Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Lu Jiao Pulih Kembali


__ADS_3

Lu Jiao baru saja bangun ketika Ye Chen datang, kesehatannya sudah jauh lebih baik seminggu ini.


"Salam Ibu, adik Jiao," sapa Ye Chen, Ibu Jiao meminta Ye Chen memanggilnya Ibu, sama seperti Ma Dong dan yang lain. "Adik Jiao, apa kau sudah siap? hari ini aku akan melakukan pengobatan terakhir."


"Siap kakak Chen."


"Baik, tapi sebelumnya aku akan menjelaskan cara pengobatan yang akan aku lakukan." Ye Chen lalu mengatakan rencana pengobatan yang akan Ia lakukan.


Lu Jiao diam, hanya wajahnya saja yang sebentar merah sebentar pucat.


"Aku tidak akan mengambil kesempatan jadi jangan salah paham, kau lihat sendiri waktu kaisar menjalani pengobatannya." Lanjut Ye Chen.


"Ye Chen, bisa kita berbicara sebentar?" Ye Chen mengangguk lalu mengikuti Ibu Lu Jiao keluar kamar


"Apa kau tau konsekuensi dari cara pengobatanmu ini? jangan lupa Jiao'er adalah puteri kaisar."


"Aku mengerti Ibu, karena alasan itulah aku ragu melakukan pengobatan ini. Tapi maafkan aku, niatku murni mengobatinya saja."


"Baiklah aku mengerti, semua keputusan aku serahkan pada Jiao'er saja."


Tidak seperti Song Fei atau bahkan Gu Xia yang pernah sangat intim dengan Ye Chen, biarpun memang sedikit di luar jalur tapi tetap saja kasusnya berbeda dengan Lu Jiao.


Aib istana, itulah yang terjadi jika berita ini tersebar luas. Sungguh tidak pantas seorang puteri kaisar dipegang tubuhnya oleh seorang pria apapun alasannya kecuali oleh pasangannya sendiri.


Masalahnya tidak mungkin Ye Chen menikahi Lu Jiao, masih banyak yang harus Ia lakukan. Lagipula Ia sama sekali tidak perasaan khusus terhadap Lu Jiao.


Mengobati berarti siap menjadi pasangannya, tapi jika tidak diobati maka kondisi Lu Jiao akan bertambah buruk.


"Ha...." Ye Chen membuang kasar nafasnya di kamarnya, "Lebih baik aku bermain dengan Rajawali saja."


...


"Istriku, bagaimana?" tanya kaisar pada selirnya yang hanya menggeleng pelan.


"Ya sudah, biarkan saja. Sebentar lagi Jiao'er akan masuk akademi, mustahil di sana tidak ada alkemis yang bisa menyembuhkannya.


"Suamiku, apa anda lupa waktu anda sakit? bahkan tidak satupun dari mereka yang sanggup menyembuhkanmu." ucap Ibu dari Lu Jiao. Kaisar menggeleng sedih "Sayang sekali." gumamnya lalu pergi bersama selirnya.


Keesokan harinya tampak Ye Chen bersiap-siap pergi bersama Cia Sun dan Ma Dong.


"Senior, kita akan pergi kemana?"


"Sudah ikut saja," sahut Cia Sun sembari menyimpan kembali pedang putih tebal ke dalam cincinnya.

__ADS_1


"Kakak Chen tunggu kami....!"


Lu Jiao, Lu Jia Li dan Gu Xia berteriak hampir berbarengan memanggil Ye Chen.


"Apa kalian mau meninggalkan kami?"


"Kak Chen, kau tega sekali mentang-mentang kondisiku tidak begitu baik lalu kau meninggalkanku."


"Bagus sekali, kalian bahkan tidak memberitahu kami jika mau pergi."


Satu persatu wanita ini mengajukan protesnya, Ye Chen dan yang lain hanya mendengar saja tanpa bisa berkata apa-apa. Perempuan, kalau sudah bicara, badai pun pasti akan berhenti.


Di luar tembok kota, Ye Chen mengeluarkan pedang hitamnya. "Adik Jiao, maaf." ucapnya mendekati Lu Jiao, merangkul pingganngya dan melompat ke atas pedang hitam.


"Aku tunggu di tempat biasa." Ye Chen berputar-putar sebentar lalu melesat pergi.


Perasaan Lu Jiao berkecamuk. Senang, takut sekaligus berdebar-debar, Ia hanya berteriak kencang ketika pedang hitam membawanya terbang.


Empat yang lain hanya bisa menatap kosong. Bukan masalah Ye Chen yang membawa Lu Jiao karena mereka juga tau keadaan Lu Jiao, tidak mungkin juga membiarkannya berlari jauh.


Masalahnya adalah tehnik pedang terbang itu harus mereka kuasai juga. Dengan penuh semangat, keempat orang ini berlari cepat menyusul Ye Chen.


