Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kaisar Setuju


__ADS_3

Bughh...


Sekali lagi Ye Chen memukul panglima muda, pukulan ini untuk melampiaskan kekesalannya.


"Heh panglima bodoh, bangun dan lihat itu!" bentak Ye Chen sambil menunjuk Kirin yang sudah tewas dengan sekujur tubuh penuh luka bakar dan bekas cambuk. "Apa kau mau mati dengan cara seperti itu?"


Kali ini panglima muda benar-benar ketakutan, "Tidak tuan Chen, maafkan aku, maafkan...." katanya sambil bersujud membenturkan keningnya di lantai yang dingin


"Sudah, sudah hentikan. Ingat, Jaga ucapanmu, aku tak suka diancam dan jika kau berani mengatakan apa yang terjadi di sini... Hm, aku tak akan peduli bahkan jika Paman yang meminta." Getaran suara Ye Chen yang dilambari kekuatan Qi itu membuat panglima muda benar-benar takluk.


"Aku berjanji, aku berjanji. Dan mulai sekarang, aku akan menjadi pengikut setia tuan, ah bukan senior Chen." ucap panglima muda dengan sungguh-sungguh.


"Kupegang kata-katamu."


Ye Chen membuka matanya, begitu juga dengan panglima muda. Yang pertama dilihatnya adalah Ye Chen yang duduk di dekat pembaringan, jika saja Ia bisa bangkit, pasti Ia sudah berlutut.


Berita panglima muda telah siuman tersebar luas, berikut dengan nama tuan Chen. Bagi masyarakat umum ini hanya berita biasa saja tapi tidak dikalangan prajurit, rasa bangga, kagum dan hormat terhadap Ye Chen menjadi bertambah. Andai saja mereka tau Ye Chen adalah raja Iblis, mungkin ceritanya akan lain.


Ye Chen kembali ke pondok, kaisar yang maklum karena mengira Ye Chen lelah dan ingin istirahat juga tidak memaksanya bertemu.


Baru pada keesokan harinya, Paman dan Ye Chen datang menghadap. Di sana hadir juga panglima muda yang telah pulih seperti sedia kala. Ia berdiri di samping Ye Chen.


"Hormat pada kaisar."


Teriak penjaga istana. Semua berlutut, kecuali Ye Chen yang tetap berdiri, Ia hanya mengangkat tangan dan mengepalkan tinjunya saja. Seorang raja Iblis tak akan pernah mau berlutut pada sembarang orang dan memang dari dulu Ye Chen tidak pernah mau berlutut. Kaisar dan semua yang hadir sedikit tidak senang dengan ini, kecuali Paman dan panglima muda. Tetapi karena kaisar membiarkannya saja, maka yang lain juga diam.


"Berdirilah." ucapnya lembut.


Seperti janji kaisar, Ye Chen dihadiahi harta, senjata dan lain sebagainya tapi Ye Chen menolak seperti saran Paman. Sampai tiba saat dimana kaisar mengatakan akan memberikan apapun yang Ye Chen minta, barulah Ye Chen berkata menginginkan wilayah yang menjadi medan perang itu.


Gila, ini sudah di luar batas, batin semua yang hadir. tak terkecuali panglima muda, Ia yang masih terus berdiri di samping Ye Chen memalingkan mukanya melihat Ye Chen. "Senior, anda terlalu berani." bisiknya.


Meminta sebuah wilayah kepada kaisar di alam Peri bisa dibilang sebuah hal yang tabu, dan Ye Chen ini bukan hanya meminta saja tapi Ia juga meminta penghapusan pajak selamanya.


Kaisar memandang tajam Ye Chen, tapi kemudian tersenyum. Ia telah bertitah dan tidak mungkin menariknya kembali. "Paman, dia adalah keponakanmu, apa permintaannya ini tidak melewati batas?" tanya kaisar.

__ADS_1


"Aku serahkan segala keputusan kepada paduka." jawab Paman.


"Panglima muda, bagaimana pendapatmu." tanya kaisar lagi.


"Ampun paduka, menurutku tidak masalah, aku telah menyelidiki daerah itu sampai ujung utara. Dan sepanjang yang aku tau, tempat itu sangat gersang karena menjadi sasaran pertama dari kawanan siluman."


"Bagaimana dengan kalian?" kaisar mengalihkan pertanyaan kepada para menteri yang hadir setelah mendengar jawaban panglima muda.


"Anak bodoh, apa kau yakin dengan semua yang kau lihat?" seorang dengan pakaian militer bertanya langsung kepada panglima muda.


"Ayah, aku tidak akan pernah berbohong." sahut panglima muda.


