Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Penyelamatan Ketua Gu Liang


__ADS_3

Gu Xia meninggalkan Ye Chen sendiri, tapi sebelum pergi, Ye Chen memintanya membelikan beberapa tanaman herbal dan menyimpannya di kamar penginapan.


"Tunggu aku di penginapan, akan kuusahakan keluar sebelum gelap."


Ye Chen menepati janjinya, sebelum malam Ia telah berhasil menyusup keluar memanfaatkan situasi paviliun yang ramai dikunjungi kultivator yang datang berkunjung.


"Nona Gu kesini," panggil Ye Chen mengajaknya masuk ke kamar yang Ia sewa. "Apa kau membawa semua yang aku minta?"


Gu Xia tidak berkata ketika mengeluarkan apa yang Ye Chen minta. "Tunggu sebentar." kata Ye Chen mengeluarkan tungku pilnya.


"Eh, saudara Chen apa kau seorang alkemis?" Gu Xia bertanya penasaran.


"Tentu saja, bagaimana hebat bukan hehe...." jawab Ye Chen dengan bangga.


"Cih apanya yang hebat, biasa saja. ayahku juga seorang alkemis." Meskipun Gu Xia berkata begitu tapi Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Apalagi setelah melihat Ye Chen benar-benar bisa meracik pil di depan matanya.


Keringat bercucuran di wajah Ye Chen, beberapa kali terlihat Ia menyekanya.


Hampir satu jam Ye Chen meracik beberapa buah pil, aroma herbal memenuhi ruangan.


Ye Chen yang telah selesai meracik pil mendekati Gu Xia, rambutnya yang hitam panjang Ia biarkan tertiup angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka.


Dari wajahnya yang tampan masih tampak bulir-bulir keringat yang menetes membuat pesona tersendiri di mata Gu Xia.


"Ini untukmu." kata Ye Chen memberikan tangannya.


Gu Xia yang sedang memandangi Ye Chen melihat tangan putih dan kuat yang menjulur kepadanya, seketika Ia teringat tangan inilah yang memeluknya erat.


Degg...


Muka Gu Xia yang putih halus merona merah. "Apa yang kupikirkan ini?" ucapnya dalam hati sambil reflek memegang dadanya yang berdebar-debar.


"Nona Gu Xia...." suara Ye Chen menyadarkan Gu Xia.


"Ah iya, a... apa?" jawab Gu Xia gugup sambil menunduk.


"Ini untukmu," kembali Ye Chen mengulang perkataannya. "Ini pil Bumi, mungkin bisa membantumu menerobos ke tahap tinggi."


"Te... terima kasih. sebaiknya aku kembali." Gu Xia berjalan cepat meninggalkan Ye Chen sambil menggenggam erat botol pil di tangannya.


"Ada apa dengannya, aku padahal ingin mengajaknya mengatur rencana." gumam Ye Chen.


Di dalam tahanan paviliun Teratai, ketua Gu Liang dan bawahannya sudah terlihat sedikit kuat setelah mengonsumsi pil pemberian Ye Chen.

__ADS_1


"Ketua apa anda mengenal anak muda itu?" tanya salah satu bawahan ketua Gu Liang.


"Entahlah, aku tidak pernah melihatnya. Sudahlah, lebih baik kalian bersiap, sebelum pergi Ia mengatakan akan mencari jalan keluar dari sini.


"Puteriku, semoga kau baik-baik saja di luar sana." batin Gu Liang mengingat Guess Xi, putrinya.


...


"Adik Gu, apa kau melihat saudara Chen?" Gu Xia yang duduk sendiri menenangkan hatinya dikagetkan oleh Ma Dong yang datang.


"Dia di atas," sahut Gu Xia pelan. "mungkin sebentar lagi turun."


Tidak lama kemudian Ye Chen turun, "nah itu dia." kata Gu Xia menunjuk ke arah kedatangan Ye Chen.


"Saudara Chen, di sini." teriak Ma Dong tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. "Tuan pelindung kota mencarimu, katanya ada sesuatu yang ingin Ia sampaikan." ucap Ma Dong begitu Ye Chen duduk.


"Katakan saja aku sibuk."


"Eh mana bisa begitu, oh apakah ini tentang paviliun Teratai? apa kau menemukan sesuatu?" Ma Dong bergantian menatap Ye Chen dan Gu Xia.


"Tidak, aku hanya malas saja. Nona Gu juga sibuk, jangan mengajaknya pergi, bukan begitu nona Gu?"


Di tanya seperti Gu Xia hanya menunduk, "I... iya, aku sibuk, aku akan di sini bersama saudara Chen."


