
"Penatu, anda di sini?" suara halus dari dalam membuat semua menoleh, itu adalah suara bibi Xiao, Ia datang setelah mendengar Xiao Yun yang terisak.
"Ibu...." Xiao Yun berlari menuju bibi Xiao dan memeluknya erat. "Itu... Aa ayah, benarkah...?" tanyanya dalam pelukan ibunya.
Bibi Xiao mengangguk, "Benar, dia adalah ayahmu, Xiao Chengfeng. Pergilah, temui dia, maaf selama ini aku merahasiakan semuanya padamu."
Sementara itu, penatua Xiao menatap bibi Xiao dan berkata pelan, "Xiao Ran, syukurlah anda selamat."
"Tuan Xiao, kenapa begitu lama?" protes bibi Xiao yang mengaggap penatua Xiao tidak berusaha mencari puterinya.
"Setelah peristiwa itu reda, portal penghubung juga hilang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Baru sekarang aku bisa sampai di sini, itupun karena keberuntunganku saja.
"Kemarilah nak, kemarilah...." ucap penatua Xiao sambil merentangkan tangannya, Xiao Yun yang berlutut bangkit dan menghambur ke pelukan ayahnya. "Ayah...!" ucap Xiao Yun di sela tangisnya yang membuncah. "Ayah, ceritakan tentang Ibu." ucapnya lagi, penatua Xiao hanya mengangguk mendengar ini.
Bahkan di tengah keadaan yang kacau, terselip sebuah kebahagiaan yang mengharukan. semua terdiam, larut dalam suasana. Ini adalah berkah, ini adalah sebuah hadiah dari takdir yang harus disyukuri. Di luar sana, banyak sekali anak yang kehilangan orang tua, seorang ayah atau Ibu yang tak pernah tau dimana anaknya berada.
Berbahagialah orang yang masih bersama orang-orang yang selalu mengasihi, jangan pernah sia-siakan mereka karena suatu hari nanti saat masa berpisah itu tiba, anda akan merasa sangat merindukan saat-saat bersama dengannya.
"Penatua, kami pergi dulu, masih ada yang harus dikerjakan." kata ketua Song diikuti yang lain, mereka memberi kesempatan ayah dan anak itu berbagi cerita. Bibi Xiao juga pergi ke dalam lalu kembali dan menyajikan teh.
"Aa... ayah," kata Xiao Yun, Ia masih belum terbiasa dengan sebutan ayah. "Apa anda terluka? sini biar kuperiksa."
Setelah memeriksa sebentar, Xiao Yun mengambil pil pemulih dan memberikannya pada penatua Xiao yang mengambilnya sembari tersenyum. Rasanya sangat nyaman diperhatikan anak sendiri.
Bibi Xiao yang melihat ini juga tersenyum, lalu berkata pada Xiao Yun, "Yun'er, apa kau tau ayahmu adalah seorang alkemis?"
"Benarkah?" tanya Xiao Yun, tapi kemudian menjadi malu setelah menyadarinya. "Jadi ayah...." Rasanya jadi canggung, memeriksa keadaan seorang alkemis dengan kultivasi tingkat Suci.
"Hahaha sudahlah, tak apa, nanti akan kuajarkan semua pengetahuanku kalau kau mau?" kata penatua Xiao.
__ADS_1
Xiao Yun sangat senang mendengar ini, ada rasa bangga terselip di hatinya, sosok ayah yang telah dirindukannya selama ini ternyata ternyata orang hebat, sepanjang yang Ia tau, di alam ini tak ada yang sekuat ayahnya.
"Ayah, dimana anda mengenal tuan Ye?" tanya Xiao Yun.
Penatua Xiao kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Ye Chen, "Awalnya aku sendiri kurang senang terhadapnya, dia terlalu sadis menurutku." katanya di sela ceritanya. "Karena aku melihat bakatnya dalam alkemis, aku mengikutinya." lanjut penatua Xiao mengakhiri ceritanya.
"Meski begitu, tuan Ye sangat baik. Ayah tau? kalau tidak ada tuan Ye maka desa ini juga tak akan pernah ada." ucap Xiao Yun.
"Aku tau." penatua Xiao tentu saja tau, di sana Ye Chen juga mempunyai tempat yang disebut wilayah Ye. Setelah menghirup tehnya, Ia melanjutkan ceritanya terutama tentang kejadian Ia dulu menghilang. "Keluarga Xiao kita adalah keluarga alkemis, turun temurun dari beberapa generasi.
