Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Hilangnya Dimensi Batu Jajar


__ADS_3

"Ayo kita pulang." Ajak Ye Chen kepada semua kultivator desa, pasukan desa Ye.


Suara gegap gempita dari semua orang, mengiringi Ye Chen yang berjalan paling depan bersama ketua Song.


Para penduduk desa yang sudah mendengar peristiwa ini, berkumpul menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Penduduk sangat senang dengan kabar kemenangan ini, tidak ada yang merasa tidak bahagia. Betapa tidak, kelompok sekte dan perwakilan dagang itu memang itu meresahkan.


Tak jarang mereka berbuat seenaknya saja pada penduduk desa, Dengan hancurnya mereka, maka tidak akan ada lagi sumber masalah di desa.


Rasa aman yang dirasakan di hati setiap orang menumbuhkan semangat baru


"Hidup pemimpin..!! Hidup pemimpin..!!"


Sorakan-sorakan dari penduduk desa terdengar begitu keras ketika Ye Chen dan rombongan sampai di gedung kultivator.


Hampir semua penduduk hadir menyambut, bisa dibayangkan betapa riuhnya suasana saat ini.


Ye Chen hanya melambaikan tangannya, penduduk desa diam. Menunggu sepatah kata dari pemimpin desa.


Mendesah pelan, Ye Chen yang sudah sangat lelah memaksa berdiri tegak dan berkata.


"Kita menang..!!"


Hanya ini yang Ye Chen ucapkan, mengangkat sebelah tangannya ke atas dan mengepalkan tangannya.


Diam... semua orang masih menunggu kata selanjutnya dari Ye Chen.


Melihat keadaan yang sedikit canggung ini, ketua Song lalu berteriak di ikuti sebagian dari mereka dan akhirnya berteriak bersama.


"Hidup pemimpin..! Hidup pemimpin..!"


Suasana kembali riuh.


Tidak lama kemudian, mereka membubarkan diri, kembali ke tempat masing-masing dengan wajah bahagia.


Masih terbayang di wajah mereka keadaan Ye Chen yang penuh luka, membuat mereka semakin mencintainya. Sangat jarang ada pemimpin yang rela berkorban sampai sejauh itu, apalagi mereka hanyalah berstatus pengungsi.


Merasa dihargai, merasa dilindungi. Perasaan inilah yang mengisi hati setiap orang.


Perasaan yang sama juga dirasakan kelompok kultivator dan alkemis, mereka bertekad berlatih lebih giat dan menjadi kuat demi melindungi desa dan menjaga ketentraman desa.


...


Ye Chen melangkah sendiri ke dalam aula, di sana masih ada Qin Gang dan rekannya yang masih memulihkan diri.


Tujuannya hanya satu, mencari tempat untuk memulihkan diri.


Ye Chen berjalan pelan memegangi tembok sebagai tumpuannya, pandangan matanya mulai kabur.


Apakah aku akan mati? pikirnya.


Brukk..


"Tuan muda...!!" sebuah bayangan melesat cepat menghampiri Ye Chen yang sudah rebah dilantai.


"Nona Xiao tolong bantu aku ke kamar." Kata Ye Chen pelan. Ia masih dapat mengenali siapa yang datang.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Xiao Yun memapah Ye Chen ke salah satu ruangan.


"Biarkan aku sendiri." Ucap Ye Chen. Xiao Yun kemudian keluar dari kamar.


Dua hari berlalu. "Uwaaah... Udara pagi memang sangat menyegarkan." Ye Chen bangun dari duduknya, berdiri merentangkan kedua tangannya ke samping.


Ya, rutinitasnya sedari kecil yang kadang-kadang masih Ia lakukan seperti pagi ini.


"Tuan muda... Sarapan sudah siap." Kata Xiao Yun yang datang menghampiri Ye Chen.


"Ok."


Di ruang makan, ketua Song, Qin Gang dan Sun Yi dan yang lain sudah menunggu.


Hidangan dari berbagai jenis makanan yang masih mengepul telah tersedia.

__ADS_1


"Hallo semua, bagaimana apakah kalian sehat-sehat saja." Tanya Ye Chen sopan.