"Kak Chen, bisakah terbang lebih tinggi?" pinta Lu Jiao. "Pegang yang erat." Lu Jiao bukan memegang lagi tapi memeluk erat Ye Chen, membenamkan kepalanya di pundak Ye Chen.


Lu Jiao mengendurkan pelukannya dan mulai menikmati penerbangannya.


"Perhatikan baik-baik," kata Ye Chen. satukan kekuatan jiwamu dan pedang, pasang perisai tubuh untuk menghalangi dorongan angin."


Ye Chen yang sekaligus mengajarkan tehnik pedang terbang pada Lu Jiao melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Lu Jiao yang menyetir, tapi segera memegangnya lagi dan turun di tempat yang telah Ia tentukan.


"Jangan kuatir," ucap Ye Chen setelah mendarat. "Nanti kau akan terbiasa, nah tunggulah sebentar aku akan berburu dulu?"


Tidak lama kemudian Cia Sun dan yang lain datang, Lu Jiao tampak duduk setelah membangun tenda, dua tenda.


"Heh kenapa tendanya hanya ada dua?" apa hanya kau saja dan senior yang akan bermalam di sini?" Ma Dong mencecar Lu Jiao sambil menggodanya.


"Kakak Ma, jangan begitu." tegur Gu Xia.


"Hehe... aku hanya bercanda saja, oh ya kemana senior pergi?"


Ye Chen datang dengan beberapa ekor ayam hutan di tangannya. "Oh kalian sudah tiba, kita makan dulu."


"Kak Chen biar kami yang mengolahnya."kata Gu Xia lalu mengajak Lu Jia Li membersihkan ayam hutan. Sementara Lu Jiao masuk ke tendanya karena tidak diijinkan ikut membantu.

__ADS_1


Seperti biasa, yang paling banyak makan adalah Ye Chen, Ia bahkan sanggup menghabiskan lima ekor ayam sendirian, apalagi jika masakannya enak.


"Hwaa... mantap, enak sekali ayam bakar ini," puji Ye Chen setelah makan. "Aku langsung saja, ini gulungan tehnik pedang terbang jika kalian ingin mempelajarinya. Tapi ini tidak gampang, pertama kalian harus menguatkan kekuatan jiwa terlebih dahulu untuk bisa mengontrol pedang."


Ye Chen membagikan gulungan di tangannya, "pelajari dulu, sejam lagi aku tunggu di atas bukit sana."


Sejam kemudian, di atas bukit, di bawah cahaya rembulan.


Ye Chen mengajarkan tehnik menyerap energi bulan yang telah Ia gubah sendiri agar penyerapannya lebih maksimal.


Lewat sepertiga malam Ye Chen baru meminta mereka berhenti.


"Biarkan energi itu mengalir sendiri, jangan dilawan, jangan ditahan." ucap Ye Chen sambil sesekali, menotok titik syaraf yang berhubungan langsung dengan jalur meridian di tubuh mereka tanpa terkecuali.


"Kita lanjutkan dengan menyerap energi mentari pagi, lakukan seperti menyerap energi purnama."


Lewat tiga hari, Ye Chen menghentikan latihan Lu Jiao. "Adik Jiao, malam ini kau tidak usah berlatih dulu. Kita sembuhkan dulu sakitmu."


Muka Lu Jiao langsung memerah, "Tenang saja, yang lain juga akan datang membantu."


"Senior apa yang harus kami lakukan?"


"Cukup bantu dengan kekuatan jiwa, adik Xia apa kau sudah hafal titik di bawah perut yang aku dan ayahmu tunjukkan beberapa hari lalu?"


"Aman kak Chen." jawan Gu Xia yang memang sengaja dipilih karena sedikit banyak sudah tau dunia alkemis dari ayahnya.


"Baik kita mulai. Adik Jiao, kumpulkan kekuatan jiwamu sesuai aba-aba dariku, apa kau mengerti?"


"Aku mengerti kak Chen."


Ye Chen mengangguk dan mengusap pelan kepala Lu Jiao. "Kau pasti sembuh, tenang saja tidak usah kuatir." ucap Ye Chen lembut sehingga menambah semangat Lu Jiao.


Tidak butuh waktu lama, uap hitam tipis keluar perlahan dari mulut dan hidung Lu Jiao.


"Pergi...!" Ye Chen berteriak keras dan empat temannya melesat pergi.


Wungg...


Aray transparan kecil tercipta menutup Ye Chen dan Lu Jiao.


Ye Chen yang tidak mau mengambil resiko untuk kedua kalinya, menyuruh temannya pergi dan menghirup sendiri uap hitam di udara di dalam aray.


"Selesai juga." gumam Ye Chen sebelum ambruk ke tanah, pingsan.

__ADS_1


Masih terdengar gumaman kecil dari mulutnya, "lepas."


__ADS_2