun begitu dengan Paman yang ada di barat dan Lin Yungtao di timur, mereka pun bersiap untuk pertempuran puncak, pertempuran terakhir yang akan menentukan nasib mereka menghadapi pengkhianatan menteri Kun dengan bantuan Sirio.