Ye Chen memang selalu bersikap sopan, dan sikap inilah yang membuat Ia disukai bawahannya. _Memang sudah sejak lama orang-orang di sekelilingnya menganggap mereka adalah bawahan dan Ye Chen adalah atasan atau pimpinan. meskipun memang, Ye Chen tidak pernah menganggap dirinya adalah pimpinan_.


"Oh baguslah, nah kita sarapan dulu, sudah dua hari tidak makan, perutku rasanya mau keram hehe..." Tidak menunggu yang lain, Ye Chen duduk dan makan dengan lahap.


"Wahh... enaak, aduh bebek kecap ini... rasanya, aih.. dan ini tumis kangkung, hmm kurang enak terlalu lama ditumis, seharusnya ada suara kriuk-kriuk begitu." Ye Chen mengomentari semua makanan, dia bilang tidak enak tapi habis juga. Sampai setengah hidangan masuk semua ke dalam perutnya.


"Hehe.. Maaf yah, hidangan ini terlalu enak, aku jadi kelupaan." Kata Ye Chen yang sadar telah menghabiskan banyak hidangan sendiri.


Semuanya hanya tersenyum, mereka sudah paham hobi Ye Chen dan apanya yang sarapan, mana ada sarapan sebanyak ini.


"Tuan muda," kata ketua Song membuka perbincangan. "Hasil rampasan dari kemenangan kita cukup banyak terutama dari pemukiman perwakilan dagang itu, koin emas mereka setelah saya hitung mencapai satu juta lebih belum lagi koin perak dan perunggunya."


"Senjata tidak banyak, yang terbaik hanya ada dua yakni milik ketua perkumpulan dagang dan satu lagi milik kultivator sewaan itu." Kata ketua Song melanjutkan laporannya.


"Di cincin patriark sekte ada sebuah peta, aku sudah memeriksanya tapi tulisannya tidak ada yang aku mengerti." Lanjut ketua Song menerangkan dengan wajah muram.


"Atur saja bagaimana baiknya, bagikan kepada semua pasukan kita dan sisanya aku rasa bisa kita gunakan untuk membeli benih tanaman dan hewan ternak." Kata Ye Chen.


"Baik tuan muda, oh ya ini sudah aku pisahkan untuk tuan muda limaratus ribu koin emas." Ketua Song lalu menyerahkan sebuah cincin penyimpanan kepada Ye Chen.


Ye Chen hanya mengambil setumpuk koin yang ada, mungkin jumlahnya seratus ribu koin emas dan memasukkannya ke dalam cincin hijaunya.


"Sisanya pakai saja." Ucap Ye Chen.


Kalau bisa menolak, tentu saja Ye Chen akan menolaknya. Ia hanya mengambil sembarangan saja.


"Ketua Song, aku akan ke bukit, mungkin selama satu atau dua hari baru kembali. Setelah itu kita akan berkumpul dan sekalian kita membahas tentang peta itu."


Acara pagi itu selesai, Ye Chen telah tiba di atas bukit.


Niatnya sebenarnya ingin latihan lagi. Dalam pertempuran sebelumnya, Ia menyadari bahwa tehnik-tehnik yang Ia miliki masih terlalu sedikit, ada beberapa situasi dimana tehnik-tehnik yang Ia miliki tidak berguna, dan terlalu menguras tenaga jika Ia terus-menerus menggunakan tehnik yang selama ini Ia kuasai.


Tapi sampai di atas, apa yang semula Ia recanakan tidak bisa Ia lakukan. Penyebabnya adalah dimensi Batu Jajar, tempat Ia sering berlatih sudah tidak ada lagi, sudah hilang.


Rupanya dimensi ini telah hilang, yang tersisa hanyalah Batu Jajar saja, tidak ada dimensi lagi.


"Oh sudah lenyap ternyata, ah harusnya aku perbaiki dulu sebelumnya," Ye Chen tampak sedih. "Guru... Maafkan muridmu tidak bisa merawat tempatmu." Gumam Ye Chen sedih, Ia teringat makam tempat peristirahtan terakhir gurunya.


Satu hari hanya Ye Chen habiskan mengatur dunia dimensi di cincin hijaunya.


Kolam tempat pohon kehidupan yang sebelumnya dimasukkan gurunya diaturnya lagi, rumput-rumput yang mengganggu di sekitar kebun tanaman herbalnya Ia bersihkan.


