Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Sekte Kegelapan


__ADS_3

Melihat senyum Ye Chen yang mendekatinya, tawanan ini mundur sampai punggungnya membentur tembok gua.


Entah kenapa Ia merasa takut, ketakutan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.


"Jangan takut, aku tidak seperti temanku yang suka memukuli orang," ucap Ye Chen lalu memberikan pil pemulih. "Nah telan dulu pil pemulih ini. tenang saja, itu bukan racun."


Setelah yakin pil yang diberikan padanya bukan racun, tawanan ini kemudian menelan pil pemulih dan seketika tubuhnya terasa segar tapi anehnya Ia tak bisa merasakan Qi.


"Saudara Chen...?"


"Tenang saja, Ia tidak akan bisa apa-apa. Lagipula bagaimana Ia bisa bicara kalau tubuhnya penuh luka begitu."


"Kita makan dulu." lanjut Ye Chen yang dengan santai memanggang ayam buruannya. "ini untukmu, makanlah, kau pasti lapar bukan?"


Cia Sun yang melihat semua perbuatan temannya jadi penasaran, metode apa yang akan Ia lakukan.


"Nah sekarang katakan, siapa kau sebenarnya, apa tujuanmu dan dimana tempat persembunyian kalian?" tanya Ye Chen ramah.


Tawanan yang semula takut ini tersenyum, ternyata hanya perasaanku saja, Ia bahkan lebih mudah di hadapi dibanding temannya itu pikir si tawanan.


"Kami anggota sekte kegelapan dan kami jugalah yang menghancurkan desa itu."


"Untuk apa?


"Desa itu kami pilih sebagai markas kami di benua barat."


"Oh begitu, saudara Cia, kau lihat? memukul tidak akan menyelesaikan masalah." Ye Chen menoleh ke arah Cia Sun dan dibenarkan olehnya, ternyata sangat mudah.


"Kau belum menjawab dimana markasmu, kenapa kau dan orang-orangmu seperti menghilang begitu saja."


"Kalau itu tidak bisa kuberitahu, itu rahasia kami," sahut si tawanan dengan senyum kemenangan. "kau tidak tau siapa pemimpin kami, tapi tenang saja aku tidak akan melaporkan tentang kalian."


"Saudara Chen...?" ucap Cia Sun yang heran melihat Ye Chen mengeluarkan sebuah tombak, "Apa yang akan kau lakukan?"


Ye Chen tidak menggubris pertanyaan Cia Sun, Ia hanya berkata tidak akan membunuhnya.


"Nah kuulangi pertanyaanku, jawablah kalau kau mau."


Aaakhh...


Suara teriakan tawanan terdengar memenuhi gua kecil ketika ujung tombak menembus kulit pahanya. Tidak dalam tapi sangat sakit karena Ye Chen terus menerus menusuk di tempat yang sama sampai mencapai tulangnya.


Puas menusuk sebelah kaki tawanan, Ye Chen pindah lagi ke kaki yang satunya. Teriakan kesakitan tawanan ini terus terdengar, bukan hanya kaki tapi seluruh tubuhnya kini penuh luka tusukan.

__ADS_1


Darah yang keluar dari luka tusukannya tidak banyak karena Ye Chen memang tidak menusuk asal, Ia menghindari urat-urat besar di setiap tusukannya.


Ini bukanlah hal yang sulit baginya yang seorang alkemis.


"Ba... ik, baik akan ku... katakan...." tawanan ini akhirnya menyerah.


Dengan suara bergetar menahan sakit, Ia menceritakan bahwa markas mereka ada dua, satu di desa yang digunakan sebagai markas utama dan satu lagi jauh diluar desa yang digunakan sebagai gudang harta.


"Jangan mencoba menipuku, aku sudah ke sana tapi tidak menemukan apa-apa." hardik Ye Chen geram karena merasa dibohongi.


Si tawanan yang takut gudang di siksa lagi berkata bahwa markas mereka ada di dimensi lain, pintu masuknya di belakang rumah pemimpin desa sebelumnya.


"Ada dua batu sejajar berwarna hitam, setinggi lutut anak kecil. Anda hanya perlu melewatinya untuk masuk ke sana."


Sayangnya tawanan ini tidak tau letak gudang harta karena mereka hanya bertugas membawa harta dari markas keluar, nanti akan ada yang mengambil dan membawanya.