Menteri lain ikut bertanya dan meragukan ucapan panglima muda. "Bukankah di sana terdapat suku yang menjadi penghasil sumber daya tingkat tinggi?"


Panglima muda kembali menjawab bahwa suku itu sebagian besar telah tewas dan sisanya sudah pergi mengungsi.


"Anak Chen, aku belum bisa memutuskan masalah ini, tunggulah beberapa hari sampai aku menyetujuinya. Andai saja yang kau minta bukan sebuah wilayah." kata kaisar. Lalu pertemuan itu pun bubar.


Di pondok tengah hutan, Ye Chen yang penasaran akan status panglima muda bertanya pada Paman. Sepertinya posisinya cukup penting di istana tapi menghormati Paman yang hanya seorang pelindung istana dan yang kebetulan menjadi guru dari puteri Jia.


"Jadi begitu, pantas saja aku merasa auranya seperti aura tingkat Dewa." batin Ye Chen. "Oh ya paman, apa di sini ada banyak yang berada di tingkat Dewa?"


"Tingkat Dewa? aku rasa cukup banyak, kenapa? apa kau ingin mencoba kekuatan mereka?"


"Ah tidak Paman, mana mungkin aku sanggup." kilah Ye Chen, padahal dalam hati Ia sangat ingin bertemu dan kalau mungkin bertanding satu lawan satu.


"Perlu kau tau, panglima muda adalah salah satu pria yang mengejar puteri Jia."


Ye Chen tidak menanggapi ini, menurutnya sah-sah saja. Puteri Jia memang cantik dan anggun jadi sangat wajar banyak pria berbakat yang mengejarnya.


Hari berlalu, waktu yang kaisar janjikan telah tiba. Ketika datang menghadap, Ye Chen dan Paman tersenyum puas karena kaisar mengizinkan permintaan Ye Chen. Tapi dengan syarat harus ada orang istana yang ikut mengurus wilayah itu dan Paman mengajukan diri. Sejak puteri Jia belajar di akademi Langit, Ia jadi tak memiliki pekerjaan tetap sehingga sangat cocok untuk mengurus wilayah baru itu.


Kaisar juga memberikan perintah kepada panglima muda untuk ikut bersama sebagai orang militer sekaligus ikut mengawasi Ye Chen jangan sampai membuat pasukan sendiri dan akhirnya memberontak.


Ye Chen sendiri tidak masalah, malah Ia bersedia menerima beberapa orang dari prajurit untuk ikut tinggal bersama untuk menghilangkan keraguan pihak istana.

__ADS_1


Hari berikutnya berangkatlah Ye Chen ditemani Paman dan panglima muda dengan di dampingi oleh sekitar seratus prajurit. Prajurit ini adalah yang ikut dalam perang melawan siluman dan secara sukarela menawarkan diri.


"Oh jadi ini adalah wilayah suku Ibu? benarkah itu Paman?" Ye Chen baru tau alasan sebenarnya Paman menyuruhnya Ye Chen meminta wilayah itu. Paman sangat yakin kaisar menyetujuinya, karena wilayah itu sudah rusak parah.


Wilayah itu terbentang luas sampai ke bagian utara yang dingin, hanya ada sisa-sisa bangunan yang menandakan dulunya di situ pernah ada sebuah perkampungan.


"Ibu... aku datang, lihatlah anakmu ini, aku datang mengunjungi rumahmu, tempat tinggalmu."Ye Chen berdiri seorang diri memandang langit malam, matanya berkaca-kaca mengingat bayangan Ibunya yang tak pernah Ia lihat.


"Ibu, apakah kau juga melihatku? apakah kau juga merasakan getirku? Ibu, betapa banyak yang ingin aku ceritakan."


Malam dan siang datang silih berganti namun aku masih merindukanmu


Waktu berlalu dan usia kian bertambah namun aku masih tetap mengharapkanmu


Ibu, bilakah engkau mengusap kepalaku?


Ibu, betapa ingin hati ini berkeluh kesah, sambil bersandar di pangkuanmu


Betapa ingin mata ini terpejam di bawah senandungmu


Ibu, tenanglah kau di sana.


Percayalah...


anakmu ini tidak akan membuatmu kecewa


Anakmu tidak akan membuatmu berduka


Anakmu akan membuatmu bangga karena telah menuntunku ke dunia ini


Terima kasih


Ibu...


Tanpa Ye Chen sadari, kerinduan hatinya yang Ia ucapkan dengan segenap rasa membuat Paman dan yang lain yang mendengarnya ikut terbawa.

__ADS_1


__ADS_2