Ye Chen masuk ke dimensi ini dengan kesadaran spiritual, bukan dengan tubuh fisiknya.


Kesadaran spiritual terbentuk hanya bila kekutan jiwa sudah terbentuk terlebih dahulu. Ye Chen termasuk beruntung karena biasanya hanya tingkat Dewa yang bisa memiliki kekuatan jiwa dan itupun sangat kecil.


Sedari kecil Ye Chen sudah memiliki setitik kesadaran jiwa. Hidup prihatin dan memandang semua mahluk sama rata ditambah dengan rutinitasnya setiap pagi dan malam purnama sedikit demi sedikit menumbuhkan kesadaran spiritualnya.


Pil elemen dan menyatunya kekuatan gurunya menambah kuat kekuatan jiwa dan kesadaran spiritualnya.


Semua ini didukung dengan tubuh khusus, tubuh Surgawi.


Jadi tidak heran, meskipun Ye Chen masih di tingkat Bumi namun Ia sudah memiliki kekuatan jiwa dan menumbuhkan kesadaran spiritualnya.


"Ah alangkah nikmatnya jika aku bisa kesini dengan tubuh fisikku." Gumamnya.


Lewat pengetahuan yang gurunya berikan, Ye Chen tau bagaimana caranya agar bisa masuk dengan tubuh fisiknya.


Ia harus membuat portalnya sendiri, sumberdayanya sudah ada yaitu Batu Jajar, tapi dengan kekuatannya yang sekarang Ia belum sanggup membuatnya. Paling tidak sampai Ia naik ke tingkat Langit.


Lain lagi jika Ia ingin memasukkan hewan atau orang lain, cukup mengibaskan tangannya saja maka hewan atau orang itu bisa langsung masuk dan keluar sesuai kehendaknya.


Hanya satu hari Ye Chen berada di bukit. Keesokan harinya, Ia turun ke bawah setelah menyelesaikan urusannya di dimensi cincin.


Dunia dimensinya kini terlihat lebih bersih dan tertata dengan baik, bangunan yang sudah ada Ia perbaiki, meskipun cuma membuatnya tampak nyaman saja.


"Bibi Xiao..!" Teriak Ye Chen dari jauh sambil melangkah cepat menuju rumah makan.


"Pemimpin... selamat pagi." Sapa seorang penduduk desa saat melihat Ye Chen.

__ADS_1


"Oh, ah... Ya pagi juga." Ye Chen yang berjalan terburu-buru sambil berteriak tiba-tiba saja berhenti dan berjalan pelan, layaknya seorang pemimpin.


Beberapa kali terlihat Ia membalas salam dari penduduk desa yang menyapanya.


Bibi Xiao yang melihat ini tertawa terkikik dari dalam rumah makan.


Ia sangat mengenal suara Ye Chen, lagipula tidak satupun orang di desa ini yang suka berteriak memanggilnya.


"Pemimpin, eh tuan muda...," bibi Xiao yang melihat ekspresi Ye Chen saat mendengar Ia memanggilnya pemimpin berubah segera mengubah panggilannya. "Cara berjalan anda tampak penuh wibawa." Kata bibi Xiao dengan suara yang masih menahan kikikannya.


"Oh tentu saja bibi, aku ini kan pemimpin jadi harus terlihat penuh wibawa hehe..," kata Ye Chen tapi melihat bibi Xiao Ia lali berkata lagi "Sudahlah bibi, anda tau aku tidak terlalu disebut begitu apalagi dielukan, hais membuatku pusing saja. Bibi... aku lapar."


Saat bibi Xiao datang mengantar makanan, Ye Chen memintanya untuk duduk bersama.


"Bibi Xiao apakah anda sudah yakin, tidak akan menyesal? aku tau kakek tua itu memang kadang-kadang membosankan tapi dia itu orangnya baik bi.. Lihat saja desa ini, kalau saja bukan dia yang mengatur, desa ini tidak akan seperti sekarang." Kata Ye Chen panjang lebar, kadang-kadang Ia menjatuhkan tapi kadang juga Ia memuji meninggikan.


Yang Ia maksud dsini adalah ketua Song.