Ma Dong yang mulanya bingung menatap dua temannya tiba-tiba tertawa lebar. "Haha... baik, aku mengerti, nah pergunakan waktu kalian, kalau sudah selesai cepatlah menyusul."


"eh apa ada yang salah?"


"Kakak Ma...." Gu Xia berkata sambil merengut.


"Iyaa iya maaf, nah alu pergi dulu."


Sepeninggal Ma Dong Ye Chen menjelaskan rencana untuk membebaskan Gu Liang. "Kita akan membawa mereka ke penginapan ini, di kamarku. Tugasmu adalah membawa mereka. Apa kau mengerti nona Gu?" tanya Ye Chen, Gu Xia mengangguk mengerti.


"Kapan kita bergerak?"


"Malam ini," Ye Chen mengambil sebuah kertas yang sudah Ia gambar dengan detail rencana pelariannya. "Ikuti gambar ini, harusnya tempat ini adalah rute yang paling aman."


Gu Xia melihat gambar sebentar, "Baik aku mengerti."


"Orang tua itu harus membayarku nanti, terutama untuk arakku," Ye Chen sudah berjalan masuk ke kamar tahanan. "Kakak, kakak kau di mana? ini aku bawakan arak spesial untukmu." Ye Chen memanggil-manggil penjaga kamar tahanan.


"Hei siapa kau!"

__ADS_1


Bukan sapaan yang Ye Chen terima melainkan bentakan, rupanya yang ada di sana bukan hanya penjaga kenalan Ye Chen tapi ada sepuluh penjaga lain termasuk komandan jaga.


"Hais ini pasti merepotkan," batin Ye Chen. "Tuan, aku membawa arak untuk kakakku."


"Komandan maaf." Satu suara terdengar dari penjaga yang kemudian menghampiri Ye Chen.


"Apa yang kau lakukan? apa kau mau membunuhku?" katanya pada Ye Chen.


"Kakak, aku membawakanmu arak. Sebenarnya ada apa? kenapa penjaga di sini sangat banyak, bukankah di sini sangat aman?"


"Kau tidak tau, malam ini kami akan membawa tawanan itu ke tempat ketua," kata si penjaga. "Sudahlah, cepat berikan araknya dan pergi dari sini."


Ye Chen mengangguk dan mengeluarkan lagi dua guci arak dalam cincinnya.


Memberikannya pada penjaga dan pergi, tapi Ye Chen tidak benar-benar pergi, Ia menunggu dalam gelap.


"Siapa itu, apa kau sadar konsekuensi dari perbuatanmu ini?" komandan menegur penjaga.


"Aku tau, sebelum itu cobalah dulu arak ini. Ini sangat nikmat." kata si penjaga sembari membuka tutup guci arak yang langsung membius mereka dengan aromanya.


"Hahaha... arak baik, arak baik. Baru aromanya saja sudah sangat enak, baiklah semuanya ayo kita minum dulu." ucap komandan.


"3... 2... 1, hehe sekarang saatnya." Ye Chen melangkah santai sambil tersenyum puas, kembali ke ruang di mana para penjaga berkumpul.


"Kau... apa yang kau berikan pada kami?" ucap komandan lemah. Ia dan penjaga lainnya terbaring lemah di lantai, sebagian dari mereka bahkan ada yang pingsan.


"Yang aku berikan? ya arak tentu saja, apa kau lupa? sudahlah, istirahat saja baik-baik."


"Ketua Gu, saatnya keluar."


Ye Chen lalu memimpin Gu Liang dan yang lain menuju titik pertemuan dengan Gu Xia.


"Ayaah...!" Gu Xia menghambur memeluk Gu Liang "Kenapa bisa jadi begini?" ucapnya lagi sambil terisak sedih melihat penampilan ayahnya.


"Hei cepatlah, nanti saja kalau mau bertangis-tangisan." ucap Ye Chen yang berada di antara mereka.


Sadar keadaan masih belum aman Gu Xia dengan cepat memimpin jalan sesuai gambar yang Ye Chen berikan.


Tiba di kamar Ye Chen, Gu Xia dengan cekatan meletakkan sebuah kristal bening di tengah ruangan.


Hanya Gu Liang yang tau untuk apa kristal bening ini. Ye Chen memang sengaja menyamarkannya, Ia tidak mau semua orang tau keahliannya membuat formasi tapi perbuatan Ye Chen ini tidak bisa menipu mata ketua Gu Liang.


"Putriku, kesinilah." panggil Gu Liang pada putrinya sesaat setelah aray tipis terbentuk.

__ADS_1


"Apa kau mengenal anak muda itu?"


"Dia temanku ayah, salah satu peserta turnamen nanti." jawab Gu Xia.


__ADS_2