Pantas saja aku tidak menemukannya, ada di dimensi lain rupanya. batin Ye Chen yang juga teringat dimensi batu jajar dengan batu hitamnya.


"Nah pergilah dari sini. ambil ini."


Tawanan ini dengan cepat menelan pil pemberian Ye Chen dan segera keluar dari gua, tubuhnya telah sembuh.


Tapi tanpa Ia sadari, satu luka di belakang kakinya tidak sembuh, luka itu terus mengeluarkan darah.


"Kau terlalu kejam saudara Chen tapi kuakui metodemu sangat ampuh. tapi bukankah kau mengatakan tidak akan memukulnya?"


"Memang aku tidak memukulnya, aku menusuknya."


"Lalu kenapa kau melepasnya, nanti teman-temannya tau keberadaan kita."


"Tenang saja, aku kan sudah bilang tidak akan membunuhnya...."


Di Luar gua suara teriakan si tawanan terdengar menyayat hati, hanya sebentar lalu hening kembali.


"Nah sudah tewas, hewan-hewan itu pasti sudah tidak sabar haha...."


Cia Sun jadi tau, Ye Chen bukannya membiarkan tawanannya pergi tapi membiarkan hewan buas di luar sana makan gratis.


Darah yang terus menetes dari lukanya tentu menarik hewan buas yang mencium bau darah.


"Saudara Cia, ikut aku. Kita tinggalkan gua ini, aku tak bisa tidur dengan bau darah" Ye Chen kemudian membawa Cia Sun ke taman belakang desa.


Keesokan harinya, Ye Chen bersiap masuk ke dalam dimensi tempat markas sekte kegelapan berada.

__ADS_1


Ia meminta Cia Sun mengawasi keadaan sekitar selama Ia di dalam.


Ye Chen di teleport di sebuah hutan saat memasuki dimensi sekte kegelapan.


Petuga jaga yang melihat Ye Chen menegurnya karena tudak memakai seragam seperti yang biasa mereka pakai.


"Maaf seragamku kotor dan hanya itu yang kupunya, kakak bisakah kau meminjamkan satu untukku?"


"Hais makanya jaga baik-baik seragammu, kalau ketahuan, hukuman berat pasti akan menunggumu."


"Baik kakak aku mengerti, terima kasih."


"Sudah sana, ingat jangan keluyuran kemana-mana, langsung pulang ke tempatmu saja."


"Apa yang terjadi?"


"Jangan banyak tanya kalau kau masih sayang nyawamu."


"Kakak yang baik, ayolah aku baru datang dari jauh, baru kali ini aku kembali. Nanti aku berikan arak istimewa yang kuambil dari rumah saudagar kaya."


Satu keuntungan Ye Chen adalah semua anggota sekte wajib memakai jubah bertudung sehingga para anggotanya tidak ada yang saling mengenal kecuali anggota yang tinggal bersama.


Karena dibujuk dan dijanjikan arak yang katanya istimewa, penjaga ini akhirnya memberitahu bahwa lima orang anggota sekte ditemukan tewas dan satu orang belum ditemukan.


Masalahnya adalah mereka membawa satu peti kepingan emas dan perak yang akan digunakan untuk biaya pernikahan ketua sekte.


"Ketua akan menikah?"


"Sebenarnya sudah berapa lama kau bergabung dengan sekte?" tanya penjaga yang mulai agak curiga.


Gawat, pikir Ye Chen. "Baru beberapa hari yang lalu, ini kali pertama aku ke sini, aku bertugas di luar sejak bergabung." jawab Ye Chen sekenanya.


"Pantas kau tidak tau. Begini, setiap satu bulan sekali, ketua akan menikah dan wanitanya itu akan dikorbankan darahnya untuk pangeran kegelapan."


"Sekte sesat."


"Apa katamu?! hati-hati kalau bicara, sudah cepat berikan aku arak yang janjikan."


Ye Chen berpura-pura mengambil seguci kecil arak yang digantung dari pinggangnya, tak mau penjaga ini melihatnya mengeluarkan dari cincin dimensi.


Arak ini adalah arak biasa yang Ye Chen campur dengan arak istimewanya, meski begitu tetap saja arak ini jauh lebih nikmat dari arak terenak sekalipun.


"Kakak besar terima kasih, aku masuk dulu."

__ADS_1


"Yah cepatlah dan ingat pesanku."


__ADS_2