Sudah lama Ia merasa ketua Song dan bibi Xiao memiliki ketertarikan masing-masing bahkan Ia meminta ketua Song bertemu langsung dengan Xiao Yun sebagai wali bibi Xiao beberapa waktu lalu.


Bibi Xiao hanya diam saja, hanya wajahnya saja yang terlihat memerah karena malu karena Ye Chen membicarakan hal pribadi secara langsung di depannya. Kalau ini orang lain pasti sudah di usirnya.


"Bibi tenang saja, setelah urusanku beres nanti, kita buat acara yang sangat meriah.


Dua pesta, yang satu lagi untuk si Qin Gang dan nona Ong. Anda tau bibi Xiao, mereka ini suka malu-malu, aku kadang menyuruh mereka melakukan sesuatu bersama, mereka seperti tidak mau tapi begitu aku tinggal, eh mereka senyum-senyum berdua. Mereka tidak tau, aku tidak benar-benar pergi, aku mengintipnya bi.. hahaha..." Ye Chen dengan polos mengatakan semuanya.


Lalu Ye Chen menambahkan lagi.


"Pokoknya bibi tenang saja, kakek tua itu pasti setuju. Tapi bibi, ini masalah nona Xiao, apakah bibi melihat dia sering melirik-lirik pria lain?"


Bibi Xiao tidak tau harus berkata apa, Ia sudah begitu malu dan sejak tadi banyak orang yang berdiri di belakang Ye Chen.


Ada yang menahan ketawa, ada yang mukanya merah tapi ada juga yang seolah ingin memakan Ye Chen hidup-hidup.


Meliht bibi Xiao diam saja sambil menunduk, Ye menambahkan lagi dengan berkata.


"Oh sepertinya memang tidak ada, kalo bs ada tiga pesta sekaligus, ah pasti meriah sekali.


Akan aku minta penduduk desa membuat makanan yang banyak. Bibi tenang aku banyak uang, nanti semua aku yang tanggung"


"Eh Tapi harus cepat dicarikan bi, jangan sampai nona Xiao menjadi tambah tua. Padahal nona Xiao ini cantik, atau jangan-jangan tidak ada yang mau yah karena nona Xiao bau obat, hahaha... "


"Nah tahun depan, desa kita akan lebih ramai lagi dengan kedatangan bayi mungil, haha... aku akan bermain dengan mereka nanti," Ye Chen membayangkan apa yang Ia katakan. "Nah nanti kalian harus cepat-cepat jangan lama-lama. Kalau bibi mau, aku bisa meracik obat mujarab terutama untuk kakek, jangan- jangan nanti waktu malam ...


"Pagi pemimpin..." Ucap seseorang di belakang Ye Chen.


"Ya pagi juga," jawab Ye Chen singkat, tapi Ia langsung menoleh ke belakang saat Ia mengenal suara yang menyapanya. "Ketua Song? eh Qin Gang dan nona Ong.. Nona Xiao dan kalian semua, sejak kapan ada di sini.


Ye Chen mulai panik, tapi mukanya menunjukkan rasa tak bersalah.


"Sudah sejak tadi kami di sini pemimpin." Kata ketua Song yang sejak anda mulai menyantap hidangan di atas meja.


"Begitu melihat tuan muda kesini, kami memutuskan untuk kesini dan rapat di sini juga." Kata ketua Song lagi.


"Nona Xiao, anda... "


"Maksud anda aku sudah tua begitu, pemimpin?"


gluk..


"Aduh mati aku, dia marah.." Ucap Ye Chen dalam hati.


Ia bahkan tak sadar dari tadi Ia dipanggil pemimpin, panggilan yang tidak disukainya.


"Bibi Xiao, terima kasih makanannya yah." Ye Chen berkata sambil berbisik pelan.


"Langkah Angin ketiga.."


Diam-diam Ia mengaktifkan tehnik langkah angin ketiga.


"Aduh aku baru ingat, ada sesuatu yang harus aku lakukan di gedung alkemis." Belum hilang suaranya, Ye Chen sudah melesat pergi.

__ADS_1


Mereka yang tinggal hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ye Chen.


"Sebaiknya kita tunggu tuan muda di atas." Mari silahkan, Xiao Yun mempersilahkan dan memimpin jalan di depan.


__ADS_2