Bibi Xiao juga menceritakan bahwa setelah penatua Xiao pergi, ia membawa Xiao Yun memasuki portal, "Maafkan aku karena membuat keputusan tanpa memberitahumu sebelumnya."
"Yang lalu biarlah berlalu, toh sekarang kita sudah berkumpul lagi." kata penatua Xiao yang juga mengatakan bahwa bibi Xiao juga merupakan kerabat dekatnya dan salah satu pengurus di keluarga Xiao.
"Ayah, di tingkat apa kultivasi ayah sekarang?" tanya Xiao Yun sambil memandangi ayahnya dengan rasa penasaran.
"Ayah, mana aku tau."
"Hehe aku sekarang di tingkat Suci tahap tinggi, sedikit lagi aku akan bisa menerobos tahap puncak."
"Heba." seru Xiao Yun bangga. Tapi penatua Xiao menggeleng, "Kau tidak tau, di alam kita banyak sekali tingkat Suci, ketua Xiao ayahku sekarang di tahap puncak, mungkin hanya menunggu waktu saja sampai menerobos tingkat Surgawi."
"Ayah anda? berarti kakekku?" tanya Xiao Yun bingung.
"Oh aku lupa mengatakannya, patriark Xiao adalah pendiri sekte Pil Dewa. Dia seorang alkemis pengelana yang datang ke alam kita lalu mendirikan sekte. Mulanya kecil saja sampai aku bertemu dengannya dan mengajakku bergabung, lalu menggunakan nama keluarga kita sebagai namanya."
"Lalu namanya sendiri siapa?"
"Entahlah, Ia tidak pernah mengatakannya. Sudahlah, tidak masalah, orangnya sangat baik dan banyak mengajarku tentang alkimia. Suatu saat nanti kau pasti akan bertemu dengannya."
__ADS_1
"Ayah tau, yang terkuat di sini adalah ketua Song, tapi hanya di tahap awal tingkat Suci saja. Oh ya apakah ayah bisa meracik pil Suci?"
"Masalah itu serahkan padaku, aku sudah punya resepnya, sisanya tinggal prakteknya saja."
Pernyataan ini membuat Xiao Yun bertanya, "Sudah punya resepnya? berarti ayah baru mendapatkannya kalau begitu."
"Resep ini hasil gubahan tuan Ye, Ia memberikannya saat aku hendak pergi." kata penatua Xiao sambil berpikir mungkinkah Ye Chen sengaja memberinya jalan agar bisa sampai di sini?
"Asalkan aku punya bahannya, mungkin aku bisa membuat pil untuk kultivasi tingkat Suci." sambungnya lagi.
"Bagus, kami punya kebun herbal sendiri di atas bukit sana." kata Xiao Yun dengan penuh semangat tapi tiba-tiba Ia teringat sesuatu dan berkata. "Ayah, di antara ayah dan tuan Ye, manakah yang terkuat?"
Penatua Xiao mendelik, "Pertanyaan macam apa itu."
"Hehe bukan begitu, cuma ingin tau saja. Apakah ayah bisa mengukur kekuatan tuan Ye, itu saja." ucap Xiao Yun.
Penatua Xiao kembali menggeleng, kalau bertarung serius, sepertinya aku tak akan menang." Ia lalu menceritakan sepak terjang Ye Chen saat di turnamen yang lalu.
Xiao Yun menganggukkan kepalanya, "Tuan Ye memang hebat, sudah kuduga ayah tak akan menang hehe."
"Eh, jadi kau meragukan ayahmu ini dan lebih medukung tuan Ye?" protes penatua Xiao sambil tertawa kecil.
Xiao Yun ikut tertawa, "Ayah, ayo kita masuk, kurasa ketua Song dan yang lain menunggu keterangan dari ayah."
"Oh penatua, silahkan duduk." sambut ketua Song ramah. "Kami sedang membahas masalah keamanan desa ini. Ada kabar dari pentidik kita bahwa pasukan besar sedang menuju kemari."
"Apa yang terjadi?"
"Mungkin anda sudah tau, tempat teraman sekarang adalah desa ini tapi seperti yang aku bilang tadi, ada pasukan besar yang sedang menuju ke sini. Aku khawatir aray pelindung desa tidak cukup kuat."
__ADS_1